Malaysia Berencana Batasi Pembelian Bensin RON95

Harga bensin malaysia
Foto: Straits Times

Ekonom memperingatkan rencana pembatasan pembelian bensin RON95 bisa memicu panic buying. Ancaman sebenarnya justru lonjakan harga minyak global.

MALAYSIA (gokepri) – Di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Malaysia, kekhawatiran tentang krisis energi mulai terdengar dalam percakapan sehari-hari. Konflik yang memanas di Timur Tengah, terutama setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, menimbulkan pertanyaan yang sama di banyak negara: apakah pasokan bahan bakar akan tetap aman?

Pemerintah Malaysia kini menghadapi dilema. Di satu sisi, ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Di sisi lain, langkah pembatasan pembelian bensin justru berisiko memicu kepanikan publik.

HBRL

Baca Juga: 

Sejumlah ekonom di negara itu memperingatkan agar pemerintah Malaysia berhati-hati jika ingin membatasi pembelian bensin bersubsidi jenis RON95. Kebijakan administratif seperti pembatasan volume pembelian, menurut mereka, justru dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Chief Economist Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai opsi untuk menjaga ketahanan energi tanpa menimbulkan gejolak di masyarakat. “Setiap langkah yang diambil tidak boleh terlalu membatasi,” kata Afzanizam, dikutip dari The Star.

Ia menjelaskan Malaysia memang memiliki produksi minyak mentah sendiri, tetapi masih sangat bergantung pada impor produk minyak olahan. Kondisi ini membuat negara tersebut tetap rentan terhadap gangguan pasokan global.

Menurut data yang ia sampaikan, sekitar 13,5 persen impor produk minyak olahan Malaysia berasal dari Timur Tengah. Namun jalur pasokan sebenarnya lebih kompleks.

Sebagian besar bahan bakar Malaysia justru datang dari negara pengolah minyak seperti Singapura, Korea Selatan, dan China, yang masing-masing menyumbang 39,5 persen, 11,5 persen, dan 10,2 persen dari total impor. Negara-negara tersebut, pada gilirannya, juga mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar dari Timur Tengah.

Sebagai contoh, Singapura memperoleh sekitar 37,3 persen impor minyaknya dari kawasan tersebut. Rantai pasok ini menunjukkan bahwa gangguan produksi atau distribusi minyak di Timur Tengah dapat memengaruhi Malaysia secara tidak langsung.

Krisis terbaru bermula setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Ketegangan yang meningkat membuat jalur pelayaran energi global di Selat Hormuz terganggu.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu merupakan salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut setiap hari.

Korps Garda Revolusi Iran bahkan mengancam tidak akan membiarkan “satu liter pun minyak keluar dari kawasan” jika serangan terhadap Iran terus berlanjut.

Ancaman tersebut sempat mendorong harga minyak dunia melonjak di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel, meskipun kenaikan itu tidak berlangsung lama. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak kembali bergerak di kisaran 80 hingga 90 dolar per barel.

Di tengah ketidakpastian ini, muncul wacana di Malaysia untuk membatasi pembelian bensin bersubsidi RON95 sebagai langkah antisipasi. Namun ekonom memperingatkan kebijakan semacam itu dapat menciptakan efek berantai yang justru memperburuk situasi.

Kepala Eksekutif Centre for Market Education, Carmelo Ferlito, mengatakan pembatasan administratif terhadap pembelian bahan bakar sering kali menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan. “Saya akan berhati-hati dengan kebijakan seperti membatasi berapa banyak bahan bakar yang dapat dibeli konsumen,” kata Ferlito.

Menurut dia, pembatasan semacam itu sering memicu panic buying, penimbunan, serta distorsi dalam rantai pasokan. Dalam banyak kasus, kebijakan tersebut justru memperparah kekurangan yang ingin dihindari. “Bahkan dapat mendorong munculnya pasar gelap,” ujarnya.

Ferlito menilai risiko utama yang dihadapi Malaysia saat ini bukanlah kekurangan fisik bahan bakar dalam waktu dekat, melainkan tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia.

Pemerintah Malaysia sejauh ini masih mempertahankan harga bensin RON95 di RM1,99 per liter, meskipun harga minyak global meningkat akibat ketegangan geopolitik. Namun kebijakan subsidi tersebut dapat menjadi beban jika harga minyak melonjak lebih tinggi.

Ekonom Geoffrey Williams mengatakan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memperketat pasokan minyak dunia dalam beberapa bulan ke depan. “Jika penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga satu bulan atau lebih, maka akan terjadi kekurangan pasokan,” kata Williams.

Meski demikian, ia mencatat bahwa kenaikan harga minyak sejauh ini masih relatif moderat dibandingkan krisis energi sebelumnya.

Lonjakan harga di atas 100 dolar per barel hanya terjadi dalam waktu singkat. Saat ini pasar masih bergerak di kisaran 80 hingga 90 dolar per barel.

Namun jika harga minyak melonjak hingga 125 dolar per barel, seperti yang pernah terjadi dalam krisis energi sebelumnya, mempertahankan tingkat subsidi saat ini akan menjadi sangat sulit bagi pemerintah.

Dalam situasi seperti itu, pemerintah kemungkinan harus mempertimbangkan reformasi kebijakan energi. Salah satunya adalah subsidi bertingkat atau pengurangan subsidi bagi kelompok berpenghasilan tinggi.

Sementara itu, Afzanizam menilai langkah paling realistis saat ini adalah mengurangi konsumsi bahan bakar tanpa memicu kepanikan publik. Salah satu caranya dengan mendorong pola kerja fleksibel dan mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Menurut data yang ia sampaikan, pendaftaran kendaraan listrik di Malaysia melonjak 105,7 persen pada tahun lalu, mencapai 44.813 unit.

Tren tersebut menunjukkan respons masyarakat yang cukup kuat terhadap teknologi transportasi baru. “Memperpanjang insentif kendaraan listrik dapat membantu menurunkan konsumsi bahan bakar secara keseluruhan,” kata Afzanizam. THE STAR/ASIA NEWS NETWORK

Baca Juga: Polda Kepri Bongkar Lagi Jaringan Vape Etomidate Malaysia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait