Marketing Politik

Rudi Amsakar

Berbicara tentang politik, baik dalam ranah keilmuan maupun politik praktis, maka tidak akan dapat meninggalkan apa yang namanya marketing politik (political marketing).

Prijanto Rabbani

Sebagai subjek akademis, perkembangan marketing politik dimulai dari Amerika Serikat (Braine et al, 1999). Dari waktu ke waktu penekanan definisi pemasaran politik mengalami perubahan: Sharma (1975) & Kotler (1982) memberikan penekanan pada proses transaksi yang terjadi antara pemilih dan kandidat. Selanjutnya O’Leary & Iradela (1976) menekankan penggunaan marketing-mix untuk mempromosikan partai-partai politik. Kemudian, Lock dan Harris (1996) mengusulkan agar political marketing memperhatikan proses segmentation, targeting, dan positioning. Sedangkan Wring (1997) menekankan penggunaan riset opini dan analisis lingkungan.

Perdebatan yang tak pernah usai tersebut dikarenakan marketing politik merupakan persinggungan antara ilmu marketing dan politik yang ujungnya berdampak kepada pro dan kontra.

Padahal, sejatinya marketing politik telah dilakukan tidak hanya di negara-negara Amerika dan Eropa. Faktanya, marketing politik praktiknya telah diterapkan di Indonesia. Marketing politik dilihat sebagai kebutuhan ketimbang sebagai suatu polemik sosial dan politik.

Urgensi Marketing Politik

Marketing politik atau political marketing adalah serangkaian aktivitas terencana, strategis dan praktis dalam menyebarkan makna politik kepada pemilih untuk mensukseskan kandidat atau partai politik dengan segala aktivitas politiknya yang dilakukan dengan metode atau pendekatan pemasaran dalam menghadapi persaingan dan memperebutkan pasar melalui saluran-saluran komunikasi tertentu dengan tujuan mengubah wawasan, pengetahuan, sikap dan perilaku calon pemilih secara efektif dan efisien.

Menurut Firmanzah (2008), paradigma dari konsep marketing politik adalah; Pertama, Marketing politik lebih dari sekedar komunikasi politik.

Kedua, Marketing politik diaplikasikan dalam seluruh proses, tidak hanya terbatas pada kampanye politik, namun juga mencakup bagaimana memformulasikan produk politik melalui pembangunan simbol, image, platform dan program yang ditawarkan.

Ketiga, Marketing politik menggunakan konsep marketing secara luas yang meliputi teknik marketing, strategi marketing, teknik publikasi, penawaran ide dan program, desain produk, serta pemrosesan informasi.

Keempat, Marketing politik melibatkan banyak disiplin ilmu, terutama sosiologi dan psikologi. Kelima, Marketing politik dapat diterapkan mulai dari pemilu hingga lobby politik di parlemen.

Nursal Adman (2004) mengkategorikan tiga strategi yang dapat dilakukan oleh partai politik atau kandidat politik untuk mencari dan mengembangkan dukungan selama proses kampanye politik. Tiga strategi yang dimaksud adalah:

Pertama, Push Marketing adalah penyampain produk politik secara langsung kepada para pemilih. Produk politik berusaha mendapatkan dukungan melalui stimulan berupa sejumlah alasan rasional dan emosional kepada pasar politik untuk memotivasi dan bersedia mendukung kontestan. Produk politik disampaikan kepada pasar politik yang meliputi media massa dan influencer group (kelompok berpengaruh) sebagai pasar perantara, dan para pemilih sebagai pasar tujuan akhir.

Kedua, Pass Marketing menggunakan individu maupun kelompok yang dapat memengaruhi opini pemilih. Sukses tidaknya penggalangan massa akan sangat ditentukan oleh pemilihan para influencer. Semakin tepat influencer yang dipilih, efek yang diraih pun menjadi semakin besar dalam memengaruhi pendapat, keyakinan dan pikiran publik.

Ketiga, Pull Marketing menitikberatkan pada pembentukan image politik yang positif. Robinowitz dan Mac Donald menganjurkan bahwa supaya simbol dan image politik dapat memiliki dampak yang signifikan, kedua hal tersebut harus mampu membangkitkan sentimen. Pemilih cenderung memilih partai politik atau kontestan yang memiliki arah yang sama dengan apa yang mereka rasakan.

Marketing politik diyakini mampu menjawab kebutuhan strategi yang dapat menghasilkan kemenangan dalam pemilu. Dalam iklim politik yang penuh dengan persaingan terbuka, kontestan memerlukan suatu metode yang dapat memfasilitasi mereka dalam memasarkan inisiatif politik, gagasan politik, isu politik, ideologi, karakteristik calon, serta program kerja pada masyarakat.

Namun, sering kali kita melihat dalam praktek marketing politik yang dilakukan oleh partai politik atau kandidat yang maju dalam kontestasi politik sifatnya “ujug-ujug” langsung berujung pada kampanye tanpa melihat segmen pemilih yang dituju.

Kandidat atau partai politik lebih memilih jalan pintas tanpa memiliki strategi pemasaran politik yang memadai. Sehingga hasilnya tidak optimal, dikarenakan cara dan strategi kampanye atau kerja-kerja politik yang dilakukan tidak tepat sasaran.

Catatan Akhir

Kegunaan marketing politik sebenarnya tidak hanya pada masa pemilu. Sepanjang berlangsungnya sistem politik di sebuah negara, marketing politik dapat digunakan organisasi politik dan pelaku politik untuk berproses dalam komunikasi politik yang tengah berlangsung.

Sedemikian penting penggunaan marketing politik dalam aktivitas politik dan bernegara.

***

BAGIKAN