Batam (gokepri.com) – Target produksi lifting minyak dan gas nasional meleset dari target sepanjang kuartal pertama 2021. Masalah teknis di sumur dan penundaan proyek LNG menjadi penyebab.
Data pencapaian lifting migas itu diumumkan SKK Migas pada Senin 26 April 2021. Lifting migas nasional selama Januari hingga Maret 2021 sebanyak 676.200 barel per hari sehingga ada jarak dari target sekitar 25.000 barel. Target lifting pada periode itu sebanyak 705.000 barel per hari.
“Memang saat ini kita realisasinya sekitar 680 [608.000 barel per hari] dan target 705 [705.000 bph] jadi 20.000 dengan 10.000 dari Pertamina EP next-nya dari Mobil Cepu di mana Mobil Cepu terjadi kenaikan air yang melebihi dari ekspektasi kita di awal sehingga perbendaan gap produksi dari target APBN sekitar 6.000 kemudian yang lain-lain sehingga total 25.000 gap saat ini,” katanya, Senin (26/5/2021).
Capaian lifting migas tersebut karena karena rasio air yang lebih tinggi di beberapa sumur minyak dan penundaan investasi di beberapa proyek migas karena gangguan COVID-19 tahun lalu,.
Untuk lifting gas alam pada kuartal pertama mencapai 5.539 juta kaki kubik per hari (mmcfd), turun dari target 5.638 mmcfd.
“Celah (lifting) gas terbesar ada di BP Tangguh, karena pada saat APBN dirancang, diasumsikan Tangguh 3 akan on-stream pada 2021,” ujarnya. “Sekarang telah bergeser ke akhir tahun atau awal 2022.”
Dimulainya operasi proyek Train 3 di kilang Tangguh LNG BP ditunda lagi karena pembatasan tenaga kerja diterapkan sebagai tindakan pencegahan selama pandemi virus corona.
Tapi SKK Migas mempertahankan prospek lifting tahun ini karena investasi di sektor hulu minyak dan gas akan pulih. Pada 2021, SKK memperkirakan investasi USD12,4 miliar, naik dari USD10,5 miliar pada 2020.
Kuartal terakhir, Indonesia menjual 46,2 kargo LNG standar, 29,3 di antaranya diekspor. (Can)









