BATAM (gokepri) – Jaringan Trans Batam mulai diarahkan menjadi sistem yang tidak berhenti di koridor utama, tetapi menjangkau permukiman melalui layanan feeder. Skema ini menempatkan BRT sebagai tulang punggung perjalanan, sementara angkutan pengumpan membawa penumpang dari kawasan permukiman menuju koridor utama.
Dishub Batam menargetkan layanan feeder mulai diterapkan pada 2027. Pemerintah kota masih mengkaji tarif dan pola operasinya, termasuk kemungkinan menggandeng angkutan umum yang selama ini sudah melayani masyarakat.
Kepala UPT Trans Batam Dishub Kota Batam Bambang Sucipto mengatakan pengembangan BRT memiliki dasar dalam peraturan daerah. Penerapannya mulai berjalan bertahap sejak 2 Juli 2026 melalui integrasi koridor Trans Batam dengan layanan menuju Bandara Hang Nadim. “Perda sudah mengamanatkan transportasi BRT,” kata Bambang di Batam, Kamis, 10 September 2026.
Baca Juga: Bus Trans Batam Segera Punya Lajur Khusus
Salah satu bentuk awal integrasi itu terlihat pada koridor Nongsa–Batam Center yang terhubung dengan Bandara Hang Nadim. Saat ini lima unit bus melayani koridor tersebut dengan keberangkatan sekitar setiap 20 menit pada pagi hari dan 30–40 menit pada siang hari.
Pola itu masih akan disesuaikan dengan kebutuhan penumpang. Pihak Bandara Hang Nadim, misalnya, meminta waktu tunggu sekitar 10 menit sehingga kebutuhan armada di koridor tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar tujuh unit. “Kemarin bandara meminta interval 10 menit untuk waktu tunggu,” ujar Bambang.
Pengembangan BRT kemudian diarahkan lebih jauh ke lingkungan permukiman. Di sinilah feeder menjadi penting karena bus pada koridor utama tidak mungkin masuk ke setiap kawasan perumahan atau jalan lingkungan.
Feeder akan membawa penumpang dari kawasan permukiman menuju koridor utama Trans Batam. Setelah mencapai koridor tersebut, perjalanan dapat diteruskan menggunakan bus Trans Batam menuju tujuan berikutnya.
Dishub masih mempertimbangkan tarif feeder sebesar Rp2.000 atau Rp5.000. Pilihan tarif itu akan menentukan seberapa murah perpindahan dari angkutan lingkungan menuju jaringan utama.
Bambang memberi contoh perjalanan dari Dapur 12 menuju Pasar Fanindo. Tarif Rp5.000 dinilai perlu dipertimbangkan kembali jika penumpang hanya menempuh perjalanan pendek menuju pasar, terlebih jika perjalanan berikutnya masih membutuhkan pembayaran tambahan.
“Ini masih kami kaji tarifnya,” kata Bambang.
Persoalan tarif bukan hanya soal murah atau mahal. Dishub juga perlu menentukan bagaimana tarif feeder terhubung dengan perjalanan menggunakan Trans Batam agar perpindahan moda tidak justru membuat biaya perjalanan menjadi terlalu tinggi.
Skema tersebut nantinya dituangkan dalam Peraturan Wali Kota. Aturan itu akan menjadi dasar untuk menentukan tarif dan mekanisme layanan feeder ketika mulai berjalan.
Rencana tersebut juga tidak berarti angkutan umum yang sudah ada harus tersingkir dari sistem baru. Dishub justru berencana merangkul operator lama agar mereka masuk ke dalam pola feeder Trans Batam.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Bimbar, angkutan umum berukuran mini yang telah lama beroperasi di Batam. Kendaraan tersebut berpotensi mengisi fungsi pengumpan karena ukurannya lebih sesuai untuk menjangkau kawasan yang tidak terlayani bus koridor utama.
“Seperti Bimbar dan sebagainya, akan kita rangkul sebagai operatornya,” ujar Bambang.
Masuknya Bimbar ke pola feeder bukan berarti operator dapat langsung beroperasi tanpa perubahan. Dishub akan menetapkan standar tertentu agar angkutan yang masuk ke jaringan BRT memenuhi persyaratan keselamatan dan pelayanan.
Pengemudi, misalnya, harus memiliki SIM dan mengikuti pelatihan. Operator juga harus memenuhi ketentuan lain yang nantinya menjadi bagian dari standar layanan feeder.
Dengan pola tersebut, Batam mulai membangun jaringan transportasi yang memiliki fungsi berbeda pada setiap lapisannya. Bus Trans Batam melayani koridor utama, sedangkan feeder mengisi jarak antara permukiman dan jaringan tersebut.
Model ini juga mengubah ukuran keberhasilan layanan angkutan umum. Bukan hanya seberapa banyak bus yang tersedia, tetapi apakah warga dari kawasan permukiman dapat mencapai koridor utama dengan mudah, tarif terjangkau, dan waktu tunggu yang masuk akal.
Koridor Nongsa–Batam Center yang terhubung dengan Bandara Hang Nadim menjadi salah satu tahap awal integrasi tersebut. Berikutnya, layanan feeder yang ditargetkan mulai 2027 akan menentukan seberapa jauh jaringan Trans Batam dapat masuk lebih dekat ke perjalanan sehari-hari warga. ANTARA
Baca Juga: Trans Batam Mulai Layani Rute Bandara Hang Nadim
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









