KEK dan Infrastruktur Modern, Strategi Batam Tarik Investasi Rp115 Triliun

Investasi Batam
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto yang saat itu masih menjabat Menteri Pertahanan ke PT Volex Indonesia di Sekupang, Batam, 4 Agustus 2024. Tampak hadir Kepala BP Batam ex-officio Wali Kota Batam Muhammad Rudi, Hashim Djojohadikusumo, dan Nathaniel Philip Rothschild. Foto: BP Batam

BATAM (gokepri) — Badan Pengusahaan (BP) Batam menjadikan peningkatan investasi dan pengembangan kawasan strategis sebagai jurus andalan mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025.

Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, memasang target investasi Batam sebesar Rp115 triliun per tahun. Angka ini sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto agar ekonomi Indonesia melesat hingga 8 persen.

“BP Batam bertugas menjadikan Batam sebagai magnet investasi di Indonesia. Dengan sejumlah rencana yang disiapkan, saya optimistis ekonomi Batam akan kembali tumbuh di atas 7,04 persen,” ujar Rudi di Batam, Rabu, 11 Desember 2024.

Menurut Rudi, investasi rata-rata Rp115 triliun per tahun penting bagi Batam untuk mengatrol perekonomian nasional mencapai target 8 persen.

Baca Juga:
Susiwijono: Xinyi Tetap Berkomitmen Investasi di PSN Rempang

Demi mencapai target itu, BP Batam memprioritaskan pengembangan sejumlah sektor. Di antaranya, pengembangan terminal kargo di Bandara Hang Nadim, modernisasi Pelabuhan Batuampar, serta pembangunan infrastruktur jalan koridor utama. Langkah ini bertujuan memposisikan Batam sebagai hub logistik internasional.

BP Batam juga berupaya memaksimalkan kinerja Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park (NDP) dan KEK Batam Aero Technic di Bandara Hang Nadim. “Ada pula KEK Kesehatan yang fokus pada pariwisata kesehatan terintegrasi. Langkah-langkah ini diharapkan memberi nilai tambah bagi Batam sehingga investasi terus mengalir,” imbuh Rudi.

Di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memaparkan skenario pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Target ambisius ini berkaca pada capaian Indonesia pada 1995, saat pertumbuhan ekonomi sempat menyentuh 8,2 persen.

“Bapak Presiden berharap Indonesia bisa tumbuh 8 persen. Beberapa negara lain juga menargetkan angka serupa, termasuk Vietnam yang kini mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen,” kata Airlangga dalam acara Bisnis Indonesia Economic Outlook 2025, Selasa pekan ini.

Airlangga merinci, konsumsi, investasi, dan ekspor akan menjadi tiga pilar utama. Pemerintah mematok target pertumbuhan konsumsi stabil di kisaran 5-6 persen, investasi melaju 10 persen, dan ekspor terdongkrak 9 persen. Sejumlah sektor juga diproyeksikan menjadi lokomotif pertumbuhan, seperti manufaktur (terutama melalui hilirisasi industri), jasa dan pariwisata, ekonomi digital, ekonomi hijau, semikonduktor, serta konstruksi dan perumahan.

“Kita juga memacu sektor manufaktur, ekspor sumber daya alam—baik hilirisasi maupun kelapa sawit—serta manufaktur itu sendiri, termasuk otomotif,” ujarnya.

Baca Juga:
Peluang Hilirisasi Silika dan Ekosistem Panel Surya di Rempang Eco City

Namun, Airlangga mengakui tantangan utama terletak pada peningkatan produktivitas dan optimalisasi investasi. Dengan porsi investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini 30,5 persen dan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di angka 6,5, pertumbuhan ekonomi masih berkutat di kisaran 5 persen.

“Jika produktivitas dapat didongkrak dan pembangunan infrastruktur terintegrasi dengan daerah produksi, kita bisa menekan ICOR,” jelasnya.

Pemerintah juga mendorong investasi padat karya dan padat modal (capital deepening), serta menggenjot alokasi dana untuk riset, teknologi, dan inovasi sebagai strategi menekan ICOR. Dengan sederet langkah ini, Airlangga optimistis Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, Airlangga menyinggung pengembangan KEK sebagai salah satu instrumen mengejar target pertumbuhan 8 persen. Gelontoran investasi dan geliat industri dari 24 KEK yang telah ditetapkan pemerintah diharapkan memacu pertumbuhan ekonomi.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah mengembangkan 24 KEK dengan total investasi sekitar Rp242,5 triliun dan menyerap 151.260 tenaga kerja dari hampir 400 perusahaan. KEK memegang peranan penting,” paparnya. Kinerja KEK pada triwulan III-2024 mencatatkan realisasi investasi Rp68,43 triliun dengan penyerapan 34.169 tenaga kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait