Asap Karhutla Mengintai Penderita Asma, Serangan Akut Perlu Diantisipasi

Karhutla kepri
Petugas pemadam berjibaku memadamkan bakaran lahan di wilayah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), Rabu (25/3/2026). ANTARA/Ogen

JAKARTA (gokepri) — Asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla dapat memicu serangan asma akut, terutama ketika paparan berlangsung terus-menerus. Penderita asma perlu memastikan penggunaan obat tetap sesuai anjuran dokter dan mengurangi paparan asap.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan penderita asma perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai jenis dan dosis obat yang digunakan untuk mengantisipasi serangan.

“Konsultasi ke dokter untuk jenis dan dosis obat. Yang perlu diantisipasi tentu adalah serangan asma akut,” kata Tjandra di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.

Baca Juga: Ini Perbedaan Batuk pada Anak yang Mengidap Pneumonia, Asma, dan TBC

Menurut Tjandra, penderita asma perlu menggunakan obat inhaler controller secara rutin sesuai anjuran dokter ketika menghadapi paparan asap karhutla. Obat reliever juga perlu digunakan sesuai petunjuk apabila gejala seperti sesak napas muncul.

Risiko tersebut berkaitan dengan kandungan asap karhutla. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah partikel berukuran 2,5 mikron atau PM2.5 yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu inflamasi.

Asap karhutla juga mengandung gas seperti nitrogen dioksida (NO2), ozon, hidrokarbon aromatik, serta bahan organik dari pembakaran pohon dan tumbuhan. Campuran berbagai zat tersebut dapat membentuk paparan toksik yang membahayakan kesehatan.

Tjandra mengatakan dampak paparan asap dapat muncul dalam bentuk gangguan pernapasan. Gejalanya antara lain batuk, batuk berdahak, sesak napas, dan nyeri dada.

Dalam jangka pendek, paparan asap dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Paparan juga dapat memperburuk infeksi paru dan penyakit asma serta meningkatkan risiko gangguan kardiorespirasi.

“Dampak akut seperti terjadi infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Dampak lanjutan seperti perburukan infeksi paru, penyakit asma dan penyakit lain seperti dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardiorespirasi,” ujar Tjandra, yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.

Risiko kesehatan tidak hanya muncul dari udara yang tercemar. Karhutla dengan intensitas tinggi, berlangsung lama, dan meliputi wilayah luas dapat mengganggu akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Menurut Tjandra, kebakaran dapat menghambat transportasi, mengganggu ketersediaan air bersih dan komunikasi, serta mempengaruhi sumber daya di daerah terdampak. Kondisi tersebut dapat menyulitkan warga memperoleh pertolongan ketika mengalami gangguan kesehatan.

Karena itu, Tjandra menyarankan masyarakat menghindari area kebakaran yang masih aktif jika kondisi memungkinkan. Perjalanan yang tidak mendesak juga sebaiknya ditunda selama paparan asap tinggi.

Jika harus berada di sekitar kawasan terdampak, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai. Untuk kondisi dengan paparan tinggi, Tjandra menyarankan penggunaan respirator untuk memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap partikel di udara.

“Hindari perjalanan yang tidak terlalu perlu dan gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator, kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan,” tutur Tjandra. ANTARA

Baca Juga: Karhutla Trans Barelang Padam, Dampak Asap Masih Terasa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait