Semikonduktor Menjaga Momentum Ekonomi Singapura

Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Singapura pada siang hari, Mei 2026. iSTOCK via CNA
Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Singapura pada siang hari, Mei 2026. iSTOCK via CNA

MTI merilis estimasi pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal II. Permintaan cip AI menopang manufaktur.

BATAM (gokepri) – Permintaan global terhadap semikonduktor untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Singapura. Kinerja sektor manufaktur yang melaju dua digit mendorong ekonomi negara itu tumbuh 5,7 persen pada kuartal II-2026, meski lajunya sedikit melambat dibanding kuartal sebelumnya.

Data awal Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (Ministry of Trade and Industry/MTI), Selasa (14/7/2026), menunjukkan perlambatan tersebut terjadi setelah ekonomi tumbuh 6,3 persen pada kuartal I-2026. Namun, pertumbuhan tetap terjaga karena ekspor industri teknologi masih kuat di tengah tingginya kebutuhan global terhadap infrastruktur AI.

Baca Juga: Di Balik Pertumbuhan Pesat Ekonomi Singapura

Sektor manufaktur menjadi penyumbang utama pertumbuhan. Nilai tambah sektor ini meningkat 12,2 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan 8 persen pada kuartal sebelumnya.

MTI menjelaskan kenaikan itu terutama didorong peningkatan produksi pada klaster elektronik dan rekayasa presisi. Permintaan terhadap cip semikonduktor dan peralatan produksi semikonduktor untuk kebutuhan AI menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan.

Di sisi lain, tidak seluruh subsektor manufaktur mencatat kinerja positif. Klaster kimia terkontraksi akibat terganggunya pasokan bahan baku yang dipicu konflik di Timur Tengah, sedangkan manufaktur biomedis juga mengalami penurunan.

Secara triwulanan yang telah disesuaikan dengan faktor musiman, ekonomi Singapura tumbuh 1,1 persen pada kuartal II-2026. Angka ini melanjutkan pertumbuhan 1,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Manufaktur juga mencatat perbaikan secara triwulanan. Sektor tersebut tumbuh 5,3 persen, berbalik dari kontraksi 2,2 persen pada kuartal I.

Sektor konstruksi masih mencatat pertumbuhan 6,2 persen. Namun, lajunya melambat dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 12,9 persen.

Pertumbuhan konstruksi ditopang proyek pemerintah maupun swasta. Meski demikian, secara triwulanan sektor ini justru terkontraksi 2,1 persen, setelah sebelumnya tumbuh 7,4 persen.

Sektor jasa juga tetap menjadi penopang ekonomi, meski pertumbuhannya bervariasi. Kelompok perdagangan besar dan eceran, transportasi, serta pergudangan tumbuh 6,3 persen, lebih rendah dibanding 9,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Menurut MTI, perdagangan besar terdorong ekspor mesin, peralatan, dan perlengkapan elektronik. Sementara itu, sektor transportasi memperoleh dukungan dari meningkatnya aktivitas angkutan laut.

Kelompok informasi dan komunikasi, jasa keuangan dan asuransi, serta jasa profesional tumbuh 3,9 persen. Pertumbuhan dipicu tingginya permintaan layanan teknologi informasi, aktivitas perbankan, asuransi, serta jasa teknik dan rekayasa.

Adapun kelompok akomodasi, makanan dan minuman, properti, jasa administrasi, serta jasa lainnya tumbuh 2,7 persen. Pertumbuhan terutama berasal dari sektor properti, pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial, sementara sektor makanan dan minuman mencatat pelemahan.

MTI mengingatkan bahwa angka tersebut masih berupa estimasi awal yang disusun berdasarkan data April dan Mei 2026. Angka pertumbuhan masih dapat berubah setelah seluruh data ekonomi kuartal II terkumpul dan dipublikasikan. CNA

Baca Juga: Ekonomi Singapura Menguat di Tengah Tantangan Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait