Produksi telur yang melimpah di tengah lemahnya serapan pasar menekan harga di tingkat peternak. Pemerintah menyiapkan distribusi dan hilirisasi untuk memperluas penyerapan.
JAKARTA (gokepri) — Harga telur ayam ras di sejumlah daerah masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Rp 26.500 per kilogram. Kondisi itu menekan peternak ayam petelur di tengah tingginya produksi nasional dan melemahnya daya serap pasar dalam beberapa pekan terakhir.
Tekanan harga terutama dirasakan peternak di sentra produksi telur seperti Blitar dan Kendal. Meski aktivitas perdagangan masih berjalan, peternak berupaya menahan penurunan harga agar tidak semakin dalam.
Baca Juga: Harga Telur Ayam di Batam Merangkak Naik, Ini Kata Gustian Riau
Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Mandiri Rumah Kebersamaan BKT NT Eti mengatakan kondisi peternak di Blitar secara umum masih kondusif. Namun, tingginya pasokan membuat harga telur belum kembali stabil.
“Harga telur saat ini masih berada di bawah HAP. Kondisi ini dipengaruhi tingginya pasokan produksi di tengah melemahnya daya serap pasar,” ujar Eti dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Menurut Eti, perdagangan telur di tingkat peternak tetap berlangsung dengan mengacu pada harga yang disepakati bersama oleh pelaku usaha dan asosiasi peternak.
Situasi serupa terjadi di wilayah Kendal, Jawa Tengah. Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal Suwardi mengatakan peternak berupaya menjaga harga jual agar tidak terus mengalami penurunan.
“Peternak layer di wilayah Kendal dan sekitarnya tetap berupaya menjaga situasi agar tetap kondusif, termasuk menjaga harga jual telur agar tidak terus mengalami penurunan,” kata Suwardi.
Di tengah tekanan harga tersebut, Kementerian Pertanian memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan telur nasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan pemerintah mendorong penguatan distribusi antardaerah dan memperluas serapan pasar untuk membantu menstabilkan harga di tingkat peternak.
“Kementerian Pertanian terus memperkuat koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan telur nasional,” ujar Agung.
Pemerintah juga mulai mengarahkan pemanfaatan telur dalam berbagai program pangan dan gizi masyarakat. Di Kabupaten Magetan, misalnya, pemerintah daerah membahas penambahan menu berbasis telur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna meningkatkan penyerapan produksi.
Selain memperluas konsumsi, pemerintah mendorong hilirisasi hasil peternakan untuk membuka pasar baru bagi telur nasional. Strategi itu dinilai penting untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengurangi tekanan akibat kelebihan pasokan telur segar.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Makmun mengatakan pengembangan produk olahan telur akan memperluas pasar dan memperkuat keberlanjutan usaha peternak.
“Kami terus mendorong pengembangan produk olahan telur dan diversifikasi pemanfaatan hasil peternakan agar pasar semakin luas. Hilirisasi akan membantu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat stabilitas usaha peternak,” ujar Makmun.
Menurut Makmun, konsumsi protein hewani nasional masih berpotensi meningkat. Karena itu, edukasi gizi dan perluasan pemanfaatan telur dalam program pemerintah dinilai dapat membantu meningkatkan daya serap pasar domestik.
Kementerian Pertanian memastikan akan terus mengawal stabilisasi subsektor peternakan ayam petelur melalui penguatan distribusi, serapan pasar, hilirisasi, dan peningkatan konsumsi protein hewani agar usaha peternak rakyat tetap bertahan. ANTARA
Baca Juga: Telur Lagi, Telur Lagi: Orang Tua Siswa di Karimun Keluhkan Menu MBG
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









