Seperti Apa Rencana Pengembangan Hub Amonia di Batam?

pabrik amonia batam
Ilustrasi pupuk. Pupuk Indonesia menjajaki pembangunan pabrik amonia di Batam demi membidik pasar bahan bakar kapal. FOTO: BLOOMBERG

Pupuk Indonesia menjajaki pembangunan pabrik amonia di Batam. Membidik pasar bahan bakar kapal.

BATAM (gokepri) – Batam berpeluang masuk ke rantai pasok bahan bakar kapal berbasis amonia. Pupuk Indonesia menjajaki investasi US$500 juta dengan memanfaatkan gas Natuna dan Grissik. Menghubungkan hilirisasi gas bumi dengan peluang baru industri maritim.

Rencana tersebut muncul ketika industri pelayaran global mulai mencari alternatif bahan bakar rendah karbon. Amonia menjadi salah satu pilihan yang tengah dikembangkan untuk mendukung perubahan tersebut.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, rencana pembangunan ammonia hub di Batam sejalan dengan kebijakan pemerintah. Pemerintah ingin mengoptimalkan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Baca Juga: Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik Amonia Rp9 Triliun di Batam

Gas alam atau gas bumi merupakan salah satu bahan baku utama produksi amonia. Produk ini selama ini menjadi bahan penting bagi industri pupuk.

Presiden Prabowo Subianto, menurut Rahmad, menekankan pemanfaatan sumber daya alam untuk mendorong perekonomian nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia juga mengarahkan agar pemerintah memprioritaskan pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik.

“Pupuk Indonesia ini adalah perusahaan yang menggunakan gas alam sebagai bahan bakunya untuk memproduksi salah satunya amonia,” kata Rahmad di Batam, Senin (2/11/2026).

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi saat bertemu dengan BP Batam untuk menjajaki kerja sama pengembangan industri amonia di Batam.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi dan Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis memberikan keterangan kepada wartawan seusai beraudiensi dengan BP Batam di Kota Batam, Kepri, Senin (2/11/2026). ANTARA/Fitra Ashari

Pupuk Indonesia menjajaki pemanfaatan gas dari Natuna dan Grissik sebagai bahan baku pabrik amonia di Batam. Rencana tersebut juga mempertimbangkan peluang berakhirnya kontrak ekspor gas Indonesia ke Singapura pada 2028.

Melalui proyek ini, perusahaan ingin memperkuat industri hilir sekaligus membangun infrastruktur perdagangan amonia. Rantai industrinya mencakup produksi, penyimpanan, distribusi, hingga perdagangan untuk pasar domestik dan internasional.

Ads bp batam 2026 baru

Rahmad menegaskan, perusahaan ingin menciptakan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Namun, Pupuk Indonesia tetap membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra.

“Yang kami inginkan nilai tambahnya ada di dalam negeri,” ujarnya.

Pupuk Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi amonia sekitar 7,1 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut menjadi modal perusahaan untuk mengembangkan rantai industri amonia.

Membidik Pasar Bahan Bakar Kapal

Peluang lain muncul dari perubahan kebutuhan energi sektor pelayaran. Industri maritim global mulai mengarah pada penggunaan bahan bakar rendah karbon.

Organisasi Maritim Internasional atau International Maritime Organization (IMO) mengembangkan kerangka IMO Net-Zero Framework. Kerangka tersebut mendorong penggunaan bahan bakar rendah dan nol emisi, termasuk amonia.

Perkembangan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan fasilitas penyimpanan dan pengisian bahan bakar kapal berbasis amonia. Pupuk Indonesia melihat Batam berpotensi masuk ke dalam rantai pasok tersebut.

Singapura telah mengembangkan industri pengolahan minyak dan layanan maritim selama lebih dari lima dekade. Negara tersebut kemudian tumbuh menjadi salah satu pusat pengisian bahan bakar kapal terbesar di dunia.

Australia, Singapura, dan Korea Selatan juga mulai menyiapkan teknologi serta fasilitas pendukung pemanfaatan amonia sebagai bahan bakar kapal. Pengembangan fasilitas ammonia bunkering menjadi bagian dari persiapan menghadapi peralihan energi sektor pelayaran.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, Pupuk Indonesia menyiapkan investasi sekitar US$500 juta atau setara Rp8 triliun hingga Rp9 triliun. Perusahaan memperkirakan pembangunan pabrik membutuhkan waktu sekitar tiga tahun setelah seluruh persyaratan terpenuhi.

“Segera setelah semua hal yang kami harapkan itu sudah terpenuhi, kami akan segera memulai pembangunan,” kata Rahmad.

Proyek tersebut juga berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar selama masa konstruksi. Rahmad memperkirakan kebutuhan pekerja bisa mencapai 8.000 orang.

“Kalau untuk pabrik amonia itu selama masa konstruksi bisa menyerap sampai 8.000 pekerja,” ujarnya.

Rahmad menyatakan investasi tersebut tidak akan menggunakan dana negara. Pupuk Indonesia berencana membiayai proyek melalui kas internal perusahaan.

Ia menyebut keuntungan perusahaan pada tahun ini diperkirakan mendekati US$1 miliar. Menurut dia, kemampuan keuangan tersebut cukup untuk mendukung investasi pabrik amonia.

Kinerja perusahaan pada semester I 2026 juga menunjukkan pertumbuhan. Pupuk Indonesia mencatat laba bersih Rp8,51 triliun, naik dari Rp2,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan laba bersih tersebut mencapai 253 persen secara tahunan. Pendapatan perusahaan juga tumbuh 51 persen menjadi Rp59,67 triliun.

Sementara itu, EBITDA perusahaan meningkat 140 persen menjadi Rp14,28 triliun.

BP Batam Fasilitasi Lahan dan Perizinan

Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis menyambut rencana investasi tersebut. BP Batam menyatakan siap mempercepat perizinan dan memfasilitasi kebutuhan lahan.

Fary menyebut kebutuhan lahan proyek mencapai ratusan hektare. BP Batam juga akan menyiapkan proses lanjutan jika rencana investasi mencapai tahap ready to invest.

Pada tahap tersebut, BP Batam akan membentuk tim bersama Pupuk Indonesia. Tim ini akan mendukung proses lanjutan agar rencana investasi dapat bergerak menuju realisasi.

“BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia,” kata Fary.

Fary mengatakan, dukungan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto pada 7 Juli 2026. Arahan itu menempatkan Batam sebagai salah satu model pertumbuhan ekonomi melalui investasi strategis di kawasan Selat Malaka. ANTARA/BISNIS.COM

Baca Juga: Jepang Kucurkan Hibah USD25 Juta untuk Proyek Amonia Hijau di Aceh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait