Hasil Pemilu Israel dan Bayang-bayang Kejatuhan Netanyahu

Hasil pemilu israel
Seorang pendukung membentangkan spanduk bergambar Perdana Menteri Israel dan pemimpin Partai Likud Benjamin Netanyahu selama pemilu nasional Israel, di markas pemenangan Likud di Yerusalem, pada 27 Oktober 2026. (Foto: Reuters/Ronen Zvulun)

Tingginya partisipasi pemilih memicu kebuntuan politik di Israel. Kubu oposisi mampu menahan langkah petahana, Netanyahu.

JERUSALEM (gokepri) – Perang berkepanjangan memecah belah pilihan politik warga Israel dan memicu kebuntuan hasil pemilu. Mayoritas pemilih menghukum Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas kegagalan intelijen yang berujung perang. Melahirkan kubu oposisi kuat yang sukses menahan langkah petahana mempertahankan kekuasaan.

Pemungutan suara pada Selasa (27/10/2026) menjadi ujian politik pertama bagi Netanyahu usai serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Publik masih bergulat dengan trauma hilangnya 1.200 nyawa dan penyanderaan 251 orang. Rakyat merespons momentum ini dengan berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara. Komite Pemilihan Pusat Israel mencatat partisipasi mencapai 77,7 persen, tertinggi dalam dua dekade terakhir dan melonjak 7 persen dari pemilu 2022.

Namun, jajak pendapat awal justru memperlihatkan kebuntuan. Jaringan televisi Kan 11 dan Channel 13 melaporkan kekuatan kedua kubu seimbang. Sementara itu, Channel 12 mencatat kubu pimpinan Partai Likud asuhan Netanyahu unggul tipis atas penantangnya, Gadi Eisenkot, menjelang larut malam.

Baca Juga: Bermuatan Politis, Konser Israel Houghton di Jakarta Batal

Tidak ada satu pun kubu yang berhasil meraih 61 kursi mayoritas di parlemen Knesset yang berisi total 120 kursi. Partai-partai agama sayap kanan ekstrem pimpinan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich bahkan terproyeksi hanya menyumbang 13 kursi untuk blok Netanyahu. Ketiadaan pemenang mutlak ini berpotensi memicu negosiasi alot pembentukan koalisi selama berminggu-minggu, mengingat hasil akhir penghitungan suara juga bisa memakan waktu berhari-hari.

Eisenkot, pemimpin Partai Yashar yang baru terjun ke dunia politik empat tahun lalu, muncul sebagai penantang terkuat. Pria 66 tahun ini menuntut perdana menteri segera mundur.

“Pemimpin yang layak akan menerima ketidakpercayaan rakyat dan mengumumkan pensiun dari politik hari ini,” seru Eisenkot di hadapan pendukungnya di Tel Aviv.

Pemimpin oposisi lainnya, Yair Lapid, turut menegaskan runtuhnya dominasi petahana. Menurutnya, blok Netanyahu telah menderita kekalahan telak dan publik menyuruh mereka pulang.

Eisenkot mengandalkan rekam jejaknya sebagai mantan kepala militer yang juga kehilangan satu putra dan dua keponakan dalam perang Gaza. Ia sempat bergabung dengan kabinet perang, tetapi keluar delapan bulan kemudian. Ia memperingatkan lembaga pertahanan Israel bahwa perdana menteri telah kehilangan kepercayaan rakyat dan mengorbankan keamanan demi kepentingan politik pribadinya.

Ads bp batam 2026 baru

Presiden Institut Demokrasi Israel Yohanan Plesner menilai jajak pendapat ini sebagai pukulan telak bagi koalisi Netanyahu, meski Eisenkot juga belum tampil sebagai pemenang sejati. Sistem perpolitikan Israel yang terfragmentasi membuat Eisenkot menentang keras wacana pemilihan ulang jika pemerintah urung terbentuk.

“Dalam pemilu dengan partisipasi setinggi ini, keliru jika kita menggelar pemilihan ulang,” tegas Eisenkot.

Meski berhaluan tengah pada isu dalam negeri, Eisenkot menolak tegas pembentukan negara Palestina dan bersikeras membongkar sayap militer Hamas. Namun, ia menyebut tewasnya lebih dari 74.000 warga Palestina sebagai kegagalan strategi karena Hamas nyatanya masih berkuasa.

Kekuatan Penyeimbang Partai Arab

Terbelahnya suara pemilih Yahudi menjadikan partai-partai Arab di luar dua kubu utama berpotensi memegang kunci keseimbangan kekuasaan. Markas aliansi Joint List di Nazareth meledak dalam sorak-sorai menyambut rekor tingginya partisipasi dari warga keturunan Palestina di Israel.

“Kami menolak penjajahan dan rasisme, dan kami akan tetap di sini,” ujar Faten Gattas, kandidat Joint List. Mereka berharap lonjakan suara ini mampu memblokir kembalinya koalisi Netanyahu.

Skenario koalisi ini justru semakin rumit. Eisenkot secara terang-terangan menolak membentuk pemerintahan bersama kelompok Arab, sehingga mempersempit jalannya sendiri menuju tampuk kekuasaan.

Menyikapi kebuntuan ini, Netanyahu tetap percaya diri saat berpidato usai pukul 03.00 pagi atau 09.00 waktu Singapura di Yerusalem.
“Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat,” tegasnya. Ia berupaya meyakinkan pendukungnya dengan memamerkan klaim keberhasilan militer menyingkirkan ancaman Iran serta para petinggi Hamas dan Hizbullah.

Kebijakan koalisi sayap kanan Netanyahu memecah belah publik dalam negeri dan memperdalam isolasi internasional Israel. Ia memasuki arena pemilu dengan beban tuduhan korupsi masa lalu serta kritik tajam atas kegagalan intelijen.

Namun, politisi berusia 77 tahun ini memiliki rekam jejak panjang bertahan dari krisis. Ia telah menjabat sebagai perdana menteri selama hampir 19 dari 30 tahun terakhir. Lawan-lawan politiknya hanya berhasil merebut kekuasaan satu kali sejak tahun 2009 usai melewati empat pemilu buntu dalam dua tahun.

Bahkan saat itu, Netanyahu berhasil kembali berkuasa 18 bulan kemudian. Sistem politik yang menyandera tanpa pemenang pasti ini memberi celah baginya untuk tetap memimpin sebagai perdana menteri sementara selama masa negosiasi koalisi bergulir. REUTERS

Baca Juga: AS-Israel Invasi Iran, Warga Kepri di Timur Tengah Diminta Tunda Perjalanan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait