Ekosistem Digital Batam dan Bali Paling Cerah di Indonesia

Digital batam
CEO Infinite Studios, Michael Wiluan, yang mengembangkan Nongsa Digital Park. NDP dipersiapkan menjadi jembatan digital Singapura dan Indonesia lewat perjanjian bilateral investasi. (foto: The Straits Times/Ng Sor Luan)

Batam (Gokepri.com) – Batam dan Bali menjadi daerah dengan ekosistem digital paling menjanjikan di Indonesia bagi industri teknologi. Hasil studi perusahaan modal ventura asal Indonesia, East Ventures.

Hasil studi East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2021 menunjukkan Bali dan Batam, Provinsi Kepri, mencatatkan peningkatan skor secara signifikan, bahkan menembus dominasi provinsi-provinsi dari Jawa. Bali berada di peringkat keempat dengan skor 47,7 (naik dari peringkat ketujuh dengan skor 40,6 pada tahun lalu).

Sementara itu, Kepulauan Riau naik ke peringkat ketujuh dengan peningkatan skor dari 35,9 menjadi 43,0 pada tahun ini. Pada kedua provinsi, semakin banyak penduduk yang bergantung pada internet dalam pekerjaan atau menjalankan usahanya. Peringkat ini tepat di bawah Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai pusat talenta teknologi di Tanah Air.

HBRL

Sedangkan Bali memiliki infrastruktur digital terbaik kedua di Tanah Air setelah DKI Jakarta. Kajian ini disimpulkan dari banyaknya desa di provinsi yang telah mendapatkan jaringan 3G dan 4G.

Adapun Kepulauan Riau, faktor kedekatan Batam dengan Singapura menjadikan provinsi ini sebagai tujuan investasi digital. Ada pula beberapa kerja sama antara Indonesia dan Singapura dalam bentuk proyek seperti Nongsa Digital Park.

“[Indeks menunjukkan] daya saing digital antarprovinsi di Indonesia cenderung didominasi oleh provinsi di pulau Jawa diikuti oleh Sumatera dan Kalimantan. Provinsi di bagian timur negara cenderung mendapat skor terendah,” tulis laporan itu dan menyebut pertumbuhan ini konsisten sepanjang 2020 dan 2021.

Dalam laporan tersebut, posisi tiga teratas masih didominasi oleh DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur –posisi yang tetap konsisten sejak laporan edisi sebelumnya pada tahun 2020.

East Ventures menjelaskan ada enam faktor yang mereka pertimbangkan dalam menentukan daya saing digital suatu provinsi: Sumber daya manusia, penggunaan TIK, belanja TIK, kewirausahaan dan produktivitas, tenaga kerja, infrastruktur, pendanaan, peraturan, dan kapasitas pemerintah.

Bali dan Kepulauan Riau mendapat nilai tertinggi terutama dalam faktor sumber daya manusia serta kewirausahaan dan produktivitas.

Gambaran besar menurut laporan tersebut menyatakan bahwa indeks daya saing digital Indonesia meningkat dari 27,9 pada tahun 2020 menjadi 32 pada 2021. Hal ini menunjukkan distribusi peluang yang lebih merata di provinsi-provinsi.

Willson Cuaca, Co-Founder & Managing Partner East Ventures mengatakan bahwa infrastruktur merupakan pilar EV-DCI dengan kenaikan skor tertinggi hingga 7,5 poin menjadi 54,3 pada 2021. Sejumlah indikator yang menopang kenaikan skor ini adalah rasio desa yang mendapatkan sinyal 3G dan 4G, rasio rumah tangga yang memiliki sambungan telepon tetap, serta tingkat gangguan listrik.

Hampir semua provinsi mengalami kenaikan skor infrastruktur. Ini sejalan dengan upaya pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur digital. Kami berharap agar seluruh masyarakat Indonesia di 34 provinsi ikut menikmati era keemasan ekonomi digital Indonesia,” ujarnya, Senin (15/3/2021).

Laporan tersebut juga menyoroti perubahan ekonomi digital nasional yang dipengaruhi oleh pandemi COVID-19.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan pada Agustus 2020 bahwa jumlah rata-rata pengguna internet di Tanah Air meningkat 6% hanya dalam tiga bulan –dari 48,4 persen pada 2019 menjadi 54,4 persen pada 2020.

Ada juga peningkatan pengguna yang mengakses internet dari rumah dari 95 menjadi 96 persen, diikuti oleh penurunan pengguna yang mengakses dari kantor (32 persen menjadi 30 persen) dan sekolah (15 persen menjadi 13 persen). Perubahan ini tentunya terkait dengan tindakan lockdown yang diterapkan di beberapa bagian tahun ini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyatakan pemerintah akan lebih fokus pada pengembangan talenta melalui berbagai program pelatihan.

Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah akses dan konektivitas, yang diwakili oleh pemasangan kabel serat optik di seluruh Indonesia, dan upaya negara untuk membuat perusahaan menyiapkan pusat datanya di Indonesia.

“Kami sudah memiliki data geospasial lengkap yang tinggal kita integrasikan dengan pusat data di Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas). Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah mendorong cloud data center untuk pindah ke Indonesia. Kami telah melakukan pembicaraan dengan pemerintah Singapura tentang mendirikan pusat data di Batam, Jawa Barat, dan satu provinsi lagi. Ke depan, kami juga akan mengerjakan prototipe 5G,” paparnya baru-baru ini.

Sebagai gambaran, East Ventures telah berinvestasi pada berbagai vertikal baru: inklusi UKM, new retail, fintech, berita dan media, layanan kesehatan (healthcare), rantai pasokan (supply chain), dan transformasi digital. Hal ini mencakup investasi untuk Wahyoo, Stockbit, Allsome Fulfillment, Katadata, Cicil, Mekari, Kedai Sayur, Advotics, The FIT Company, dan Nalagenetics.

Sebagai pemegang saham di tiga startup unicorn Asia Tenggara, East Ventures telah membangun portofolio dengan pertumbuhan cepat seperti Traveloka, Tokopedia, Kudo (sekarang Grab), Loket (sekarang Gojek), ShopBack, Ruangguru, Sociolla, IDN Media, Waresix, dan MokaPOS.

East Ventures juga merupakan investor pertama bagi sebagian besar perusahaan-perusahaan tersebut. Selama tiga tahun terakhir, East Ventures juga memperkenalkan beberapa proyek internal seperti CoHive, Warung Pintar, dan yang terbaru, Fore Coffee. (Can)

|Baca Juga:

Pos terkait