JAKARTA (gokepri.com) – Laga final Piala Dunia 2026 akan digelar pada 19 Juli waktu AS atau Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Juara bertahan Argentina akan menantang juara Piala Eropa 2024, Spanyol, di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat.
Final perhelatan sepakbola sejagad ini menjadi momen yang ditunggu jutaan penggemar sepak bola termasuk di Indonesia. Namun di balik euforia tersebut, dokter mengingatkan bahwa ketegangan selama pertandingan bisa berdampak pada kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki riwayat jantung.
Sejumlah studi menunjukkan pertandingan olahraga dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko serangan jantung, gangguan irama jantung (aritmia), serta kejadian kardiovaskular lainnya pada kelompok rentan.
Salah satu penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine setelah Piala Dunia 2006 di Jerman menemukan bahwa kejadian darurat kardiovaskular meningkat 2,7 kali lipat selama pertandingan yang melibatkan tim nasional Jerman.
Dokter spesialis jantung asal Spanyol, Jose Abellan, mengatakan tubuh manusia dapat merespons pertandingan final dengan cara yang hampir sama seperti menghadapi situasi penuh ancaman. Menurut dia, pertandingan besar memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan katekolamin.
“Ini adalah situasi yang mendebarkan dan menegangkan. Ada pelepasan hormon stres yang membuat tubuh aktif. Lonjakan kortisol dan katekolamin dilepaskan, membuat kita berada dalam keadaan stres,” kata Abellan seperti dilansir laman Euronews, Sabtu (18/7/2026).
Lonjakan hormon stres tersebut dapat meningkatkan tekanan darah, mempercepat detak jantung, serta mendorong proses pembentukan gumpalan darah. Pada orang dengan kondisi jantung sehat, reaksi ini umumnya tidak menimbulkan masalah.
Namun, bagi individu yang memiliki gangguan kesehatan jantung, tekanan emosional tinggi dapat menjadi pemicu munculnya masalah serius. “Jika kesehatan kardiovaskular saya optimal atau baik, tidak akan terjadi apa-apa pada saya. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa sebuah peristiwa penuh tekanan, bagi seseorang yang kesehatan kardiovaskularnya terganggu, dapat menjadi pemicu,” kata dia.
Abellan mengungkap sejumlah kelompok yang perlu lebih berhati-hati saat menyaksikan pertandingan final Piala Dunia nanti. Mereka adalah orang yang pernah mengalami serangan jantung, memiliki pemasangan stent, menderita hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau memiliki riwayat gangguan irama jantung.
Meski demikian, menurutnya risiko bukan hanya berasal dari pertandingan. Faktor pendukung di sekitar acara olahraga juga dapat memperburuk kondisi.
“Yang perlu dijaga adalah segala sesuatu di sekitar pertandingan. Ini bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga menontonnya setelah pesta besar, dengan makanan tidak sehat, alkohol, dan lainnya,” kata dia.
Abellan juga mengingatkan tentang kondisi yang dikenal sebagai Holiday Heart Syndrome atau sindrom jantung pesta. Kondisi tersebut berkaitan dengan munculnya gangguan irama jantung, terutama fibrilasi atrium, setelah konsumsi alkohol berlebihan.
Gangguan ini sering muncul setelah konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi, misalnya saat akhir pekan, perayaan, atau acara olahraga besar. Jika konsumsi alkohol berlebih dikombinasikan dengan stres emosional dari pertandingan final, risikonya dapat meningkat, terutama pada orang dengan riwayat penyakit kardiovaskular.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain nyeri dada berat, sesak napas yang muncul tiba-tiba, serta jantung berdebar yang tetap berlangsung setelah situasi menegangkan berakhir. Abellan mengatakan nyeri dada menjadi salah satu tanda paling penting.
“Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah nyeri dada yang hebat. Jika tiba-tiba merasa seperti ada beban di dada yang menjalar ke bahu, leher, atau punggung, dan disertai keringat, itu bukan sekadar gugup. Segera cari pertolongan medis,” kata Abellan.
Dia menyebut sebetulnya sepak bola itu sendiri bukan penyebab serangan jantung. Menurut dia, risiko muncul ketika stres berat bertemu dengan faktor lain seperti penyakit jantung sebelumnya, konsumsi alkohol, makan berlebihan, merokok, atau kurang tidur.
Karena itu, ia mengimbau penggemar menikmati final Piala Dunia sebagai hiburan olahraga tanpa mengabaikan kesehatan. “Orang-orang harus ingat bahwa ini adalah olahraga, ini adalah kompetisi. Tontonlah dengan tenang, bersama keluarga dan teman. Dan jangan makan yang tidak sehat secara berlebihan,” kata dia. *
(sumber: republika.co.id)








