Batam (gokepri) – Perusahaan milik pengusaha kakap Johannes Kennedy menggarap KEK Tanjung Sauh Batam yang baru ditetapkan Presiden Joko Widodo. Disiapkan menjadi kawasan industri manufaktur, logistik hingga energi hijau.
Presiden Joko Widodo resmi menetapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) baru di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24/2024. KEK tersebut bernama Tanjung Sauh dan terletak di Pulau Tanjung Sauh, yang akan menjadi salah satu pulau yang dilintasi Jembatan Batam-Bintan yang kabarnya akan dibangun.
Baca Juga:
- Pengusaha Kakap di Balik Usulan KEK Tanjung Sauh
- Pembangunan KEK Tanjungsauh Dimulai, Warga Direlokasi ke Hunian Baru di Pulau Ngenang
Pulau Tanjung Sauh, dengan luas 840,6 hektare, ditargetkan menjadi kawasan industri strategis dengan total investasi mencapai Rp199,6 triliun dan menyerap 366.087 tenaga kerja hingga 2053. KEK ini diusulkan PT Batam Raya Sukses Perkasa. PT Panbil Utilitas selaku investor utama memasang target konstruksi rampung 2024 dan mulai beroperasi 2027.
“Dengan pengembangan KEK Tanjung Sauh, diharapkan akan mendorong competitiveness bagi Indonesia, sekaligus memberikan dampak signifikan bagi perekonomian wilayah melalui penerimaan investasi mencapai Rp199,6 triliun dan penciptaan lapangan pekerjaan, baik langsung maupun tidak langsung, sebesar 366.087 orang ketika beroperasi penuh selama 30 tahun,” ujar Plt Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang.
Edwin menjelaskan pengembangan Kawasan yang berjalan secara optimal diharapkan akan mampu memberikan kontribusi pada PDRB Kepulauan Riau mencapai Rp166,81 triliun secara kumulatif.
Arah bisnis di KEK ini sudah dirilis di situs resmi kek.go.id, situs milik Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus. KEK Tanjung Sauh diproyeksikan memiliki fokus pada industri pengolahan, pengembangan energi, logistik dan distribusi, dengan fokus utama pada pengembangan industri komponen elektronik dan perakitan elektronik. Komponen elektronik yang disasar adalah PCB, RFID, GPS, CCtv dan semikonduktor.

Menurut Edwin, dari segi pelabuhan, keberadaan pelabuhan di KEK Tanjung Sauh di antara Batam dan Bintan menjadi jembatan penting untuk mobilisasi logistik antara Kepulauan Riau dengan pasar nasional dan dunia internasional.
Keunggulan KEK Tanjung Sauh terletak pada pengembangan pelabuhan transhipment yang mampu menampung hingga 5 juta TEUs, menjadikannya pusat logistik potensial di kawasan Selat Malaka. Lebih lanjut, KEK Tanjung Sauh juga akan menjadi pusat riset dan pengembangan energi, sekaligus produsen energi alternatif, energi terbarukan, dan energi primer untuk memenuhi kebutuhan industri dan rumah tangga di Batam dan Bintan.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menyambut baik penetapan KEK baru ini. Ia optimistis bahwa KEK akan mendorong penyerapan tenaga kerja dan menandai era baru investasi di Batam yang beradaptasi dengan tren industri global, khususnya pada sektor energi. “Fokus pada pengembangan energi menandakan awal baru investasi di Batam yang harus beradaptasi dengan tren industri global,” ujar Rafki di Batam, Senin (3/6/2024).

Batam saat ini menjadi magnet bagi industri energi baru dan terbarukan (EBT). Diyakini, energi ramah lingkungan ini akan menggantikan energi fosil, menjadikan Batam pionir penting dalam pengembangan EBT di Indonesia bagian barat. “Ini pertanda baik bagi perekonomian Batam, pertanda investasi yang terus berkembang ke arah ramah lingkungan,” pungkas Rafki.
Milik Pengusaha Kakap

PT Panbil Utilitas milik pengusaha asal Batam Johanes Kennedy Aritonang menjadi investor utama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Sauh. Investor utama dari KEK Tanjung Sauh adalah PT Panbil Utilitas yang berkomitmen dengan target konstruksi rampung di tahun 2024 dan mulai beroperasi pada 2027. Sedangkan Panbil Group Founder dirintis oleh Johanes Kennedy Aritonang.
KEK Tanjungsauh yang diusulkan grup Panbil bukan yang pertama. Berdasarkan catatan gokepri, Panbil pernah mengusulkan KEK Pulau Asam di Karimun pada 2016 hingga 2018. Mereka akan membangun kilang minyak di sana dengan investasi Rp14 triliun. Namun rencana ini menguap meski Panbil sudah mengurus proses perizinan. Kendalanya adalah status hutan produksi di sana.
Tanjung Sauh menjadi manuver baru bisnis Panbil yang selama ini lebih fokus ke sektor properti dan konstruksi. Lini usaha properti di bawah bendera PT Nusatama Properta Panbil mencakup Panbil Mal, Panbil Apartemen, Villa Panbil, Panbil Industrial Estate. Kemudian hotel Best Western Premier Panbil dan Panbil Residence di bawah bendera PT Hotel Panbil Sejahtera. Beberapa tahun terakhir Panbil juga menambah portofolionya di sektor industri, pembangkit listrik dan industri beton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









