BATAM (gokepri) – Inflasi di Kepulauan Riau per September 2024 tercatat sebesar 2,53%, dipicu oleh kenaikan harga beras dan cabai merah. Stabilitas harga di Batam dan Karimun menunjukkan perekonomian Kepri yang tetap terkendali dan daya beli yang cukup baik.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Peningkatan harga beras mencapai 8,05%, sementara harga cabai merah meningkat sebesar 2,51%. Dua komoditas ini menjadi penyumbang utama dalam kelompok volatile food.
Kepala BPS Kepri, Margeretha Ari Anggorowati, mengungkapkan inflasi tahunan sebesar 2,53% ini dipengaruhi oleh beberapa kelompok pengeluaran utama yang mengalami kenaikan harga, terutama pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,46% (year on year/YoY).
“Selain cabai merah dan beras, beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai hijau justru mengalami deflasi, mencerminkan kondisi pasokan yang lebih baik dibandingkan komoditas lainnya,” kata Margeretha di Batam, Kamis pekan lalu.
Dia menegaskan inflasi masih berada dalam rentang target inflasi nasional, menunjukkan perekonomian yang stabil.
“Inflasi 2,53% ini bersumber dari kota-kota utama di Kepri, yakni Batam dan Tanjungpinang. Kenaikan tipis sebesar 0,14% dari Agustus 2024 menunjukkan kestabilan harga yang terjaga dari bulan ke bulan,” ungkapnya.
Berdasarkan data BPS, Batam menjadi daerah dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi di Provinsi Kepri pada September 2024, mencapai 2,76% (YoY). Inflasi bulanan di Batam juga cukup stabil dengan kenaikan 0,18% dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan bahwa permintaan barang dan jasa di kota ini masih dalam kendali.
Indeks Harga Konsumen (IHK) Batam tercatat di angka 106,66, yang mencerminkan daya beli masyarakat yang cukup baik.
Di sisi lain, Kota Tanjungpinang mengalami penurunan harga pada bulan September dengan inflasi bulanan sebesar -0,05% (month to month/MtM), sehingga tingkat inflasi tahunan kota ini berada pada posisi 1,36% (YoY). Nilai IHK di Tanjungpinang tercatat sebesar 104,74, lebih rendah dibandingkan Batam, mencerminkan dinamika ekonomi yang berbeda antara kedua kota utama di Kepri.
Sementara itu, Kabupaten Karimun menunjukkan tren inflasi yang stabil dengan inflasi bulanan sebesar 0,02% dan tahunan sebesar 2,04%. Dengan IHK yang berada di angka 105,50, Karimun menunjukkan pola perkembangan harga yang relatif stabil, menandakan bahwa kebijakan distribusi bahan pokok di wilayah ini cukup efektif.
Komponen Inflasi September 2024 di Kepulauan Riau
Selain volatile food, sektor transportasi juga memberikan pengaruh signifikan terhadap inflasi umum dengan kenaikan sebesar 3,39% (YoY), didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara yang mencapai 11,58%, memberikan andil sebesar 0,18% pada inflasi keseluruhan.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi kedua setelah kelompok makanan, dengan kenaikan harga sebesar 7,5% (YoY). Produk-produk perawatan pribadi, seperti kosmetik dan tarif jasa kecantikan, menjadi pendorong utama inflasi di kelompok ini, mencerminkan peningkatan permintaan terhadap produk-produk non-esensial di kalangan masyarakat Kepri.
Namun, tidak semua sektor mengalami kenaikan harga. Kelompok pendidikan, misalnya, justru mencatatkan deflasi sebesar 1,92%, dipengaruhi oleh penurunan biaya pendidikan dan perlengkapan sekolah yang cukup signifikan.
Di luar sektor-sektor tersebut, beberapa komoditas yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi bulan September antara lain adalah emas perhiasan, yang mengalami lonjakan harga hingga 37,45% dan memberikan kontribusi inflasi sebesar 0,39%.
Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Adi Prihantara, mengatakan pengendalian inflasi bisa dilakukan melalui kerja sama antara para pemangku kepentingan, seperti Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri, Bank Indonesia, dan pihak lainnya.
Baca: PENURUNAN KONSUMSI: Mengintip Daya Beli Masyarakat Kepri saat Pandemi
Dengan inflasi yang terkendali dan perekonomian yang stabil, diharapkan Kepri dapat terus menjaga tren positif ini hingga akhir tahun 2024.
“Pemerintah daerah juga akan terus memantau perkembangan harga dan melakukan langkah-langkah antisipatif agar inflasi tetap terkendali, serta menjaga kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan ekonomi yang tepat sasaran,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








