Bagaimana Mengenali Gejala Penyakit Katup Jantung?

gangguan irama jantung
Ilustrasi. Gangguan irama jantung juga banyak menimpa usia produktif. Foto: Freepik.com

Dokter mengingatkan pentingnya deteksi dini. Pemeriksaan menentukan penanganan yang tepat.

JAKARTA (gokepri) – Penyakit katup jantung sering baru terdeteksi setelah fungsi jantung menurun karena gejalanya berkembang perlahan dan kerap diabaikan. Pemeriksaan dini menjadi kunci untuk mencegah kerusakan jantung yang lebih berat.

Gangguan katup jantung muncul ketika katup mengalami penyempitan (stenosis) atau tidak menutup sempurna (regurgitasi). Kondisi itu menghambat aliran darah sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Baca Juga: Zero Fluoroscopy, Prosedur Jantung Tanpa Radiasi Aman untuk Anak Hingga Pasien Ginjal

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Vera Citra Setiawan Hoei, mengatakan kerusakan katup yang berlangsung lama dapat memicu pembesaran jantung, gangguan irama, hingga penurunan kemampuan jantung memompa darah. “Gejalanya muncul perlahan, sehingga pemeriksaan penting untuk menentukan penanganan yang tepat,” kata Vera dalam keterangan tertulis, Kamis, 6 Agustus 2026.

Menurut Vera, jantung memiliki empat katup, yaitu mitral, aorta, trikuspid, dan pulmonal. Keempatnya berfungsi menjaga aliran darah tetap bergerak ke satu arah.

Ketika salah satu katup mengalami gangguan, dampaknya tidak selalu langsung terasa. Sebagian pasien dengan kerusakan katup yang berat justru hanya mengalami keluhan ringan sehingga penyakit baru diketahui setelah fungsi jantung mulai menurun.

Gangguan katup jantung dapat dipicu demam rematik setelah infeksi tenggorokan, proses penuaan dan pengapuran katup, infeksi katup jantung atau endokarditis, kelainan bawaan, hipertensi, serangan jantung, maupun gagal jantung.

Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia, mulai anak-anak hingga lanjut usia, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau faktor risiko terkait. Pada ibu hamil, kelainan katup yang sebelumnya tanpa gejala juga dapat mulai menimbulkan keluhan karena beban kerja jantung meningkat.

Vera mengingatkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, antara lain sesak napas saat beraktivitas atau berbaring, mudah lelah, jantung berdebar, nyeri dada, pusing hingga pingsan, serta pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau perut.

Namun, menurut dia, berat-ringannya gejala tidak selalu menggambarkan tingkat kerusakan katup. Karena itu, pemeriksaan penunjang tetap diperlukan meski keluhan masih ringan.

Pemeriksaan utama untuk memastikan diagnosis ialah ekokardiografi atau USG jantung. Pemeriksaan tersebut menilai bentuk dan fungsi katup, tingkat penyempitan atau kebocoran, ukuran ruang jantung, serta kekuatan pompa jantung.

Selain itu, dokter dapat melengkapi pemeriksaan dengan elektrokardiografi (EKG), foto rontgen dada, tes latih jantung, CT scan, MRI jantung, maupun kateterisasi jantung sesuai kondisi pasien.

Operasi Bukan Satu-satunya Pilihan

Vera mengatakan tidak semua pasien memerlukan operasi. Pada gangguan ringan, pasien cukup menjalani pemantauan berkala disertai obat untuk mengurangi penumpukan cairan, mengendalikan tekanan darah dan irama jantung, serta mencegah pembentukan bekuan darah sesuai indikasi.

“Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan katup, gejala, fungsi pompa jantung, dan kondisi pasien,” ujarnya.

Pada kasus yang lebih berat, pilihan terapi dapat berupa pelebaran katup dengan balon, perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, hingga Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) pada pasien dengan indikasi tertentu.

Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Margareth Aryani Santoso mengatakan penanganan penyakit katup jantung memerlukan diagnosis yang akurat, kolaborasi berbagai disiplin ilmu, dan fasilitas yang memadai sejak tahap pemeriksaan hingga rehabilitasi.

Menurut dia, pendekatan terpadu diharapkan tidak hanya mengatasi kerusakan katup, tetapi juga mempertahankan fungsi jantung dan meningkatkan kualitas hidup pasien. ANTARA

Baca Juga: Pasien Jantung Akut Jangan Naik Pesawat, Mudik Bisa Berisiko Komplikasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait