KEK Pariwisata Kesehatan, Sanur dan Batam Jadi Andalan

KEK Pariwisata Kesehatan
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan potensi wisata kesehatan yang sedang berkembag dalam acara International Conference of Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta, Kamis (12/6/2025). ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti

JAKARTA (gokepri) – Pemerintah melihat infrastruktur sebagai kunci pengembangan wisata tematik, khususnya kesehatan dan kebugaran, di Indonesia. Dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Kesehatan, Sanur dan Batam, diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi dan kesejahteraan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan lonjakan permintaan akan pariwisata kesehatan dan kebugaran menjadi dasar bagi Pemerintah Indonesia untuk membangun dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) khusus: Sanur Special Economic Zone di Bali dan Batam International Health and Tourism Special Economic Zone di Kepulauan Riau. Hal ini disampaikannya dalam acara International Conference of Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta, Kamis (12/6/2025).

Widiyanti menjelaskan, KEK Sanur telah mengamankan investasi sebesar Rp4,25 triliun hingga saat ini dan diharapkan mampu memberikan pemasukan negara lebih dari Rp20 triliun pada tahun 2045. Sementara itu, KEK Batam International Health and Tourism diproyeksikan berkontribusi sebesar 1,03 persen atau sekitar Rp18,8 triliun pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Batam, serta menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 105 ribu pekerja.

“Berbagai zona ekonomi khusus ini dirancang untuk memberikan layanan kesehatan terintegrasi dalam setting pariwisata. Jika dikembangkan dengan baik, mereka bisa membantu meningkatkan pembelanjaan domestik,” kata Widiyanti. Ia menambahkan, wisatawan mancanegara kini sangat memperhatikan aspek kesehatan dan mencari pengalaman yang autentik, melibatkan budaya, tradisi, serta alam lokal.

Indonesia, menurut Widiyanti, memiliki semua yang diperlukan untuk bersaing dalam industri pariwisata kesehatan. Pemerintah juga telah menjalin proyek dengan mitra bisnis dari negara lain, termasuk Jepang, untuk menarik investor guna mengembangkan pasar ini. Proyek-proyek tersebut mencakup spa Indonesia dan fasilitas tempat tinggal lansia, yang telah menarik minat besar dari berbagai investor, termasuk perusahaan medis. Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kesehatan pun telah berkolaborasi menyusun panduan wisata kesehatan yang tertuang dalam *tourism guideline*.

Senada, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan potensi Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 84 miliar dolar AS (sekitar Rp1.362 triliun) dari pariwisata kesehatan di Indonesia, menjadikannya peluang besar bagi investor. Budi menyoroti bahwa publik menghabiskan uang untuk menjaga kesehatan. Ia mencontohkan, warga Indonesia dengan usia rata-rata 70 tahun dapat menghabiskan sekitar 140 dolar AS (Rp2,3 juta) per tahun untuk kesehatan.

Dengan populasi yang semakin menua, pengeluaran total ini diperkirakan mencapai 40 miliar dolar AS (Rp648 miliar) dan akan terus meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, Budi menekankan pentingnya menciptakan pariwisata kesehatan domestik untuk memanfaatkan potensi tersebut, mengingat banyaknya dana masyarakat Indonesia yang dikeluarkan untuk layanan kesehatan di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat, yang mencapai sekitar 10 miliar dolar AS. ANTARA

Baca Juga: Kolaborasi Mayapada-Apollo Hadirkan RS Internasional di Batam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait