BATAM (gokepri) – Kemacetan dan persaingan ruang dengan kendaraan pribadi membuat bus Trans Batam membutuhkan jalur yang lebih teratur agar perjalanan tetap efisien. Karena itu, Pemko Batam menyiapkan lajur khusus di sisi kiri jalan, dimulai dari koridor Batam Center menuju Tanjung Uncang.
Lajur tersebut akan memakai sisi paling kiri badan jalan dan diberi tanda khusus melalui pengecatan. Pada beberapa titik, posisi halte juga dirancang masuk ke dalam lajur agar bus dapat berhenti tanpa mengganggu arus kendaraan lain.
Kepala UPT Trans Batam Dinas Perhubungan Kota Batam Bambang Sucipto mengatakan pilihan lajur kiri menyesuaikan posisi bus dan karakter jalan di Batam. Sebagian besar ruas jalan yang menjadi pertimbangan memiliki tiga hingga enam lajur. “Pilihan kita nanti di lajur paling kiri,” kata Bambang di Batam, Kamis, 10 September 2026.
Baca Juga: Trans Batam Mulai Layani Rute Bandara Hang Nadim
Pilihan itu juga membawa tantangan karena lajur kiri berdekatan dengan pergerakan sepeda motor. Dishub perlu mengatur ruang tersebut agar bus dapat bergerak lebih lancar tanpa menciptakan konflik baru dengan kendaraan roda dua.
Dishub Batam telah membahas rencana tersebut bersama BP Batam, terutama mengenai pemanfaatan satu lajur untuk memperkuat layanan angkutan umum. Pembahasan itu menjadi bagian dari penyesuaian penggunaan ruang jalan seiring perkembangan jaringan jalan Batam.
Koridor Batam Center–Tanjung Uncang menjadi prioritas karena pelebaran jalannya sudah selesai. Kondisi tersebut memberi ruang bagi Dishub untuk mulai menerapkan konsep lajur khusus secara bertahap.
“Yang kami prioritaskan dari Batam Center ke Tanjung Uncang, karena pelebaran jalan sudah selesai,” ujar Bambang.
Penerapan lajur khusus tidak sekaligus berlaku di seluruh koridor. Dishub akan menyesuaikannya dengan penyelesaian dan kondisi setiap ruas jalan sehingga marka serta pengaturan lalu lintas dapat mengikuti kesiapan infrastrukturnya.
Bagi pengguna Trans Batam, perubahan ini berkaitan langsung dengan waktu tempuh dan kepastian perjalanan. Bus yang tidak terlalu sering terhambat arus kendaraan lain berpeluang memberikan layanan yang lebih konsisten bagi penumpang.
Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan upaya Pemko Batam membuat angkutan umum lebih terjangkau. Pada 2026, pemerintah kota mengalokasikan sekitar Rp47 miliar untuk Trans Batam, termasuk anggaran bus yang mengantar anak-anak dari wilayah hinterland menuju sekolah.
Tarif Trans Batam saat ini Rp5.000 untuk penumpang umum dan Rp2.500 bagi pelajar. Tarif tersebut masih mendapat subsidi pemerintah sehingga biaya perjalanan dengan bus tetap lebih rendah bagi masyarakat.
Subsidi menjadi penting karena salah satu tujuan layanan Trans Batam adalah mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi. Namun, membuat tarif murah saja tidak cukup jika perjalanan bus masih kalah nyaman dan efisien dibandingkan kendaraan pribadi.
Karena itu, lajur khusus menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas layanan dari sisi perjalanan. Ruang jalan yang lebih teratur dapat memberi keuntungan bagi bus tanpa harus menunggu seluruh sistem transportasi Batam berubah sekaligus.
Di sisi lain, subsidi tetap membutuhkan dukungan pendanaan yang berkelanjutan. Dishub mencoba mengurangi tekanan tersebut dengan mengoptimalkan aset Trans Batam sebagai sumber pendapatan tambahan.
Ruang iklan di halte, videotron, branding halte, serta sejumlah sarana pendukung ditawarkan sebagai aset yang dapat menghasilkan pendapatan. Pemanfaatannya telah memiliki dasar melalui peraturan wali kota.
“Pada 2026 ini pendapatan dari sewa iklan hampir Rp1 miliar,” kata Bambang.
Pendapatan tersebut memang belum sebanding dengan anggaran Trans Batam yang mencapai sekitar Rp47 miliar. Namun, pemasukan dari aset memberi tambahan untuk menekan sebagian beban subsidi, termasuk dari penyewaan halte yang dapat mencapai sekitar Rp2,5 juta per bulan untuk satu halte. ANTARA
Baca Juga: Penumpang Trans Batam Naik di Tengah Kenaikan Biaya Hidup
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









