BATAM (gokepri.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengintensifkan pengawasan terhadap takjil yang dijual di pasaran selama bulan Ramadan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan makanan berbuka puasa bebas dari bahan berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan.
Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan pengawasan dilakukan oleh puskesmas di setiap kecamatan dengan mengambil sampel makanan dan mengujinya menggunakan alat tes khusus.
“Petugas membeli sampel lalu memeriksanya. Pengujian ini bertujuan mendeteksi bahan berbahaya seperti formalin, boraks, Rhodamin B, dan Methanil Yellow,” ujar Didi, Sabtu (1/3/2025).
Baca Juga: Lapas Batam Buka Layanan Kiriman Takjil dari Keluarga
Jika ditemukan makanan mengandung zat berbahaya, Dinkes akan memberikan pembinaan dan peringatan kepada pedagang. Didi juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih takjil.
“Jangan hanya tergiur tampilan menarik atau harga murah. Warga harus bisa mengenali ciri-ciri makanan yang tidak aman,” katanya.
Didi menjelaskan, beberapa makanan yang kerap mengandung formalin biasanya memiliki tekstur lebih kenyal dan keras, bau menyengat seperti obat atau antiseptik, serta rasa yang agak pahit. Zat ini sering ditemukan pada tahu, mi basah, ikan asin, bakso, dan daging olahan.
Sementara itu, makanan yang mengandung boraks cenderung lebih kenyal dan kaku, warnanya mengkilap, serta terasa getir atau pahit. Zat ini sering disalahgunakan pada bakso, mi basah, lontong, kerupuk, dan cilok.
“Boraks bisa menyebabkan gatal atau iritasi tenggorokan jika dikonsumsi,” jelasnya.
Agar terhindar dari makanan berbahaya, masyarakat disarankan memilih makanan dengan warna alami yang tidak terlalu mencolok, serta menghindari makanan yang terlalu kenyal atau tahan lama.
“Pastikan produk kemasan memiliki label BPOM. Jika menemukan makanan mencurigakan, segera laporkan ke BPOM atau Dinas Kesehatan,” kata Didi.
Dinkes Batam juga mengimbau masyarakat untuk membeli takjil dari pedagang yang terpercaya atau membuat sendiri di rumah demi keamanan. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









