BP Batam mengusulkan subsidi gas bagi industri. Diharapkan menekan biaya produksi dan menarik investasi.
BATAM (gokepri) – Harga gas menjadi salah satu tantangan daya saing industri Batam. BP Batam mendorong subsidi atau penurunan harga agar perusahaan mampu menekan biaya produksi dan menarik investasi baru.
Usulan tersebut menyasar seluruh pelaku industri, bukan hanya investor yang berencana membangun pabrik. Perusahaan yang sudah beroperasi juga membutuhkan gas bumi dengan harga lebih terjangkau.
Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan pihaknya membahas persoalan tersebut bersama para investor. Mereka ingin pemerintah memberikan dukungan harga gas bagi industri di Batam.
Baca Juga: PLN Batam Jaga Stabilitas Tarif Listrik di Tengah Kenaikan Harga Gas
“Kami bersama-sama dengan para investor mengomunikasikan bagaimana supaya ada subsidi atau dorongan agar khusus di Batam ini untuk gas juga bisa mendapatkan subsidi,” kata Fary di Batam, Senin (2/11/2026).
Menurut Fary, Batam belum memperoleh subsidi gas seperti sejumlah wilayah lain. Kondisi tersebut mendorong BP Batam mencari solusi bersama pemerintah dan pelaku industri.
Harga gas menjadi perhatian karena memengaruhi biaya operasional perusahaan. Keterjangkauan energi juga menjadi salah satu pertimbangan investor sebelum membangun fasilitas industri baru.
“Ini bukan hanya untuk teman-teman yang baru mendirikan pabrik, tetapi juga kebutuhan Batam secara menyeluruh,” ujar Fary.
Baca Juga: Harga Gas untuk Industri Bisa di Bawah USD6
Karena itu, BP Batam mendorong penurunan biaya gas untuk perusahaan yang sudah beroperasi maupun calon investor. Pemerintah diharapkan memberikan dukungan agar industri Batam tetap kompetitif.
Persoalan harga dan pasokan gas juga muncul dalam penjajakan kerja sama BP Batam dengan PT Pupuk Indonesia. Kedua pihak membahas peluang pembangunan pabrik amonia berbahan baku gas alam.
Pupuk Indonesia melihat amonia sebagai peluang untuk memasok kebutuhan bahan bakar alternatif sektor maritim. Industri pelayaran mulai mengembangkan pilihan bahan bakar rendah karbon sebagai alternatif marine fuel oil.
Peralihan menuju amonia membuka peluang pengembangan industri baru di Batam. Namun, pembangunan pabrik membutuhkan kepastian lokasi dan ketersediaan pasokan gas.
Rencana tersebut diperkirakan membutuhkan waktu konstruksi sekitar tiga tahun. Proyek ini juga berpotensi menyerap hingga 8.000 tenaga kerja selama masa pembangunan.
BP Batam dan Pupuk Indonesia masih membahas lokasi pabrik serta kesiapan pasokan gas. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan kelanjutan rencana investasi. ANTARA
Baca Juga: Dampak Kenaikan Harga Gas Murah untuk Industri
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







