BATAM (gokepri) – Izin kawasan industri Tanjung Sauh resmi terbit, membuka jalan bagi investasi besar masuk ke Batam. Kawasan ini akan menjadi pusat industri, logistik, dan energi, dengan target menyerap ratusan ribu tenaga kerja hingga 2053.
Izin yang dimaksud adalah Izin Usaha Kawasan Industri (IUKI). Kawasan industri Tanjung Sauh merupakan bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) dan sebagian besar lahannya berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Sekretaris Daerah Kota Batam, Jefridin, menjelaskan PSN Tanjung Sauh mencakup lahan seluas 840,67 hektare, terdiri dari 703,8 hektare di daratan dan 136,87 hektare di laut. “Sekitar 59,7% lahan sudah dikuasai sesuai dengan usulan KEK. Tanjung Sauh dirancang untuk mendukung sektor produksi, pengolahan, logistik, dan distribusi,” ujar Jefridin, Senin (11/11/2024).
Selain sebagai kawasan industri, Tanjung Sauh juga direncanakan menjadi lokasi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). “PLTU berkapasitas 4×100 MW dan PLTS akan dibangun pada 2025 untuk memenuhi kebutuhan energi di sana. Proyek ini diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja hingga 366.087 orang hingga 2053,” tambahnya.
PSN sekaligus KEK Tanjung Sauh berada di Pulau Tanjung Sauh, dengan luas lahan total 840,67 hektare. KEK ini diusulkan oleh PT Batam Raya Sukses Perkasa dan menargetkan realisasi investasi sebesar Rp199,6 triliun.
Baca: Pengusaha Kakap di Balik Usulan KEK Tanjung Sauh
“Diharapkan pengembangan Kawasan Industri Tanjung Sauh berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Batam dan sekitarnya,” tutup Jefridin.
Sebelumnya, KEK Tanjung Sauh telah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2024.
“Dengan pengembangan KEK Tanjung Sauh, diharapkan akan mendorong daya saing Indonesia, sekaligus memberikan dampak signifikan bagi perekonomian wilayah melalui penerimaan investasi mencapai Rp199,6 triliun dan penciptaan lapangan pekerjaan, baik langsung maupun tidak langsung, sebesar 366.087 orang ketika beroperasi penuh selama 30 tahun,” kata Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang, di Jakarta.
KEK Tanjung Sauh memiliki rencana bisnis produksi dan pengolahan, pengembangan energi, serta logistik dan distribusi. KEK Tanjung Sauh akan dikembangkan industri komponen elektronik (PCB, RFID, GPS, CCTV, dan Semikonduktor), serta industri perakitan produk elektronik.
Dari segi pelabuhan, kata Edwin, keberadaan pelabuhan di KEK Tanjung Sauh di antara Batam dan Bintan menjadi jembatan penting untuk mobilisasi logistik antara Kepri dengan pasar nasional dan dunia internasional.
Baca: Seperti Apa Rencana Bisnis KEK Tanjung Sauh
KEK Tanjung Sauh juga akan berperan sebagai gateway port yang modern, mampu menampung hingga 5 juta twenty-foot equivalent unit (TEUS), dan menjadi pusat logistik di wilayah antara Batam dan Bintan.
Lebih lanjut, Edwin menjelaskan, KEK Tanjung Sauh juga akan menjadi pusat riset dan pengembangan bidang energi, sekaligus menjadi produsen dari energi alternatif, energi terbarukan dan energi primer, yang dinilai akan memenuhi kebutuhan industri dan rumah tangga di Batam-Bintan.
Gurita Panbil Group
Perusahaan milik pengusaha kakap Johannes Kennedy menggarap KEK Tanjung Sauh Batam yang baru ditetapkan Presiden Joko Widodo. Disiapkan menjadi kawasan industri manufaktur, logistik hingga energi hijau.
Presiden Joko Widodo resmi menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) baru di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24/2024. KEK tersebut bernama Tanjung Sauh dan terletak di Pulau Tanjung Sauh, yang akan menjadi salah satu pulau yang dilintasi Jembatan Batam-Bintan yang kabarnya akan dibangun.
KEK ini diusulkan PT Batam Raya Sukses Perkasa. PT Panbil Utilitas selaku investor utama memasang target konstruksi rampung 2024 dan mulai beroperasi 2027.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menyambut baik penetapan KEK baru ini. Ia optimistis bahwa KEK akan mendorong penyerapan tenaga kerja dan menandai era baru investasi di Batam yang beradaptasi dengan tren industri global, khususnya pada sektor energi. “Fokus pada pengembangan energi menandakan awal baru investasi di Batam yang harus beradaptasi dengan tren industri global,” ujar Rafki di Batam, Senin (3/6/2024).
Baca: INFOGRAFIS: Penetapan KEK Tanjung Sauh
PT Panbil Utilitas milik pengusaha asal Batam Johanes Kennedy Aritonang menjadi investor utama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Sauh. Investor utama dari KEK Tanjung Sauh adalah PT Panbil Utilitas yang berkomitmen dengan target konstruksi rampung di tahun 2024 dan mulai beroperasi pada 2027. Sedangkan Panbil Group Founder dirintis oleh Johanes Kennedy Aritonang.
KEK Tanjungsauh yang diusulkan grup Panbil bukan yang pertama. Berdasarkan catatan gokepri, Panbil pernah mengusulkan KEK Pulau Asam di Karimun pada 2016 hingga 2018. Mereka akan membangun kilang minyak di sana dengan investasi Rp14 triliun. Namun rencana ini menguap meski Panbil sudah mengurus proses perizinan. Kendalanya adalah status hutan produksi di sana.
Tanjung Sauh menjadi manuver baru bisnis Panbil yang selama ini lebih fokus ke sektor properti dan konstruksi. Lini usaha properti di bawah bendera PT Nusatama Properta Panbil mencakup Panbil Mal, Panbil Apartemen, Villa Panbil, Panbil Industrial Estate. Kemudian hotel di Panbil dan Panbil Residence di bawah bendera PT Hotel Panbil Sejahtera. Beberapa tahun terakhir Panbil juga menambah portofolionya di sektor industri, pembangkit listrik dan industri beton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









