Cemaga Tengah Lolos 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

desa wisata cemaga tengah
Panorama batu granit di Geopark Nasional, Desa Cemaga Tengah, Natuna. Foto: Dinas Pariwisata Natuna

Tanjungpinang (gokepri) – Desa Wisata Cemaga Tengah, Natuna, masuk 50 besar ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Desa ini punya panorama alam situs geosite Geopark Nasional berupa batu granit yang diperkirakan berusia 65 juta tahun.

Desa ini berasal dari Kepulauan Riau. Prestasi ini berdasarkan hasil kurasi yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Wisata Batu Kasah merupakan salah wisata geosite Kabupaten Natuna yang terletak di wilayah Desa Cemaga Tengah, Kecamatan Bunguran Selatan. Cemaga Tengah memiliki panorama alam yang dihiasi oleh batu-batu granit yang menghiasi bibir pantai Batu Kasah sebagai daya tarik bagi wisatawan lokal, nasional dan internasional.

Baca Juga:

Pantai yang indah dan memikat hati ini jaraknya sekitar 40 menit dari Kota Ranai. Fasilitas yang tersedia di Pantai Kasah juga cukup lengkap. Terdapat toilet, kantin, mushola, dan gazebo.

Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Guntur Sakti, mengungkapkan awalnya ada empat desa wisata di Kepri yang masuk dalam 500 besar ADWI 2024. Keempat desa tersebut adalah Desa Wisata Cemaga Tengah, Desa Pesona Mata Ikan di Kota Batam, serta Desa Wisata Benan dan Mepar di Kabupaten Lingga.

“Namun, setelah melalui proses kurasi, hanya Desa Wisata Cemaga Tengah yang dinyatakan lolos ke 50 besar,” ujar Guntur di Tanjungpinang, belum lama ini.

guntur sakti
Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau Guntur Sakti saat pembukaan Kenduri Seni Melayu ke-26 di Harbourbay Downtown, Batam, 7 Juni. Foto: gokepri/Muhammad Ravi

Penilaian 50 besar desa wisata lolos ADWI 2024 akan dilakukan berdasarkan lima kategori. Pertama, kategori daya tarik desa wisata yang meliputi atraksi pariwisata dan ekonomi kreatif. Kedua, kategori amenitas, yaitu kesiapan fasilitas dan pelayanan. Ketiga, kategori digital, yaitu pemanfaatan teknologi digital pada penyelenggaraan desa wisata maupun sebagai sarana promosi desa wisata.

Kategori selanjutnya adalah kategori SDM dan kelembagaan, yang meliputi pemberdayaan SDM, mendukung kesetaraan gender, guna meningkatkan lapangan pekerjaan dan penguatan kelembagaan. Terakhir, kategori terbaru yaitu resiliensi atau ketahanan desa menghadapi risiko alam maupun non alam serta memperhatikan isu lingkungan untuk mendukung pariwisata berkelanjutan.

“Penilaian akan dilakukan oleh dewan juri dan kabarnya akan ditinjau langsung oleh Menparekraf Sandiaga Uno. Kami harus mempersiapkan diri agar Desa Wisata Cemaga Tengah dapat mendapatkan hasil yang maksimal,” kata Guntur.

Guntur juga menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas capaian ini. Ia melihatnya sebagai bukti potensi yang dimiliki Kepri, khususnya Pulau Natuna, dalam pengembangan daya tarik sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Desa wisata memberikan dampak pada kebangkitan ekonomi dan terbukanya penciptaan lapangan kerja dan peluang usaha,” ujar Guntur.

Guntur mengatakan Pemprov Kepri akan melakukan evaluasi dan pendampingan terhadap desa-desa wisata lainnya yang belum berkesempatan masuk dalam ADWI 2024. Hal ini dilakukan agar desa-desa wisata tersebut dapat menjadi penggerak sektor pariwisata dalam upaya mempercepat pembangunan desa, mendorong transformasi sosial, budaya, dan ekonomi desa.

desa wisata cemaga tengah
Geosite di Desa Wisata Cemaga Tengah. Foto: Dispar Natuna

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2024 kembali menggelar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Saat ini, proses penilaiannya telah memasuki 50 besar. Berdasarkan data Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ada 12 desa yang mewakili Sumatera dan 13 desa dari Pulau Jawa. Kemudian dari Kalimantan sebanyak tujuh desa, Sulawesi sebanyak delapan desa, Maluku dengan tiga desa, dan Papua tiga desa.

Penilaian ADWI 2024 yang mengangkat tema ”Desa Wisata Menuju Pariwisata Hijau” berdasarkan sejumlah kategori. Meliputi daya tarik, amenitas, digital, kelembagaan dan sumber daya manusia, serta resiliensi. Setiap kategori memiliki indikator sebagai kriteria penilaian.

Merujuk data dari laman Jadesta (Jaringan Desa Wisata) Kemenparekraf, per 13 April 2024 terdapat 5.487 desa wisata yang tersebar di semua provinsi di Indonesia dengan berbagai klasifikasi, mulai dari desa wisata rintisan hingga desa wisata mandiri. Terbanyak di Jawa Timur dengan 567 desa wisata, diikuti Sumatera Barat dengan 517 desa wisata, dan Sulawesi Selatan dengan 508 desa wisata.

Setidaknya, jika dilihat berdasarkan klasifikasi desa wisata, terdapat 315 desa wisata (5,7 persen) yang tergolong maju. Keberadaan desa wisata telah memiliki peran aktif terhadap perkembangan ekonomi warga desa dan sekitarnya. Sementara itu, tercatat ada 29 desa wisata mandiri, yaitu klasifikasi ketika desa wisata sudah memiliki pengunjung dari lingkup yang lebih luas.

Ribuan desa wisata lainnya masih tergolong rintisan dan berkembang menjadi modal bagi pembangunan desa pada khususnya dan pembangunan pariwisata secara nasional. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menargetkan pembentukan sebanyak 6.000 desa wisata selama tahun 2024 untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Lebih lanjut 6.000 desa wisata tersebut nantinya dapat berkontribusi sekitar 4,5 persen terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) secara nasional. Jika terwujud, ada penambahan sekitar 4,4 juta lapangan kerja di bidang ekonomi kreatif.

Kemenparekraf mencatat, dalam dua tahun terakhir kunjungan wisatawan ke desa wisata meningkat 30 hingga 50 persen, terutama di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Desa wisata diharapkan dapat mendorong capaian pergerakan wisatawan nusantara yang pada 2023 ditargetkan mencapai 1,4 miliar pergerakan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News