Pupuk Indonesia menjajaki pembangunan pabrik amonia di Batam. Membidik pasar bahan bakar rendah karbon untuk maritim.
BATAM (gokepri) – Batam berpeluang masuk ke pasar bahan bakar kapal melalui pengembangan industri amonia. PT Pupuk Indonesia memperkirakan investasi proyek tersebut mencapai 500 juta dollar AS atau sekitar Rp9 triliun.
Rencana itu masih dalam tahap penjajakan bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam. Pupuk Indonesia juga belum menetapkan lokasi pembangunan karena masih mengevaluasi sejumlah kawasan potensial.
Pembangunan pabrik diperkirakan membutuhkan waktu konstruksi sekitar tiga tahun. Proyek ini juga berpotensi menyerap hingga 8.000 tenaga kerja selama masa pembangunan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan Batam memiliki peluang mengembangkan industri amonia berbasis gas alam. Produk tersebut berpotensi memasok kebutuhan bahan bakar sektor maritim.
Baca Juga: Jepang Kucurkan Hibah USD25 Juta untuk Proyek Amonia Hijau di Aceh
“BP Batam ternyata akan membangun ekosistem maritim yang di dalamnya itu ada future fuel, yang sebagian besarnya adalah amonia,” kata Rahmad seusai bertemu BP Batam di Batam, Senin (2/11/2026).
Amonia mulai mendapat perhatian sebagai salah satu alternatif bahan bakar kapal. Pengembangannya sejalan dengan upaya industri pelayaran menekan emisi karbon.
Perubahan kebutuhan bahan bakar itu membuka peluang bisnis baru bagi kawasan pelabuhan. Batam berpotensi memasok amonia sekaligus mengembangkan layanan pendukung bagi kapal.
Rahmad mencontohkan Singapura yang membangun industri pengolahan minyak dan layanan pengisian bahan bakar kapal selama puluhan tahun. Infrastruktur tersebut mengantarkan Singapura menjadi salah satu pusat layanan bahan bakar maritim dunia.
Menurut Rahmad, Batam berpeluang mengembangkan ekosistem serupa dengan memanfaatkan peluang pasar bahan bakar alternatif. Sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik juga mulai menyiapkan fasilitas pelabuhan untuk mendukung pengisian bahan bakar amonia.
Pupuk Indonesia menyatakan rencana pembangunan pabrik amonia dengan kapasitas produksi tujuh juta ton per tahun. Rahmad menyebut kapasitas tersebut akan menjadi yang terbesar di kawasan Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Asia Pasifik.
Menunggu Kepastian Lokasi dan Gas
Pupuk Indonesia masih mengevaluasi beberapa lokasi potensial untuk pembangunan pabrik. Perusahaan akan mempertimbangkan kesesuaian lahan dan rencana pengembangan jangka panjang kawasan.
Ketersediaan gas alam juga menjadi faktor penting. Gas berperan sebagai bahan baku utama dalam proses produksi amonia.
Rahmad mengatakan Pupuk Indonesia membuka peluang kerja sama dengan mitra asing. Perusahaan ingin mengembangkan industri di dalam negeri agar Indonesia memperoleh nilai tambah dari sumber daya alamnya.
“Yang kita inginkan apa? Nilai tambahnya ada di dalam negeri,” ujar Rahmad.
Ia menegaskan, rencana tersebut bukan upaya menutup keterlibatan investor asing. Pupuk Indonesia justru ingin mendorong industrialisasi sumber daya alam melalui kerja sama yang terbuka.
Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan penjajakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah ingin menjadikan Batam sebagai contoh pertumbuhan ekonomi berbasis investasi.
BP Batam akan membantu kebutuhan kepastian lokasi dan mempercepat akses perizinan untuk pengalokasian lahan. Langkah berikutnya bergantung pada kesiapan proyek untuk masuk kategori ready to invest atau siap investasi.
Jika proyek memenuhi tahap tersebut, BP Batam akan membentuk tim bersama Pupuk Indonesia. Kedua pihak akan membahas kebutuhan teknis dan langkah strategis pengembangan pabrik.
“Kalau sudah masuk dalam ready to invest BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia,” kata Fary.
Pembangunan pabrik diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Perkiraan itu berlaku setelah perusahaan memperoleh kepastian lahan dan ketersediaan bahan baku. ANTARA
Baca Juga: Jepang Kaji Amonia Jadi Bahan Bakar Listrik Gantikan Batu Bara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







