Bukan Hanya Seks, Testosteron Rendah Pengaruhi Produktivitas Pria

Bukan Hanya Seks, Testosteron Rendah Pengaruhi Produktivitas
Ilustrasi. NYTIMES

TANGERANG (gokepri) – Testosteron rendah dapat menurunkan produktivitas pria, bukan hanya mengganggu fungsi seksual. Dokter menyarankan perubahan gaya hidup sebagai langkah awal untuk mengurangi dampak gangguan hormon tersebut.

Dokter spesialis andrologi Eka Hospital BSD, Tangerang, Christian Christoper Sunnu, mengatakan hormon testosteron berperan dalam berbagai fungsi tubuh. Ketika kadarnya menurun, dampaknya dapat dirasakan pada kesehatan fisik, mental, hingga kemampuan bekerja.

“Testosteron yang rendah berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan,” kata Christian di Tangerang, Rabu, 29 Juli 2026.

Baca Juga: Pori-Pori Tersumbat: Tanda, Penyebab, dan Cara Efektif Mengatasinya

Menurut Christian, penurunan testosteron sering kali tidak langsung disadari karena gejalanya muncul secara bertahap. Kondisi itu dapat ditandai dengan perubahan suasana hati, depresi, gairah seksual menurun, disfungsi ereksi, kelelahan kronis, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan performa kerja.

Selain itu, pria dengan testosteron rendah dapat mengalami kehilangan massa otot, peningkatan massa lemak, rambut menipis atau rontok, kepadatan tulang menurun, dan gangguan tidur. Rangkaian gejala tersebut kerap memengaruhi kualitas hidup sekaligus hubungan dengan pasangan.

Menurut Christian, testosteron rendah juga berkaitan dengan meningkatnya risiko sindrom metabolik. Kondisi itu meliputi kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, obesitas, dan gula darah tinggi yang dapat berujung pada penyakit kardiovaskular.

“Risiko serangan jantung dan stroke juga meningkat,” ujarnya.

Ia menjelaskan testosteron merupakan hormon yang berperan dalam pembentukan sel sperma sehingga menjadi salah satu indikator kesuburan pria. Hormon ini juga memengaruhi perkembangan karakteristik laki-laki, seperti pertumbuhan rambut di wajah, perkembangan otot, dan fungsi organ reproduksi.

Penanganan testosteron rendah dapat dilakukan melalui terapi penggantian hormon sesuai kondisi pasien. Pilihan terapinya meliputi suntikan testosteron ke jaringan otot setiap satu hingga 14 hari, penggunaan gel atau krim yang dioleskan setiap hari pada lengan atas, bahu, atau paha, serta plester hormon yang ditempelkan pada kulit dan bekerja selama 24 jam.

Selain itu, terapi juga dapat dilakukan menggunakan obat minum, obat yang ditempelkan pada gusi atau bagian dalam pipi, maupun implan testosteron yang ditanam di bawah kulit pada area pinggul atau bokong dan diganti setiap tiga hingga enam bulan.

Namun, Christian menilai terapi medis sebaiknya disertai perubahan pola hidup. Olahraga teratur dan tidur selama enam hingga delapan jam setiap hari dapat membantu menjaga kadar testosteron tetap optimal.

“Berolahraga dan tidur cukup dapat membantu meningkatkan kadar testosteron,” kata Christian.

Dokter mengingatkan pria yang mengalami gejala penurunan testosteron tidak menunda pemeriksaan. Penanganan sejak dini dinilai dapat membantu mencegah gangguan kesehatan yang lebih luas, termasuk penyakit metabolik dan kardiovaskular. ANTARA

Baca Juga: Alami Hipospadia, Atlet Voli Aprilia Manganang Kini Jadi Laki-laki

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait