Saat Kemacetan Mendorong Warga Batam Naik Bus

Trans Batam
Bus Trans Batam melayani penumpang di salah satu koridor utama di Batam. Pemerintah Kota Batam menambah 19 unit armada pada 2026 untuk mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik. ANTARA

BATAM (gokepri) – Kemacetan di sejumlah ruas Batam mulai mendorong warga mengubah pilihan perjalanan, dari kendaraan pribadi ke bus yang dinilai lebih praktis. Penambahan 19 bus BTS (Buy the Service) sejak Juni 2026 ikut mengerek penumpang Trans Batam dari sekitar 5.500 menjadi 7.500 orang per hari.

Kenaikan itu berarti sekitar 2.000 penumpang tambahan setiap hari, di tengah mobilitas penduduk Batam yang mencapai sekitar 1,3 juta jiwa. Dinas Perhubungan Kota Batam melihat pertumbuhan tersebut sebagai tanda semakin banyak warga mempertimbangkan angkutan umum untuk perjalanan mereka.

Perubahan paling terasa pada koridor dengan lalu lintas padat, salah satunya rute Batam Center-Tanjung Uncang. Di jalur ini, bus mulai menjadi pilihan bagi warga yang ingin menghindari perjalanan panjang akibat kepadatan jalan.

Baca Juga: BRT Trans Batam Sudah Beroperasi, 10 Koridor Disiapkan

“Koridor Batam Center ke Tanjung Uncang semakin meningkat peminatnya,” kata Kepala UPT Trans Batam Dishub Batam Bambang Sucipto, Selasa, 9 September 2026.

Yang menarik bukan hanya jumlah penumpangnya, tetapi perubahan cara sebagian warga menggunakan kendaraan pribadi. Mereka membawa mobil atau sepeda motor sampai sekitar halte, kemudian meninggalkannya dan meneruskan perjalanan dengan Trans Batam.

“Sekarang sudah ada yang kendaraan pribadinya diparkir di halte-halte kita,” ujar Bambang.

Pola itu menunjukkan bahwa angkutan umum mulai mengambil sebagian perjalanan yang sebelumnya sepenuhnya bergantung pada kendaraan pribadi. Kendaraan tetap dipakai untuk mencapai titik awal perjalanan, tetapi bus mengambil alih rute berikutnya ketika kondisi jalan membuat perjalanan dengan kendaraan pribadi kurang praktis.

Bagi kota yang terus berkembang, perubahan kecil semacam itu punya arti lebih besar terhadap penggunaan ruang jalan. Satu kendaraan pribadi hanya mengangkut beberapa orang, sedangkan satu bus Trans Batam dapat membawa hingga sekitar 40 penumpang.

Semakin banyak orang berbagi satu kendaraan, semakin sedikit ruang jalan yang diperlukan untuk mengangkut jumlah penumpang yang sama. Karena itu, kenaikan penumpang angkutan umum bukan hanya persoalan bertambahnya pengguna bus, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi ruang jalan perkotaan.

“Semakin banyak masyarakat menggunakan transportasi umum, semakin efisien penggunaan ruang jalan,” kata Bambang.

Pilihan tersebut juga berkaitan dengan konsumsi bahan bakar. Ketika satu bus menggantikan perjalanan puluhan kendaraan pribadi, kebutuhan BBM per penumpang berpotensi lebih rendah dibandingkan jika setiap orang bepergian dengan kendaraan masing-masing.

“Dengan menggunakan transportasi umum pastinya tidak boros BBM,” ujar Bambang.

Manfaat lain muncul dari perjalanan menuju halte. Warga yang berjalan dari rumah menuju halte mendapat aktivitas fisik yang lebih banyak dibandingkan mereka yang menggunakan kendaraan pribadi sejak keluar rumah hingga tiba di tujuan.

Dishub Batam karena itu melihat angkutan umum sebagai bagian dari persoalan kota yang lebih luas, bukan sekadar layanan untuk memindahkan penumpang. Transportasi publik berkaitan dengan kemacetan, konsumsi BBM, emisi, hingga keselamatan pengguna jalan.

“Harapannya bisa mengurangi kemacetan, emisi, konsumsi BBM, serta tingkat kecelakaan fatalitas di perjalanan,” kata Bambang. ANTARA

Baca Juga: Trans Batam Mulai Layani Rute Bandara Hang Nadim

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait