Tanjungpinang (gokepri) – Perbaikan kawasan Pelantar Warna-Warni di Kampung Bugis-Senggarang, Tanjungpinang, masih terkendala kepemilikan aset. Pemko Tanjungpinang belum bisa mengucurkan anggaran perbaikan karena kawasan itu masih tercatat aset Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Sekertaris Daerah Kota Tanjungpinang Zulhidayat mengatakan kawasan pelantar Warna-Warni Kampung Bugis itu tidak masuk ke dalam program penanganan kawasan kumuh kota Tanjungpinang. Sebab, aset tersebut belum sepenuhnya dimiliki oleh Pemko Tanjungpinang. Sehingga Pemko tidak bisa mengalokasikan anggaran perbaikan di sana.
“Belum diserahkan sepenuhnya. Masih milik kementerian PUPR, jadi kami belum menganggarkan di tahun 2024,” kata dia, Sabtu 13 Januari 2024.
Baca Juga: Pelantar Warna-Warni yang Merana
Ia mengaku sudah mengetahui kondisi pelantar Warna-Warni di lokasi itu. Pemko juga berencana menyiapkan anggaran khsusus untuk perbaikan pelantar. “Kalau sekarang belum. Tapi kami akan coba siapkan anggarannya dan berkolaborasi dengan Kementerian PUPR untuk perbaikan,” kata dia.
Perlu diketahui bahwa pelantar warna-warni Kampung Bugis-Sengarang kondisinya sekarang memprihatinkan, pelantar dipenuhi lumut dan ada genangan air. Banyak pagar-pagar di pelantar itu yang hilang. Lampu penerang pelantar juga tidak berfungsi dengan baik.
Berapa titik pot yang seharusnya berisikan tanaman, terlihat kosong dan hanya berisikan genangan air dengan lumut dan sampah. Sejumlah tempat sampah juga penuh, usang, dan pecah-pecah. Pada malam hari tak ada penerangan yang memadai.
Sebelumnya, Ketua RT 003 Kampung Bugis, Bono, menyebut, sejak 2018 jembatan mulai rusak-rusak tapi tak kunjung diperbaiki. “Sudah lama tidak mendapat perawatan dari pemerintah daerah,” ujar Bono, Sabtu 6 Januari 2024.
Ia mengisahkan, awalnya pertama kali pelantar dibangun. Kampung Bugis menjadi objektif wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan untuk berfoto dan menghabiskan waktu di sore hari untuk bersantai. Namun kini kondisinya seperti perkampungan kumuh. Masyarakat setempat biasanya memanfaatkan pelantar itu untuk memancing atau berjalan. “Ya beginilah kondisinya sekarang,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Engesti Fedro









