Hati-hati! Sering Begadang Bisa Terkena Diabetes

Ilustrasi begadang (Image Source)

Jakarta (gokepri.com) – “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya,” penggalan bait lagu Begadang karya Rhoma Irama itu memang ada benarnya.

Sebab, begadang bisa menimbulkan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah diabetes melitus.

Diabetes melitus jadi salah satu penyakit kronis yang sering diderita masyarakat. Diabetes terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan insulin yang cukup. Akibatnya kadar gula atau glukosa dalam darah melonjak terlalu tinggi.

HBRL

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Endokrinologi Metabolik Diabetes Eka Hospital, I Gusti Ngurah Adhiarta menyebut, biasanya diabetes awalnya tidak bergejala dan tidak terdeteksi.

Maka itu, kata dia, masyarakat harus mewaspadai ketika mengalami obesitas atau sering begadang. Sebab, gaya hidup tidak sehat berdampak pada diabetes tipe 2.

“Begadang menyumbang peningkatan diabetes sebanyak tujuh kali lebih cepat dibandingkan orang yang tidak gemar begadang. Saat ini terdapat pasien saya pengidap diabetes karena sering begadang untuk bermain aplikasi sosial media,” kata Adhiarta kepada Liputan6.com.

Kata Adhiarta, ada beberapa gejala diabetes di masyarakat. Misalnya adanya penurunan berat badan yang drastis, kemudian adanya rasa haus dan lapar dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama atau berdekatan. Kendati begitu biasanya diabetes akan terdeteksi dengan melakukan pengecekan gula darah.

Lanjut dia, diabetes tidak hanya dialami oleh masyarakat dengan usia lanjut usia atau lansia. Namun saat ini usia di bawah 40 tahun sudah terdeteksi diabetes tipe 2.

“Sebelumnya diyakini bahwa diabetes adalah penyakit yang menyerang usia di atas 40 tahun, tapi dengan semakin berkembangnya zaman, berubahnya pola hidup, usia pengidap diabetes ini bergeser sehingga saat ini banyak remaja pun sudah terkena diabetes tipe 2,” ucap dia.

Selain begadang dan obesitas, kebiasaan gaya hidup tidak sehat seperti merokok, gemar mengonsumsi minuman alkohol, minuman manis juga menjadi pemicu adanya diabetes. Faktor lainnya meliputi konsumsi makanan cepat saji, pengidap kolestrol tinggi, hingga adanya turunan dari salah keluarga yang pernah diagnosis sebagai pre diabetes.

“Diabetes pada remaja menyebabkan komplikasi penyakit lain mudah terjadi dibandingkan dengan pengidap diabetes usia lanjut. Hal tersebut dikarenakan kinerja jantung dan ginjal. Pada umumnya, obat-obat diabetes yang standard, seperti metformin kurang bekerja pada pengidap usia remaja. Biasanya para remaja tersebut diberikan preparat lain, bahkan ada yang sampai disuntikkan insulin,” papar Adhiarta.

Adhiarta menilai, faktor pola makan yang tidak sehat memiliki pengaruh sekitar 40-50 persen timbulnya diabetes. Karena hal itu dia meminta masyarakat untuk melakukan sejumlah langkah pencegahan. Yakni menjaga berat badan ideal dengan pola hidup sehat.

Kemudian menghindari makanan manis, cepat saji, minuman manis, memperbanyak buah-buahan dan sayur-sayuran, serta olahraga.

“Mengonsumsi buah-buahan dan sayuran dapat melindungi tubuh hingga 22 persen menurunkan risiko terkena penyakit diabetes. Jika gemar mengonsumsi makanan/minuman manis, ganti pemanis dengan yang rendah kalori. Terakhir, aktif olahraga,” ujar dia. (*)

sumber: liputan6.com

Pos terkait