Batam (Gokepri.com) – Bank Indonesia mendorong pemerintah daerah di Kepri memprioritaskan usaha mikro kecil dan menengah dengan insentif demi menahan laju penurunan ekonomi di tengah pandemi. UMKM dinilai perlu diberi kesempatan agar produknya banyak diserap industri.
Kepala Bank Indonesia Kepri Musni K Atmaja mengatakan kecepatan pemulihan ekonomi dipengaruhi terkendalinya penyebaran COVID-19. Sehingga BI mendorong kegiatan ekonomi secara selektif, terutama sektor ekonomi dengan penerapan protokol COVID-19 yang ketat dan memiliki dampak besar terhadap perekonomian.
Kemudian, restrukturisasi kredit dan dunia usaha dengan optimalisasi program restrukturisasi kredit bagi UMKM dengan mengacu pada POJK no.11/POJK03/2020. “Lalu digitalisasi ekonomi dan keuangan serta mendorong penggunaan produk UMKM lokal,” ujar Musni dalam seminar virtual, Kamis (11/9/2020).
BI mendorong pemanfaatan ekonomi digital oleh pelaku usaha, termasuk UMKM, perluasan transaksi pembayaran secara nontunai termasuk QRIS bagi masyarakat dan pelaku usaha serta mengakselerasi ETP.
Pihaknya juga mengusulkan korporitasi UMKM untuk meningkatkan skala produksi dan membangun kemitraan dengan korporasi, dan mendukung pusat dari UMKM yang akurat guna menunjang kebijakan pengembangannya.
Lalu mendorong iklim usaha dan investasi yang kondusif dengan menciptakan situasi baik, terutama menjelang dan usai pilkada serentak, juga perbaikan penyediaan infrastruktur yang memadai serta mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Dalam jangka panjang mengembangkan industri berbasis sumber daya alam lokal dan mendorong penguatan local value chain untuk mengurangi ketergantungan impor,” kata dia.
Bank Indonesia juga mendorong realisasi anggaran dan stimulus fiskal untuk memulihkan ekonomi Kepulauan Riau yang menurun drastis pada kuartal II-2020.
“Mendorong percepatan realisasi belanja modal pemerintah, termasuk belanja infrastruktur dan penyaluran bansos,” kata Musni.
BI juga mendorong pemerintah memberikan insentif bagi dunia usaha yang terdampak COVID-19. BI Menyusun enam upaya yang perlu dilakukan guna pemulihan ekonomi Kepri. Selain akselerasi realisasi anggaran dan stimulus fiskal, BI juga mendorong kegiatan ekonomi yang produktif dan aman.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid menyatakan industri setempat sulit menerapkan “local value chain” sebagai langkah mempercepat pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19.
“Kami mendukung ‘local value chain,’ tapi bahan baku lokal sulit memenuhi spek,” kata Rafky di Batam, Kamis.
Ia mencontohkan, spek garam industri saja belum bisa dipenuhi dalam negeri.
Selain itu, biaya transportasi dari daerah lain di Indonesia ke Batam juga relatif lebih besar dibandingkan mengirim bahan baku dari Singapura, yang lokasinya lebih dekat ke kota industri itu.
“Permasalahan transportasi. Biaya pengiriman dari Singapura yang dekat, dibandingkan ketika kita memesan bahan baku dari Jawa yang jauh,” kata dia.
Hal itu, lanjut Rafky, yang menjadi penghalang pembentukan “local value chain”.
Meski begitu, menurut dia, industri di Batam dan Kepri masih bisa menerapkannya dengan memanfaatkan produksi UMKM setempat, untuk menekan biaya. (Cg)
Editor: Candra
Baca Juga:
- PERTUMBUHAN EKONOMI: Kepri Bisa Tangkal Resesi
- Satu Kaki Salim di Kontrak Air Batam
- Ekspor Kepri Mulai Bergairah









