BATAM (gokepri) — Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Sembur di Batam bukan lagi sekadar penyedia penerangan. Pasokan listrik berbasis energi terbarukan berkapasitas 0,92 megawatt-peak (MWp) ini disulap menjadi motor penggerak ekonomi warga pesisir.
Tidak hanya menyalakan lampu rumah warga, proyek ini langsung diintegrasikan dengan sarana perikanan modern. Fasilitas pendukung seperti mesin pembuat es (ice maker), gudang pendingin (cold storage), hingga kapal berbasis listrik disiapkan untuk menunjang mata pencaharian warga. Seluruh operasionalnya dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih Galang Baru.
Keberhasilan integrasi ini menempatkan Pulau Sembur sebagai proyek percontohan nasional dalam Program PLTS 100 Gigawatt-peak (GWp) yang dicanangkan pemerintah pusat. Proyek ini menjadi bagian dari 14 PLTS tahap awal di enam provinsi dengan total kapasitas 5,3 GWp.
Baca Juga: Target PLTS 100 GW, Batam Didorong Jadi Basis Industri Energi Hijau
Direktur Energi Terbarukan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Tony Susandy, menegaskan bahwa penyediaan listrik energi terbarukan di wilayah pesisir harus menyejahterakan masyarakat. “PLTS Pulau Sembur adalah pembuktian bagaimana Program PLTS 100 GWp betul-betul dilaksanakan untuk kesejahteraan rakyat,” ujar Tony.
Ia menambahkan, Kementerian ESDM telah mengawal perencanaan proyek ini sejak akhir 2025, termasuk memfasilitasi sertifikasi tenaga operator lokal dari koperasi desa.
Dampak konkret model ini membuat Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) bersiap mereplikasikannya ke pulau-pulau kecil lain. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pemprov Kepri, Riki Rionaldi, menilai skema Pulau Sembur adalah jawaban atas keterbatasan akses energi di wilayah terpencil.
“PLTS Pulau Sembur menjadi percontohan bagi pulau-pulau lain di Kepri yang belum teraliri listrik,” kata Riki. Koperasi desa di wilayah lain kini didorong mulai memetakan potensi ekonomi, kebutuhan energi, serta peluang kemitraan dengan investor maupun penyedia teknologi.
Langkah ini turut mendapat apresiasi dari pelaku industri. Wakil Ketua III Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), Hengky Witarsa, menyebut Indonesia memiliki potensi energi surya raksasa hingga 3.294 GW. Namun, potensi besar itu baru berdampak jika terhubung langsung dengan kegiatan produktif warga.
“Nilai strategis energi surya muncul ketika listriknya mampu menjaga nilai hasil produksi masyarakat, membuka usaha baru, dan menggerakkan ekonomi lokal,” kata Hengky.
Menurutnya, pemanfaatan listrik surya dapat disesuaikan dengan karakter daerah, seperti untuk pengolahan hasil laut, pertanian, hingga penguatan UMKM. ANTARA
Baca Juga: Dampak Listrik Surya Pulau Sembur untuk Ekonomi Nelayan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







