Ekspor Melambat, Furnitur Jepara Bertumpu pada Pembeli Domestik

Produk kursi dan furnitur Jepara dipamerkan dalam CJFACE 2026 di Semarang.
Pengunjung mengamati produk furnitur Jepara yang dipamerkan dalam Central Java Furniture and Carving Expo (CJFACE) 2026 di Semarang. Pelaku usaha menyebut kursi masih menjadi produk dengan permintaan tertinggi di tengah kenaikan biaya produksi dan tekanan pasar global. Foto: Bank Indonesia

SEMARANG (gokepri) — Industri furnitur Jepara masih bergerak di tengah tekanan. Biaya produksi terus meningkat, sementara ketidakpastian global membuat sebagian pembeli menunda transaksi. Pelaku usaha bertahan dengan mengandalkan pasar domestik yang masih menyerap produk furnitur, terutama kursi dan meja.

Gambaran tersebut muncul dari sejumlah pelaku usaha yang mengikuti Central Java Furniture and Carving Expo (CJFACE) 2026 di Semarang. Pameran yang digelar Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kamar Dagang dan Industri Jepara itu memperlihatkan bahwa industri furnitur belum kehilangan pasar. Namun, ruang untuk tumbuh tidak lagi seluas beberapa tahun lalu.

Di antara beragam produk yang dipamerkan, kursi masih menjadi barang yang paling banyak dicari. Produk ini menjadi penopang utama penjualan karena dibutuhkan oleh kafe, restoran, hotel, dan vila yang terus berkembang di sejumlah daerah.

Baca Juga: Digitalisasi Jadi Prioritas Baru Indonesia-Singapura

Direktur Operasional Zyth Living Furniture Wahyu Asyhar menyebut permintaan kursi menyumbang sekitar 70 persen dari total penjualan perusahaannya.

“Permintaan kursi hampir mencapai 70 persen. Setelah itu disusul meja dan produk untuk kamar tidur,” ujar Wahyu di Semarang, Selasa (16/6/2026).

Dominasi kursi menunjukkan perubahan struktur pasar furnitur Jepara. Jika dahulu industri ini banyak dikenal melalui produk rumah tangga dan ekspor kerajinan ukir, kini kebutuhan sektor jasa menjadi salah satu sumber permintaan yang menjaga roda usaha tetap berputar.

Permintaan juga semakin mengarah pada produk yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Banyak konsumen tidak lagi membeli furnitur dalam ukuran standar. Mereka meminta desain yang sesuai dengan luas ruangan dan konsep interior bangunan.

Karena itu, sebagian produsen memperluas layanan pemesanan khusus. Strategi tersebut menjadi cara untuk mempertahankan pasar di tengah persaingan yang semakin ketat.

Namun, permintaan yang masih ada belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran pelaku usaha. Gejolak geopolitik global mulai memengaruhi pasar ekspor yang selama ini menjadi salah satu tumpuan industri furnitur Jepara.

Wahyu mengatakan ketidakpastian di sejumlah kawasan membuat aktivitas perdagangan berjalan lebih hati-hati. Dampaknya mulai terasa pada permintaan dari beberapa negara tujuan ekspor, terutama di Timur Tengah.

Tekanan juga datang dari sisi produksi. Harga sejumlah bahan pendukung furnitur mengalami kenaikan. Salah satunya busa yang banyak digunakan pada produk kursi dan sofa. Kondisi itu mendorong perusahaan menyesuaikan harga produk sekitar 10 persen.

Meski demikian, tidak semua pelaku usaha memiliki keleluasaan untuk menaikkan harga jual. Persaingan pasar membuat banyak produsen harus menahan diri agar tidak kehilangan pelanggan.

Direktur Alfa Living Furniture Muhammad Alhaq mengatakan kondisi tersebut kini menjadi tantangan yang dihadapi banyak pengusaha furnitur.

Menurut Alhaq, kursi tetap menjadi produk yang paling banyak dicari. Permintaan datang dari proyek kafe, restoran, hotel, dan vila. Meja makan serta tempat tidur juga masih memiliki pasar yang cukup baik.

Di balik permintaan tersebut, pelaku usaha menghadapi dilema. Biaya produksi meningkat, tetapi daya beli pasar belum sepenuhnya pulih. Akibatnya, kenaikan harga tidak selalu bisa diterapkan.

“Seharusnya ada penyesuaian harga, tetapi kondisi pasar membuat kami harus bertahan. Jika harga dinaikkan, akan cukup sulit,” ujar Alhaq.

Situasi itu menunjukkan bahwa industri furnitur Jepara sedang memasuki fase penyesuaian. Pasar domestik masih memberi ruang bagi pelaku usaha untuk bertahan. Namun, perlambatan ekspor dan kenaikan biaya produksi membuat efisiensi menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.

Bagi Jepara, tantangan tersebut bukan sekadar soal penjualan. Industri furnitur selama puluhan tahun menjadi penggerak ekonomi daerah dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Karena itu, kemampuan pelaku usaha menjaga pasar di tengah tekanan global akan ikut menentukan ketahanan salah satu industri tradisional terbesar di Jawa Tengah. ANTARA

Baca Juga: Siapa yang Potensial Bertarung di Pilkada Kepri 2029?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait