LINGGA (gokepri.com) – Tim Satuan Tugas (Satgas) Halal dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tengah melakukan pendampingan sertifikasi halal untuk produk sagu di Kabupaten Lingga. Langkah ini bertujuan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.
Koordinator Pendampingan sekaligus Sekretaris Satgas Halal Kepri, Titik Hindon, menyampaikan bahwa pendampingan ini merupakan tindak lanjut dari sosialisasi sebelumnya.
“Kami turun langsung untuk mendampingi pelaku usaha pengolahan sagu di lapangan, memastikan proses sertifikasi berjalan sesuai rencana,” ujar Titik di Lingga, Senin 21 Oktober 2024.
Baca Juga: Gubernur Ansar Salurkan Bantuan Rp2,58 Miliar di Daik Lingga
Sebanyak 150 pelaku usaha sagu dari berbagai desa di Lingga, seperti Daik Sepincan, Merawang, Musai, hingga Teluk, menjadi fokus utama pendampingan. Desa lain seperti Duara, Rantau Panjang, dan Resun Pesisir dijadwalkan akan mendapat pendampingan pada akhir Oktober 2024.
“Kami ingin mempercepat sertifikasi halal untuk produk-produk UMKM di Lingga, terutama sagu, agar mereka bisa lebih kompetitif di pasar global,” lanjutnya.
Titik juga menyoroti tantangan yang dihadapi, terutama dalam menjangkau pelaku usaha di wilayah terpencil.
“Lingga memiliki banyak pulau kecil, sehingga akses menjadi kendala utama. Namun, meskipun medannya sulit, tim kami tetap menjalankan tugas dengan baik,” tambahnya.
Program pendampingan sertifikasi ini juga merupakan bagian dari kampanye Wajib Halal Oktober (WHO) 2024 yang sejalan dengan upaya pemerintah menjadikan Indonesia pusat produk halal dunia.
Secara terpisah, Budayawan Kepri, Rida K Liamsi, mengungkapkan bahwa sagu asal Lingga memiliki kualitas terbaik di dunia. Berbeda dengan sagu dari daerah lain seperti Selat Panjang dan Papua, sagu Lingga dikenal karena warnanya yang putih bersih.
“Produk sagu dari Lingga sangat melimpah, bahkan banyak kuliner lokal yang menggunakan sagu sebagai bahan utama, seperti gubal,” kata Rida.
Ia juga menambahkan bahwa sejarah produksi sagu di Lingga sudah dimulai sejak era Kesultanan Badrul Alamsyah II pada abad ke-19, di mana sagu dari pabrik Gunung Daek menjadi produk ekspor unggulan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








