Batam (gokepri.com) – Mutasi virus corona telah masuk ke Batam sejak ditemukan pada pasien pertama pada akhir April 2021. Virus varian B117 ini pertama kali menyebar di Inggris pada Desember 2020.
“Semalam sudah kita diskusikan dengan Dirjen dan Kepala Balitbangkes (Kemenkes),” ungkap Kepala Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Kota Batam, Budi Santoso, Senin (24/5).
Varian baru ini menginfeksi satu orang di Batam yang merupakan warga setempat. Pasien tersebut dirawat di Rumah Sakit Awal Bros sejak 22 April dan dinyatakan positif Covid-19 sehari kemudian. Pada 28 April 2021, pasien kembali ke rumahnya setelah disimpulkan sembuh usai dua kali tes PCR menunjukkan hasil negatif.
BTKL-PP lalu menyatakan virus Covid-19 yang menginfeksi pasien tersebut terkonfirmasi sebagai varian baru setelah hasil sampel dari Balitbangkes keluar pada 23 Mei 2021. Sampel itu dikirimkan pada 29 April 2021.
BTKL-PP Batam mengirimkan 131 sampel pada periode tersebut tapi hanya satu yang positif varian baru B117 sedangkan sisanya Covid-19 strain biasa.
“(B117) Ditemukan di masyarakat, artinya sudah ada virus strain sejenis di Inggris, ditemukan di Batam,” sebut Budi.
Ia mengungkapkan permasalahannya apakah dari pasien tersebut terjadi penularan pada fase-fase sebelum dinyatakan positif Covid-19 pada 23 April 2021. Meski menurut Budi, setelah dinyatakan sembuh mestinya tidak terjadi penularan.
Namun menjadi tugas Dinas Kesehatan Kota Batam dan Satgas Penanganan Covid-19 setempat untuk menelusuri kemungkinan terjadi penularan dari pasien tersebut demi membendung penularan lebih luas.
“Varian B117 sudah cukup banyak ditemukan di beberapa tempat,” ungkap Budi.
Mutasi virus varian B117 sudah ditemukan di beberapa tempat di Indonesia sejak kasus pertama awal Maret 2021. Mutasi ini ditemukan pada dua pekerja migran asal Karawang, Jawa Barat.
Mutasi baru virus korona B117 pertama kali ditemukan di Inggris pada 14 Desember 2020. Pemerintah Inggris lantas mengumumkan adanya varian baru virus korona yang bernama VUI-202012/01 atau First Variant Under Investigation in December 2020 atau B117. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian menyebutkan varian ini sudah menyebar di Inggris sejak September 2020.
Mutasi virus korona B117 disebut oleh pemerintah Inggris lebih menular hingga 70 persen dibandingkan varian awal SARS-CoV-2 yang ditemukan di Wuhan, Cina. Meski begitu, belum ada bukti virus ini menyebabkan kondisi yang lebih parah atau lebih mematikan pada inang yang diinfeksinya.
Kemampuan replikasi, virus B117 disebut lebih cepat menular karena varian virus ini membawa fitur biologis tertentu atau mutasi dalam genomnya. Mutasi virus korona B117 menyebabkan perubahan pada protein virus sehingga memiliki kemampuan menyerang atau beraksi lebih besar.
Varian B117 terdeteksi di 45 negara seperti Denmark, Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, India, Malaysia dan Singapura.
Gejala yang ditimbulkan varian B117 ini tidak berbeda signifikan dengan gejala yang ditimbulkan virus sars-CoV-2 yaitu batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, nyeri otot dan demam.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengeluarkan laporan terbaru awal Februari 2021 untuk mengantisipasi penularan varian baru virus korona. Dalam laporannya itu, CDC menyebutkan pengenaan masker bedah yang tepat atau jika menggunakan masker kain di atas masker bedah maka paparan partikel virus bisa berkurang lebih dari 95 persen. (Can)
|Baca Juga: Varian Baru Covid-19 Terdeteksi di Batam









