Saat Kuliner Menjadi Alasan Wisman Datang ke Indonesia

Kuliner Kepri
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kepri Dewi Kumalasari Ansar secara langsung membuka acara Kepri Malay Food Festival 2025 di Laman Gurindam XII Tugu Sirih Tanjungpinang, Sabtu (29/11). Dok. Pemprov Kepri

Kuliner menarik lebih dari separuh wisman. Pemerintah ingin mengubahnya menjadi kekuatan pariwisata.

JAKARTA (gokepri) – Sebanyak 58,34 persen wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada 2025 mencicipi kuliner atau gastronomi lokal. Makanan bisa menjadi pintu masuk wisatawan mengenal budaya sekaligus peluang ekonomi bagi pelaku usaha di daerah.

Data Badan Pusat Statistik tersebut menjadi salah satu alasan Kementerian Pariwisata mendorong gastronomi sebagai bagian penting dari pengalaman berwisata. Pemerintah tidak lagi melihat makanan sebatas menu yang disantap wisatawan, tetapi sebagai cerita tentang asal-usul, tradisi, bahan pangan, dan kehidupan masyarakat setempat.

Baca Juga: Nikmati Sensasi Kuliner Homemade Premium dan Hangout Elegan di Grand Mercure Batam Centre

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan kekayaan gastronomi Indonesia berakar pada keragaman budaya dan kondisi geografisnya. Dengan lebih dari 17 ribu pulau, setiap daerah memiliki tradisi pangan yang tumbuh dari hasil pertanian, perikanan, peternakan, serta kebiasaan masyarakat selama berabad-abad.

“Salah satu aset terbesar Indonesia sebagai destinasi wisata yaitu warisan gastronomi yang begitu kaya dan berakar kuat pada budaya masyarakat,” ujar Widiyanti dalam konferensi pers Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 di Jakarta, Selasa 15 September 2026.

Konsep gastronomi membuat perjalanan kuliner tidak berhenti pada rasa makanan. Wisatawan juga diajak memahami dari mana bahan berasal, siapa yang mengolahnya, tradisi apa yang menyertainya, hingga cerita budaya yang membuat sebuah hidangan berbeda dari daerah lain.

Cara pandang itu penting karena Indonesia sedang mengejar pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara. Sepanjang Januari-Juli 2026, jumlah wisman mencapai 8,98 juta orang, sedangkan Kementerian Pariwisata menargetkan 16-17 juta kunjungan sepanjang tahun.

Di tengah persaingan destinasi wisata global, kuliner menawarkan alasan tambahan bagi wisatawan untuk datang ke suatu daerah. Orang yang tertarik pada makanan khas tertentu bisa menjadikan hidangan itu sebagai tujuan perjalanan, lalu mengenal tempat, budaya, dan aktivitas lain di sekitarnya.

Bp batam banner link sep 2027

Kementerian Pariwisata bersama Indonesia Gastronomy Network kemudian mengembangkan Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 untuk memperbesar eksposur kuliner Indonesia di pasar global. Tema tahun ini, “From Local Roots to Global Recognition”, menempatkan akar budaya lokal sebagai bahan utama untuk membangun pengalaman wisata yang lebih modern.

Rangkaian utama WIG 2026 berlangsung di Solo dan Yogyakarta pada 26 September-4 Oktober 2026. Program tersebut mengangkat asal-usul bahan dan hidangan, kearifan lokal, tradisi, filosofi makanan, hingga cara menerjemahkan warisan tersebut menjadi pengalaman gastronomi masa kini.

Bagi pemerintah, kekuatan gastronomi juga terletak pada rantai ekonomi yang panjang. Di balik satu hidangan terdapat petani, nelayan, peternak, produsen bahan pangan, juru masak, pedagang, pemilik usaha, serta masyarakat yang mempertahankan tradisi makanan.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini melihat besarnya aktivitas kuliner wisman sebagai peluang bagi pelaku usaha kecil. “Ini bukan saja menarik wisatawan mancanegara untuk datang, tetapi juga langsung mengenai UMKM-UMKM,” kata Made.

Pemerintah karena itu mencoba membawa kuliner lebih dekat dengan ruang konsumsi wisatawan sehari-hari. Kementerian Pariwisata berkolaborasi dengan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), antara lain melalui festival kuliner di pusat perbelanjaan yang menawarkan beragam makanan Indonesia.

Strategi tersebut menyasar kebiasaan wisatawan yang tidak selalu mencari restoran khusus ketika bepergian. Pujasera di pusat belanja, misalnya, bisa menjadi ruang sederhana untuk memperkenalkan makanan Indonesia sekaligus mendorong wisatawan membelanjakan uangnya lebih banyak selama berada di destinasi.

“Kalau di mal itu pujaseranya rata-rata makanan Indonesia, itu salah satu cara,” ujar Made.

Namun, mengandalkan kekayaan kuliner saja tidak cukup untuk menjadikannya daya tarik wisata berkelas global. Hidangan lokal harus mampu memenuhi selera wisatawan yang terus berubah, sekaligus mempertahankan identitas yang membuat makanan tersebut memiliki cerita.

Ketua Indonesia Gastronomy Network Vita Datau melihat tren wisata kuliner kini bergerak menuju pencarian hidangan berkualitas. Preferensi wisatawan juga semakin terfragmentasi karena pilihan mereka dapat terbentuk dari selera pribadi dan rekomendasi yang mereka temukan di media sosial.

Generasi Z dan milenial ikut mempercepat perubahan itu dengan membagikan pengalaman kuliner mereka secara digital. Sebuah makanan khas daerah dapat menarik perhatian orang dari luar daerah ketika konten tentang rasa, keunikan, atau pengalaman menyantapnya menyebar di media sosial.

“Misalnya ia suka makanan pedas, dia akan mengarah pada makanan Manado,” kata Vita.

Perubahan perilaku tersebut membuat pendampingan terhadap pelaku usaha menjadi bagian penting dari strategi gastronomi. Pelaku UMKM perlu meningkatkan kualitas produk agar mampu memenuhi ekspektasi wisatawan tanpa kehilangan karakter lokal yang justru menjadi daya tarik utamanya.

Vita meminta pemerintah memberi pendampingan agar usaha kuliner dapat naik kelas dan kuliner menjadi bagian dari atraksi wisata. Dengan begitu, wisatawan tidak sekadar membeli makanan ketika tiba di Indonesia, tetapi punya alasan untuk mencari makanan tertentu dan mendatangi daerah asalnya. ANTARA

Baca Juga: Bisnis Kuliner Singapura Berguguran, Apa yang Terjadi?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait