BATAM (gokepri) — Pemerintah Kota Batam menargetkan ekspor ikan ke Singapura mencapai 6.500 ton pada 2026 dengan nilai transaksi sekitar Rp270 miliar. Target ini naik dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Perikanan Batam Yudi Admajianto mengatakan pada 2025 ekspor ditargetkan 6.000 ton dengan nilai Rp250 miliar dan berhasil tercapai. “Di 2025 target tercapai. Karena itu kami naikkan menjadi 6.500 ton dengan nilai Rp270 miliar untuk 2026,” ujarnya di Batam, Kamis 26 Februari 2026.
Data Diskan mencatat sepanjang 2025 ekspor ikan Batam ke Singapura mencapai 6.406 ton dengan nilai Rp263.568.592. Pada 2024, volume ekspor tercatat 5.414 ton dengan nilai Rp232.688.128.
Baca Juga: Nelayan Batam Lebih Pilih Ekspor Ikan karena Harga Jual Lebih Tinggi
Menurut Yudi, kenaikan ekspor dipengaruhi tiga faktor utama: produksi nelayan meningkat, permintaan dari Singapura naik, dan harga jual di negara tujuan cukup baik.
Komoditas ekspor bernilai tinggi antara lain kerapu, kakap, kaci, tenggiri, dingkis, udang vaname, sotong, kepiting atau rajungan, hingga lobster.
Ia menjelaskan volume ekspor sangat bergantung pada musim tangkapan dan kondisi angin. Saat periode tertentu, seperti perayaan Imlek, jenis ikan tertentu lebih dominan dikirim.
“Waktu Imlek kemarin, ikan dingkis yang paling banyak diekspor,” katanya.
Komposisi ekspor masih didominasi hasil tangkap. Produk budidaya seperti nila, lele, dan patin lebih banyak untuk pasar domestik. Namun budidaya udang vaname turut menyasar pasar luar negeri.
Dengan tren kenaikan dalam dua tahun terakhir, Diskan Batam memproyeksikan sektor perikanan tetap menjadi penopang perdagangan ekspor Batam, terutama ke Singapura sebagai pasar terdekat. ANTARA
Baca Juga: Ekspor Ikan Terhenti, Nelayan Budidaya Kepri Kena Imbas Perang Dagang AS-China
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







