Warung Suroboyo Neng Rini, Lewati Masa Krisis dengan Kreasi

Adelia Setyo Rini di tempat usahanya, Warung Suroboyo Neng Rini, di kawasan Baloi Center, Kelurahan Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, Jumat (11/6/2021). (gokepri.com/zaki)
Adelia Setyo Rini di tempat usahanya, Warung Suroboyo Neng Rini, di kawasan Baloi Center, Kelurahan Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, Jumat (11/6/2021). (gokepri.com/zaki)

Batam (gokepri.com) – Hari sudah menjelang siang saat Adelia Setyo Rini (41) tiba di kiosnya, Warung Suroboyo Neng Rini. Kios pinggir jalan itu berada sekitar 50 meter dari gerbang masuk kawasan Baloi Center, Kelurahan Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam.

“Hari ini agak kesiangan, biasanya setiap pagi saya sudah buka warung,” kata Rini sembari meletakkan barang-barang belanjaan di salah satu meja kiosnya, Jumat (11/6/2021).

Kios berukuran 4 meter x 5 meter itu disewa Rini sejak empat tahun lalu. Setiap bulan, dia harus membayar sewa Rp1.750.000. Biaya itu sudah termasuk untuk pembayaran listrik dan air.

Awalnya, kios itu dia manfaatkan untuk usaha salon. Neisha Salon namanya. Neisha adalah nama putri sulung Rini yang kini duduk di kelas 8 SMP.

Namun, saat usaha salonnya mulai stabil dan memiliki banyak pelanggan, tiba-tiba pandemi Covid-19 menerjang. Semua sektor terdampak, termasuk usaha salon Rini yang memiliki seorang karyawan.

Larangan untuk berkumpul dan pembatasan aktivitas di luar rumah membuat jumlah kunjungan ke salon Rini merosot. Sebelumnya, tiap hari ada saja pelanggan yang datang. Sejak pandemi, pelanggan menjadi sepi.

“Kadang seminggu hanya ada satu pelanggan, kadang tak ada sama sekali. Saya terpaksa memberhentikan karyawan, karena tak mampu lagi membayar,” kata Rini.

Tak mau menyerah oleh keadaan, ibu dua anak ini mulai memilah-milah usaha lain. Dia akhirnya memantapkan hati untuk menggeluti usaha warung makan. Alasannya sederhana, setiap orang perlu makan. Anak-anak kos, karyawan, maupun ibu-ibu yang sibuk dan tak sempat memasak, bisa membeli makanan di warung Rini.

Sudah lebih setahun ini Rini berkreasi dengan usaha barunya, Warung Suroboyo Neng Rini. Setiap pagi sebelum membuka warung, Rini ditemani putri sulungnya berbelanja bahan-bahan makanan di pasar. Bahan-bahan itu kemudian diraciknya menjadi beragam menu yang siap disajikan untuk pelanggan.

Menu makanan yang disajikan mulai dari rawon, coto makassar, ayam penyet, ayam geprek, dan ayam bakar dengan harga Rp20 ribu plus nasi. Kemudian nasi campur, nasi pecel, nasi dan mie goreng pataya dengan harga Rp15 ribu. Selain menu makanan harian, Warung Suroboyo Neng Rini juga melayani pemesanan nasi kotak dengan harga mulai dari Rp15 ribu. Sementara minumannya ada sup buah, es campur, kopi o atau kopi panas, teh o atau teh panas, es jeruk, teh obeng atau es teh, dan aneka jus.

Untuk memperluas pemasaran, Rini memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, hingga layanan pesan antar makanan berbasis online. Dalam sehari, tak kurang dari 50 porsi terjual dengan omzet sekitar Rp600 ribu.

Khusus di hari Jumat, Rini menyisihkan beberapa nasi kotak untuk sedekah melalui program “Jumat Berkah” di masjid terdekat. Dia masih ingat, pelanggan nasi kotak pertamanya justru datang dari jemaah salat Jumat.

“Awalnya ada pelanggan nasi kotak dari situ (jemaah salat Jumat), terus akhirnya merembet sampai sekarang,” katanya.

Dukungan Pembiayaan dari Pegadaian

Rini bersyukur bisa melewati masa-masa krisis di saat pandemi Covid-19, terutama krisis keuangan yang membuat usaha salonnya terpuruk. Dia sempat berharap mendapatkan Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro atau BPUM sewaktu menerima notifikasi dari salah satu bank pemerintah, setahun lalu. Namun, saat memastikan notifikasi ke bank tersebut, statusnya berubah menjadi tidak terdaftar sebagai penerima bantuan.

Gagal mendapatkan BPUM, Rini lalu mencari bantuan modal usaha dari sumber lain. Pilihannya jatuh ke Pegadaian, karena prosedurnya mudah dan cepat.

“Alhamdulillah, waktu itu dapat pinjaman Rp10 juta dengan jaminan BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) motor. Prosesnya cepat dan tidak ribet, dua hari uangnya sudah cair,” katanya.

Dukungan pembiayaan tersebut sangat berarti bagi pelaku usaha mikro seperti Rini. Di tengah impitan ekonomi akibat pandemi Covid-19, dia membutuhkan dana segar untuk menopang biaya hidup keluarga dan permodalan usahanya. Apalagi dia harus menafkahi kedua putrinya seorang diri, sejak berpisah dengan sang suami.

Rini memanfaatkan dana tersebut untuk membeli peralatan masak baru dengan ukuran wadah lebih besar. Selama ini dia menggunakan peralatan masak dengan wadah berukuran kecil, sehingga harus dua kali memasak jika ada pesanan dalam jumlah banyak.

Rini juga membeli peralatan untuk membuat kue. Kebetulan momentumnya menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Di luar dugaan, pemesannya sangat banyak.

“Saya sampai menutup warung pada tiga hari menjelang Lebaran, karena sibuk menyelesaikan pesanan kue untuk pelanggan,” ungkapnya.

Kepala Cabang Bisnis Mikro Pegadaian Nagoya, Kota Batam, Fadlin Hardian Nasution mengatakan, Pegadaian mendukung para pelaku usaha mikro untuk tetap berkreasi dan menjalankan usahanya di tengah pandemi. Melalui Kreasi Ultra Mandiri, Pegadaian memberikan pinjaman dalam jangka waktu tertentu dengan jaminan gadai BPKB kendaraan bagi pelaku usaha mikro untuk mengembangkan usaha.

Pelaku usaha mikro yang usahanya sudah berjalan efektif lebih dari setahun dapat mengakses pinjaman Kreasi Ultra Mikro ini dengan plafon pinjaman sampai Rp10 juta. Syaratnya tidak sulit, yang penting mempunyai BPKB kendaraaan, Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan legalitas atau surat keterangan usaha.

“Surat keterangan usahanya minimal dari kelurahan. Kalau usahanya di pasar atau di mal, surat keterangan usahanya bisa dari pengelola pasar atau pengelola mal,” katanya.

Kreasi Ultra Mikro, lanjut Fadlin, memberikan pilihan jangka waktu pinjaman sesuai dengan kemampuan nasabah, mulai dari 12, 18, 24, atau 36 bulan. Sistem pembayaran angsuran bisa dilakukan secara tunai melalui outlet atau agen pembayaran Pegadaian dan Indomaret. Sedangkan untuk pembayaran angsuran secara non-tunai, bisa dilakukan melalui mesin ATM, aplikasi Pegadaian Digital Service, dan internet banking.

“Sewa modalnya ringan, hanya 1,15 persen per bulan,” katanya.

Fadlin menerangkan, minat pelaku usaha mikro untuk mengakses Kreasi Ultra Mikro di Cabang Pegadaian Nagoya semakin meningkat di masa pandemi. Pada 2019 atau sebelum pandemi, tercatat 386 pelaku mikro mengakses pinjaman Kreasi Ultra Mikro. Jumlah ini meningkat sekitar 45,85 persen atau bertambah 177 nasabah menjadi 563 pelaku mikro pada 2020. Sementara untuk tahun 2021, hingga bulan Mei tercatat sudah 476 pelaku mikro yang mengakses pinjaman Kreasi Ultra Mikro.

Pegadaian tidak hanya memberikan dukungan pembiayaan, tetapi turut mendampingi pelaku usaha mikro dalam mengembangkan usahanya. Pendampingan tersebut di antaranya melalui pelatihan tentang pembukuan, pengembangan usaha, hingga pemasaran.

“Dukungan pembiayaan ini merupakan komitmen Pegadaian dalam membantu pemerintah mempercepat pemulihan dan pengembangan bisnis pelaku usaha mikro agar naik kelas,” terang Fadlin. (zaki setiawan)

Pos terkait