BATAM (gokepri) – Ledakan dini hari di galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batam, menewaskan sepuluh pekerja dan melukai delapan belas lainnya. Insiden yang terjadi sekitar pukul 04.00 WIB itu menjadi kecelakaan kerja kedua di kapal yang sama dalam tahun ini.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kepulauan Riau, Dicky Wijaya, menyebut peristiwa ini sebagai musibah besar yang tak bisa dianggap sepele. “Kami sangat menyayangkan kejadian ini, apalagi jumlah korban meninggal cukup banyak dibandingkan sebelumnya,” ujarnya, Rabu (15/10).
Pemerintah daerah, kata Dicky, telah berkoordinasi dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan seluruh korban mendapat haknya. Proses pendataan masih berlangsung agar penyaluran santunan bisa segera dilakukan. “Semua korban akan ditanggung BPJS Ketenagakerjaan,” kata Dicky.
Sebagian korban luka berat kini dirawat di sejumlah rumah sakit, sementara jasad korban meninggal telah dibawa ke RS Bhayangkara untuk autopsi.
Dinas Tenaga Kerja juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengusut penyebab ledakan. Dicky mengingatkan kejadian serupa pernah terjadi di galangan yang sama pada pertengahan tahun lalu, dan kala itu sudah ada tersangka termasuk tenaga ahli K3. “Ini bukan kali pertama. Dulu sudah pernah terjadi dan sudah ada tersangkanya, termasuk ahli K3. Kejadian ini harus diusut tuntas,” ujarnya.
Dicky membuka kemungkinan penutupan sementara operasional PT ASL selama proses investigasi berlangsung. Ia menegaskan pemerintah tak akan menoleransi praktik kerja yang mengabaikan keselamatan, termasuk sistem subkontraktor yang dinilai rawan pelanggaran. “Kami akan periksa semuanya, termasuk pemilik perusahaan. Jangan sampai ada kelalaian yang disebabkan oleh sistem kerja asal-asalan,” kata dia.
Ledakan berulang di PT ASL memperlihatkan rapuhnya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di industri perkapalan Batam. Disnaker Kepri berjanji menindak tegas pihak yang terbukti lalai. “Ini sudah jadi musibah nasional karena menelan banyak korban,” ujar Dicky.
Pemerintah daerah berharap investigasi kali ini tidak berhenti pada pencarian kambing hitam, tetapi menjadi momentum memperketat pengawasan terhadap standar K3 di seluruh galangan kapal di Kepulauan Riau.
Diberitakan sebelumnya, kecelakaan kerja kembali terjadi di galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batam, Rabu, 15 Oktober 2025. Ledakan di kapal Federal II menewaskan sepuluh pekerja dan melukai delapan belas orang lainnya.
Insiden terjadi sekitar pukul empat dini hari. Suara ledakan terdengar hingga beberapa kilometer, disusul kobaran api dari bagian tangki kapal. Korban langsung dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di Batam. Sebagian besar menderita luka bakar berat dan trauma akibat ledakan.
Kapolda Kepulauan Riau, Irjen Polisi Asep Safrudin, mengatakan penyebab kecelakaan masih diselidiki oleh tim gabungan dari Polresta Barelang dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kepri. “Tim sedang bekerja di lapangan. Nanti akan diketahui apa penyebab ledakan itu,” ujar Asep.
Dari 28 korban, sepuluh dinyatakan meninggal dunia. Delapan belas lainnya masih dirawat intensif di tiga rumah sakit berbeda. Empat korban luka berat dirawat di ruang ICU. Sementara korban meninggal akan diautopsi di RS Bhayangkara Batam.
Asep mengonfirmasi bahwa kapal yang meledak kali ini merupakan kapal yang sama dengan insiden serupa beberapa bulan lalu. “Benar, kapal yang sama,” ujarnya singkat.
Kapolda menegaskan, jika dalam penyelidikan ditemukan unsur kelalaian yang menyebabkan korban jiwa, polisi akan memproses hukum pihak terkait. “Apabila ditemukan adanya unsur kelalaian yang mengakibatkan orang meninggal dunia, maka akan kami proses sesuai hukum,” kata Asep.
Ledakan berulang di kapal Federal II memperkuat dugaan lemahnya sistem keselamatan kerja di galangan milik PT ASL. Hingga berita ini diterbitkan, pihak perusahaan belum memberikan keterangan resmi. Gokepri masih berupaya menghubungi manajemen ASL Shipyard.
Baca Juga: Dua Petugas HSE Subkontraktor Jadi Tersangka Kebakaran Kapal MT Federal II
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








