BATAM (gokepri.com) – Kenaikan biaya hidup di Singapura dan Malaysia mulai mengubah pola kunjungan wisatawan ke Batam.
Kota industri di Kepulauan Riau ini kini semakin berkembang sebagai destinasi wisata belanja favorit bagi warga negara tetangga yang mencari harga kebutuhan lebih terjangkau.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardiwinata, menyebut fenomena tersebut sebagai dinamika alami. “Dengan kenaikan harga di negara asal, wisatawan memilih Batam sebagai alternatif karena harga di sini lebih kompetitif,” ujarnya, Senin, 6 April 2026.
Ardi mengatakan, pemerintah Kota Batam optimistis tren ini akan mendorong pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 1,7 juta orang pada 2026. Optimisme tersebut didukung oleh pembangunan infrastruktur, peningkatan fasilitas pariwisata, serta penyelenggaraan berbagai kegiatan seni dan budaya.
“Ini baik buat kita. Kunjungan wisman bisa meningkat. Efek dominonya terasa langsung ke masyarakat,” kata dia.
Selain itu, penguatan sektor pariwisata juga terus dilakukan melalui pengembangan jalan, hotel, dan restoran guna meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Dengan daya saing harga yang kuat dan lokasi yang strategis, Batam kini tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga sebagai pusat ekonomi alternatif di kawasan regional serta destinasi unggulan wisata belanja lintas negara di Asia Tenggara.
Data terbaru menunjukkan inflasi makanan di Singapura meningkat menjadi 1,6 persen pada Februari 2026, naik dari 1,2 persen pada periode sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi pada sejumlah komoditas utama seperti sereal, daging, dan buah-buahan. Selain itu, harga bahan bakar minyak juga mengalami kenaikan hingga sekitar SGD 2,35 per liter.
Sementara itu, di Malaysia, tekanan harga masih dirasakan masyarakat meskipun inflasi makanan relatif stabil di kisaran 1,3 hingga 1,5 persen. Lonjakan harga komoditas seperti minyak sawit mentah (CPO) yang diproyeksikan mencapai RM 4.500 per ton turut mendorong meningkatnya biaya hidup.
Di tengah kondisi tersebut, Batam justru mencatat lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura, dengan tujuan utama berbelanja. Perbedaan harga antarnegara dinilai menjadi faktor utama yang mendorong pergeseran ini. *
Penulis: Engesti








