Batam Bersiap Menghadapi Kabut Asap

Asap kebakaran lahan di kawasan Trans Barelang, Batam, yang diduga berdampak pada penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah Batam.
Pemandangan skyline Batam yang berkabut dan berawan dari dataran tinggi di Batam, Kepri, Senin (24/8/2026). ANTARA/Angiela

Kualitas udara Batam masuk kategori tidak sehat. Asap Kalimantan masih berpotensi masuk Kepri.

BATAM (gokepri) – Kualitas udara Batam memburuk. Kabut asap dari karhutla Kalimantan masih berpotensi bergerak ke Kepri dalam beberapa hari ke depan. Hujan yang masih rendah dan bersifat lokal membuat pemerintah meminta warga mengurangi paparan asap serta bersiap menghadapi gangguan kesehatan dan aktivitas.

Laporan BMKG pada 15 September 2026 pukul 08.00 menunjukkan kualitas udara Kota Batam masuk kategori tidak sehat. Kondisi itu mendorong Pemerintah Kota Batam menerbitkan Surat Edaran Nomor 47 Tahun 2026 tentang Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan terhadap Kabut Asap di Wilayah Kota Batam.

Baca Juga: El Nino Datang, Singapura Optimistis Mitigasi RI Cegah Kabut Asap

Surat edaran tersebut tidak hanya menyasar warga. Sekolah, tempat usaha, fasilitas kesehatan, dan pengelola tempat umum juga mendapat arahan untuk menyesuaikan aktivitas jika kondisi udara semakin buruk.

Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengingatkan warga agar tidak menambah sumber asap dari lingkungan sekitar. “Kami mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah, lahan, semak, maupun material lainnya,” kata Amsakar di Batam, Selasa 15 September 2026.

Imbauan itu menjadi penting ketika kualitas udara sudah berada pada tingkat yang tidak sehat. Pembakaran sampah, semak, lahan, atau material lain dapat menambah partikel di udara dan memperburuk kondisi yang sudah terpengaruh kabut asap.

Amsakar juga meminta warga mengurangi aktivitas di luar rumah ketika asap semakin pekat. Jika harus keluar, warga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi paparan udara yang tercemar.

Kelompok rentan mendapat perhatian lebih besar karena dampak asap tidak sama bagi setiap orang. Bayi dan anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih.

Bp batam banner link sep 2027

Gejala seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, nyeri dada, iritasi mata berat, dan sakit tenggorokan perlu mendapat perhatian. Warga yang mengalami gangguan tersebut diminta memeriksa kondisi kesehatan dan mencari pertolongan medis bila diperlukan.

Sekolah juga diminta menyesuaikan kegiatan ketika kualitas udara tidak memungkinkan. Kegiatan belajar maupun olahraga di luar ruangan dapat dikurangi untuk mengurangi paparan siswa, guru, dosen, dan tenaga kependidikan terhadap asap.

Tempat yang banyak dikunjungi warga juga perlu mengantisipasi masuknya asap ke dalam bangunan. Pusat perbelanjaan, hotel, kawasan usaha, dan tempat umum diminta memastikan ventilasi serta pendingin udara berfungsi baik.

Rumah sakit, puskesmas, dan klinik juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Pemerintah mengantisipasi kemungkinan bertambahnya warga yang membutuhkan layanan akibat gangguan pernapasan.

Di tingkat provinsi, BMKG melihat ancaman asap belum segera berakhir. Kepala BMKG Tanjungpinang Ahmad Kosasih menyebut asap dari karhutla di Kalimantan masih berpotensi bergerak menuju Kepri.

Arah angin menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan asap tersebut. Angin dari arah tenggara hingga selatan berpotensi membawa asap dari wilayah Kalimantan menuju Kepri.

“Selama di Kalimantan kondisinya masih terbakar cukup masif, tetap akan berdampak ke Kepri,” kata Kosasih di Tanjungpinang, Selasa 15 September 2026.

Persoalannya, kondisi cuaca Kepri belum banyak membantu membersihkan udara. BMKG memperkirakan hujan memang masih berpeluang turun, tetapi sifatnya lokal dan ringan sehingga belum bisa menjadi penahan utama penyebaran asap.

“Kalau posisi prediksi kami memang ada potensi hujan, tapi itu sangat lokal dan kondisinya ringan,” ujar Kosasih.

Situasi tersebut membuat warga perlu memperhatikan bukan hanya kualitas udara, tetapi juga jarak pandang. Asap yang semakin pekat dapat mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.

“Jarak pandang yang terbatas akibat asap pekat juga meningkatkan risiko kecelakaan,” katanya.

Dampaknya mulai terasa di sejumlah wilayah Kepri. Kabut asap pekat menyelimuti Tanjungpinang dan Bintan sejak Senin (14/9), sehingga pemerintah setempat ikut memperketat imbauan kepada masyarakat.

Pemerintah Kota Tanjungpinang bahkan menerapkan pembelajaran daring bagi siswa PAUD, TK, SD, hingga SMP pada 15-18 September 2026. Kebijakan itu menunjukkan bahwa kabut asap mulai memengaruhi aktivitas harian, terutama kegiatan yang membuat anak berada di luar ruangan.

Kepala Dinas Kominfo Tanjungpinang Teguh Susanto meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker. Ia juga mengingatkan kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kualitas udara.

“Kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker,” ujar Teguh.

Agung, warga Perumahan Kijang Kencana 3, mengaku jarak pandang terganggu ketika berkendara sehingga ia memilih menggunakan masker saat bepergian dengan sepeda motor.

Kabut asap juga membuat warga berharap pemerintah memberi dukungan yang lebih langsung. “Kami berharap pemerintah ikut membantu warga menghadapi kondisi kabut asap, salah satunya dengan menyediakan masker gratis,” kata Agung. ANTARA

Baca Juga: Kabut Asap Memburuk, Singapura Perketat Perlindungan Kesehatan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait