Batam Kebanjiran Investasi, Kesejahteraan Pekerja Jadi Pekerjaan Rumah
BATAM (gokepri.com) – Batam sedang menikmati derasnya arus investasi. Nilai penanaman modal terus melonjak dan aktivitas proyek semakin ramai.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang kian besar kini menghadapi tantangan berikutnya, yakni memastikan manfaat investasi tidak berhenti pada bertambahnya proyek dan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan kualitas pekerjaan dan pendapatan pekerja.
Direktur Investasi BP Batam Dendi Gustinandar mengatakan, seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Saya tidak berkompeten untuk angka itu, tapi kita sebagai stakeholder harusnya kita punya satu bahasa, meningkatkan kesejahteraan di Batam,” kata Dendi kemairn.
Menurut dia, kritik terhadap kondisi ketenagakerjaan justru harus dipandang sebagai bagian dari proses membangun perekonomian Batam yang lebih baik.
“Kalau banyak kritik itu menjadi bagian terindah dari sebuah proses,” ujarnya.
Dendi mengatakan Batam menghadapi fenomena pertumbuhan ekonomi yang tidak serta-merta menghapus persoalan pengangguran. Menurut dia, kondisi tersebut juga terjadi di sejumlah negara lain ketika pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah menarik arus migrasi dari daerah lain.
“Ketika migrasi itu datang pasti hanya mau dapat uang lebih daripada tempat asalnya,” katanya.
Karena itu, pemerintah tidak boleh menyerah pada kondisi tersebut. Salah satu kebutuhan yang harus diperkuat adalah pendidikan agar masyarakat lokal memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Pemerintah tidak boleh menyerah dengan keadaan. Maka harus ada pusat pendidikan, membangun pusat pendidikan itu perlu,” ujarnya.
Penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi semakin penting karena struktur investasi Batam mulai bergerak menuju industri yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi, termasuk manufaktur berteknologi tinggi dan sektor digital.
Dengan demikian, pertumbuhan investasi tidak hanya diukur dari nilai modal yang masuk, tetapi juga dari kemampuan masyarakat lokal mengambil bagian dalam rantai ekonomi yang terbentuk.
UMK Bukan Batas Atas Upah
Dari sisi pengusaha, persoalan kenaikan upah tidak semata-mata dilihat dari besaran upah minimum. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafky Rasyid menilai, derasnya investasi yang masuk ke Batam semestinya diikuti dengan peningkatan kesejahteraan pekerja.
“Ini berbanding terbalik dengan kondisi Batam saat ini,” kata Rafky.
Menurut dia, perusahaan memiliki kepentingan mempertahankan pekerja yang kompeten. Karena itu, pekerja dengan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan industri perlu mendapatkan upah yang layak.
Rafky menilai investasi yang terus tumbuh di Batam harus mampu memberikan dampak yang seimbang terhadap peningkatan pendapatan pekerja.
“Pekerja yang kompeten harus diberikan upah yang layak. Investasi yang ada sekarang harus bisa mengimbangi upah pekerja,” ujarnya.
Ia mengatakan pemberian upah di atas UMK juga dapat menjadi salah satu cara perusahaan mempertahankan pekerja. Menurut dia, pekerja yang memperoleh upah lebih tinggi memiliki kecenderungan loyalitas yang lebih baik terhadap perusahaan.
“Apindo tidak berkeinginan menekan UMK. Ketika karyawan dibayar di atas UMK, pasti akan ada loyalitas,” katanya.
Rafky menekankan, upah minimum pada dasarnya merupakan batas bawah bagi pekerja, bukan batas maksimum penghasilan. Karena itu, kesejahteraan pekerja tidak cukup diukur hanya dari besaran UMK.
“Perlu dilihat pula upah riil yang diterima pekerja, termasuk struktur dan skala upah berdasarkan masa kerja, kompetensi, jabatan serta produktivitas,” kata dia.
Investasi Tumbuh, Tenaga Kerja Terserap
Pertanyaan mengenai kesejahteraan pekerja muncul ketika kinerja investasi Batam mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan.
Pada Semester I 2026, realisasi investasi Batam mencapai Rp29,89 triliun, tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp18,37 triliun.
Pertumbuhan tersebut juga diikuti peningkatan jumlah proyek. Jumlah proyek naik 32,82 persen, dari 11.915 proyek pada Semester I 2025 menjadi 15.826 proyek pada Semester I 2026.
Sebanyak 6.932 proyek telah memasuki tahap produksi, meningkat 52,32 persen. Sementara proyek yang masih dalam tahap konstruksi mencapai 8.894 proyek atau tumbuh 20,78 persen.
Dari sisi ketenagakerjaan, investasi tersebut menyerap 40.423 tenaga kerja Indonesia, meningkat 32,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara tenaga kerja asing tercatat 520 orang atau meningkat 29,35 persen.
Dengan demikian, total tenaga kerja yang terserap mencapai 40.943 orang, tumbuh 32,16 persen. Rata-rata nilai investasi per proyek pun meningkat 22,53 persen, dari Rp1,54 miliar menjadi Rp1,89 miliar.
“Perubahan ini menunjukkan arah pembangunan ekonomi Batam semakin kuat. Industri manufaktur berteknologi tinggi kini menjadi salah satu sektor yang paling diminati investor,” kata Dendi.
Sektor lain yang turut menjadi tujuan investasi adalah industri kimia dan farmasi, perumahan dan kawasan industri, serta transportasi, pergudangan dan telekomunikasi.
Lima sektor dengan realisasi investasi terbesar pada Semester I 2026 yakni jasa lainnya Rp6,09 triliun, industri mesin dan elektronika Rp6,07 triliun, industri kimia dan farmasi Rp3,97 triliun, perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp3,52 triliun, serta transportasi, pergudangan dan telekomunikasi Rp2,55 triliun.
Dari sisi negara asal, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai Rp10,89 triliun, disusul Hong Kong Rp1,39 triliun, Korea Selatan Rp1,18 triliun, China Rp1,11 triliun dan Amerika Serikat Rp1,02 triliun. *
Penulis: Engesti









