GMP 2026 Jadi Ruang UMKM Kepri Perluas Pasar

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri Rony Widijarto. (foto: engesti/gokepri)

BATAM (gokepri.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (BI Kepri) mendorong warisan budaya Melayu tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Upaya itu dilakukan melalui Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 yang digelar pada 14-20 September 2026 di K-Square Mall, Batam, dengan mengusung tema “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan”.

Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto mengatakan potensi budaya Melayu dapat dikembangkan melalui berbagai sektor, mulai dari UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, fesyen hingga pariwisata.

Ia menyampaikan pengembangan sektor-sektor tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperluas manfaat pertumbuhan bagi masyarakat.

GMP 2026 menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar. Sejumlah kegiatan digelar dalam rangkaian acara tersebut, di antaranya expo, fashion show, talkshow, business matching, workshop, kompetisi, charity run, dan festival kuliner nusantara.

Selain memperluas akses pasar, BI Kepri turut mendorong digitalisasi transaksi bagi pelaku usaha melalui penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Hingga Juli 2026, volume transaksi QRIS di Kepri mencapai 87,62 juta transaksi atau tumbuh 108,61 persen secara tahunan. Secara nominal, transaksi mencapai Rp9,94 triliun atau tumbuh 85,95 persen.
Jumlah merchant QRIS di Kepri juga telah mencapai 483.299 merchant, dengan 95,83 persen di antaranya merupakan merchant UMKM.

Penggunaan QRIS juga semakin berkembang di kalangan wisatawan mancanegara melalui layanan QRIS cross border.

BI Kepri mencatat transaksi QRIS cross border oleh wisatawan asal Malaysia, Singapura, Thailand, Korea, dan Tiongkok hingga Juli 2026 mencapai Rp169,95 miliar.

Bp batam banner link sep 2027

Nilai tersebut meningkat 1.866,41 persen secara year to date (ytd) dan 720,85 persen secara tahunan. Sementara volume transaksi mencapai 461.198 transaksi atau meningkat 1.639,98 persen secara ytd dan 551,73 persen secara tahunan.

Kemudahan transaksi digital tersebut diharapkan turut mendukung aktivitas wisatawan mancanegara selama berada di Kepri sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha lokal untuk melayani pasar wisatawan.

Di tengah penguatan UMKM dan ekonomi kreatif, perekonomian Kepri juga masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Pada triwulan II 2026, ekonomi Kepri tumbuh 6,99 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang sektor industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran.

Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 24,08 persen secara tahunan, yang salah satunya didukung meningkatnya aktivitas investasi pusat data di Batam.

Meski demikian, BI Kepri menilai pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan penguatan sumber pertumbuhan baru agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

“Ke depan, penguatan sumber pertumbuhan ekonomi baru perlu terus diakselerasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor-sektor utama dan memperluas dampak pertumbuhan yang inklusif bagi masyarakat,” kata Rony.

Untuk itu, BI Kepri terus mendorong pengembangan UMKM melalui tiga pilar, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan.

Selain itu, BI Kepri bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait terus memperkuat pengendalian inflasi.

Pada Agustus 2026, Kepri mencatat deflasi 0,17 persen secara bulanan. Sementara inflasi tahunan tercatat 3,87 persen, turun dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 4,24 persen.

Secara keseluruhan, ekonomi Kepri pada 2026 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 6,3-7,1 persen.
Melalui GMP 2026, BI Kepri mendorong kekayaan budaya Melayu semakin terhubung dengan aktivitas ekonomi, sehingga pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata di Kepulauan Riau.*

Penulis: Engesti

Pos terkait