Gempa Susulan M 5,2 Guncang Flores Pagi Tadi

ilustrasi (internet)

FLORES TIMUR (gokepri.com) – Gempa susulan berkekuatan magnitudo (M) 5,2 kembali mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (24/8/2026) pukul 04.20.18 WIB.

Kepala Desa Bobokerong, Lembata, Alshan AI Idrus, yang saat ini berada di Nagekeo, mengatakan warga berhamburan saat gempa terjadi.

“Warga berhamburan dan lari,” ujarnya saat dikonfirmasi detikBali, Senin.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan episenter gempa berada pada koordinat 8,37° LS dan 120,64° BT. Lokasinya berada di darat, sekitar 33 kilometer (km) timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT.

“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Wijayanto, Senin.

Wijayanto menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang terjadi akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hal itu berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser turun (oblique normal fault),” imbuhnya.

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan intensitas berbeda.

Wijayanto mengatakan hingga Senin (24/8/2026) pukul 04.30.00 WIB, hasil monitoring BMKG mencatat 6.397 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock). Gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan M 6,2.

Dia mengatakan, saat ini dirinya berada di Nagekeo untuk assesment di Desa Kotagana, Kecamatan Mauponggo.

“Berdasarkan assessment lapangan pada 23 Agustus 2026, tercatat 248 KK atau sekitar 930 jiwa terdampak. Sebanyak 120 rumah mengalami kerusakan, terdiri dari 70 rumah rusak berat dan 50 rumah rusak sedang,” terangnya.

Wijayanto mengatakan kerusakan rumah membuat banyak keluarga tidak dapat menjalani kehidupan seperti biasa. Sebagian rumah mengalami kerusakan parah sehingga tidak aman untuk ditempati. Warga pun terpaksa meninggalkan rumah dan bertahan di pengungsian dengan kondisi seadanya.

“Kondisi pengungsian masih sangat memprihatinkan. Sebagian warga hanya bertahan di bawah terpal darurat, tanpa tempat tidur yang layak dan dengan persediaan kebutuhan pokok yang terbatas,” tandasnya.

Di Kotagana, dari total 930 jiwa terdampak, terdapat 54 balita, 5 ibu hamil, 43 penyandang disabilitas, 140 lansia, serta 20 lansia yang sedang sakit. *

(sumber: detik.com)

 

Pos terkait