Padang (gokepri.com) – Nama Ibu Kota Negara (IKN) jadi perbincangan hangat belakangan ini.
Presiden Joko Widodo menyebut IKN dengan nama Nusantara.
Pernyataan itu disampaikan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa dalam rapat Pansus RUU IKN di Jakarta, Senin, 17 Januari 2022.
Namun jauh sebelum diumumkan IKN itu, seorang sastrawan muda asal Minangkabau, Sumatera Barat, JS Khairen sudah memprediksinya di dalam karya novelnya.
Prediksinya ditemukan dalam kumpulan cerpen, “Rinduku Sederas Hujan Sore Itu”.
Dalam buku ini, ada salah satu cerpen bergenre distopian dengan judul ” Nusantara Top Secret Project: Rongga Waktu.”
Di sini disebutkan ibukota negara bernama Nusantara tahun 2382 yang bercerita dengan latar pulau Kalimantan.
Buku ini diterbitkan, Noura Publishing 2017 yang sudah cetak ulang tiga kali.
Di buku kumpulan cerpen lainnya berjudul “Hal yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku,” ada cerpen judulnya “Bertemu Sekali Lagi.”
Di sini, disebut ibu kota Indonesia pada tahun 2376, namanya Nusantara. Buku ini diterbitkan penerbit Bukune 2021.
“Cerpen itu saya buat tahun 2014 lalu dan di sana saya buat ibukota negara bernama Nusantara,” kata JS Khairen yang dihubungi Kompas.com, Selasa, 18 Januari 2022.
Khairen mengatakan prediksi ibukota negara Nusantara itu bukan hanya asal tebak-tebakan saja, namun karena riset sejarah.
“Saya mempelajari sejarah Indonesia sehingga terpikir memprediksi nama ibukota negara kita Nusantara,” jelas Khairen.
Siapa JS Khairen?
Khairen merupakan sastrawan muda berusia 30 tahun yang sudah menulis sejak tahun 2013.
Dari hasil karyanya sudah terbit 14 novel yang pada umumnya bergenre distopian atau cerita kejadian masa depan.
Sebenarnya Khairen berlatar belakang seorang sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia, namun lebih tertarik ke dunia sastra.
“Saya tamatan ekonomi UI. Nulis cerpen sejak semester akhir tahun 2013 lalu,” kata Khairen.
Setelah nama IKN diumumkan, kata Khairen, media sosial Instagramnya langsung diserbu followernya dengan berbagai komentar.
“Itu di medsos followers saya pada bercanda-canda bilang saya dukun, cenayang dan lainnya. Padahal saya lebih senang kalau dibilang karena kekuatan riset, dan mungkin karena sedikit rajin baca buku sejarah, jurnal, dengar nasehat negarawan dan ilmuan,” kata Khairen. (*)
(sumber: kompas.com)









