BTP dan BACT Sering Disamakan, Ini Pembagian Perannya di Pelabuhan Batu Ampar

Direktur BACT Restrimaya Susiwi. (foto: engesti/gokepri.com)
  • BACT Tegaskan Kelola Terminal Batu Ampar Bersama BTP Lewat Skema Kerja Sama Operasi

BATAM (gokepri.com) – Manajemen PT Batu Ampar Container Terminal (BACT) menegaskan pengelolaan Terminal Peti Kemas Batu Ampar dilakukan bersama PT Batam Terminal Petikemas (BTP) melalui skema kerja sama operasi (KSO), sehingga kedua perusahaan memiliki peran yang saling melengkapi.

Direktur BACT Restrimaya Susiwi mengatakan masih banyak pihak yang mengira BTP dan BACT merupakan dua operator yang berbeda. Padahal, keduanya bekerja dalam satu sistem pengelolaan terminal peti kemas di Pelabuhan Batu Ampar.

“Sering muncul pertanyaan siapa sebenarnya yang mengelola Terminal Batu Ampar, apakah BTP atau BACT. Jawabannya, kami mengelola bersama karena bentuk kerja samanya adalah kerja sama operasi,” kata Maya di Batam.

Ia menjelaskan BTP merupakan mitra BP Batam dalam pengelolaan terminal, sedangkan BACT dibentuk sebagai perusahaan operator hasil kemitraan antara PT Interport Mandiri Utama dan International Container Terminal Services Inc. (ICTSI) dari Filipina untuk menjalankan operasional terminal berstandar internasional.

Menurut Maya, BACT tertarik berinvestasi di Batam karena posisi kota tersebut dinilai strategis sebagai jalur perdagangan internasional serta memiliki potensi besar menjadi pintu gerbang logistik nasional.

“Batam memiliki lokasi yang sangat strategis, aktivitas keluar masuk kargo juga tinggi. Kami bersama BP Batam dan BTP ingin menjadikan Pelabuhan Batu Ampar sebagai gerbang logistik berstandar internasional,” ujarnya.

Dalam kerja sama tersebut, BACT memiliki dua tanggung jawab utama, yakni merealisasikan investasi sesuai perjanjian dengan BP Batam dan mengoperasikan terminal menggunakan standar internasional agar pelayanan menjadi lebih efisien.

Sejak kerja sama dimulai, berbagai pengembangan infrastruktur telah dilakukan, di antaranya memperdalam kolam pelabuhan dari sekitar 3,8 meter menjadi 12 meter, menambah peralatan bongkar muat modern, serta meningkatkan kapasitas lapangan penumpukan kontainer.

Modernisasi itu turut berdampak pada peningkatan kinerja operasional terminal. Waktu sandar kapal yang sebelumnya rata-rata mencapai 20 jam kini dapat dipangkas menjadi sekitar enam jam karena proses bongkar muat menjadi lebih cepat.

Selain itu, kapasitas terminal juga meningkat dari sekitar 350.000 TEUs per tahun menjadi 900.000 TEUs per tahun. Sementara volume peti kemas yang saat ini ditangani telah mencapai sekitar 570.000 TEUs, sehingga masih tersedia ruang untuk pertumbuhan arus logistik ke depan.

Maya mengatakan penerapan sistem operasi terminal berbasis digital juga menjadi bagian dari transformasi pelayanan di Batu Ampar. Sistem tersebut memungkinkan proses pelayanan kapal dan peti kemas berlangsung lebih cepat, transparan, dan terintegrasi.

“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan daya saing Pelabuhan Batu Ampar sehingga mampu melayani aktivitas ekspor dan impor secara lebih efisien serta mendukung pertumbuhan industri dan investasi di Batam,” kata Maya. *

Penulis: Engesti

 

Pos terkait