Deretan Investasi Data Centre Ratusan Triliun di Batam

NeutraDC Nxera Batam
Seremoni pemancangan tiang (piling) di lahan pembangunan data center NeutraDC Nxera Batam yang berlokasi di Kawasan Industri Terpadu Kabil, Kamis (13/6/2024). Foto: Istimewa

Delapan investor asing sudah masuk atau berkomitmen membangun data centre di Batam sejak 2021. Nilai gabungannya melebihi Rp130 triliun.

BATAM (gokepri) – Batam berubah wajah. Dalam lima tahun terakhir, pulau industri ini bertransformasi menjadi salah satu destinasi investasi data centre paling diminati di Asia Tenggara. Setidaknya delapan perusahaan dari Tiongkok, Hong Kong, Singapura, dan Selandia Baru telah masuk atau berkomitmen membangun pusat data di sana sejak 2021, dengan nilai investasi gabungan yang melampaui Rp130 triliun dan enam investor lain masih mengantre.

Berdasarkan catatan gokepri, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park (NDP) menjadi episentrum gelombang investasi ini. Terletak di Kecamatan Nongsa, kawasan seluas ratusan hektare yang dikelola PT Taman Resor Internet (Tamarin) itu kini menjadi rumah bagi sembilan proyek data centre yang sedang dibangun sekaligus. Empat proyek lain sudah antre masuk, sementara lima proyek lagi berproses di luar KEK.

HBRL

Baca Juga: 

“Dua fasilitas pertama bahkan telah beroperasi sejak Desember 2024,” kata Direktur Utama PT Tamarin, Mike Wiluan, awal 2025. Targetnya, hingga 2040, investasi di Nongsa akan menembus Rp40 triliun.

Gelombang investasi data centre di Batam tidak datang sekaligus. Ia datang bergelombang, dimulai saat Singapura memberlakukan moratorium pembangunan data centre pada 2019 karena kekurangan lahan dan listrik. Batam, yang berjarak hanya 20 kilometer dari Singapura, menjadi pilihan masuk akal berikutnya, di samping Johor, Malaysia.

Investor pertama berskala besar yang memancang tiang di Nongsa adalah GDS Holdings dari Shanghai. Melalui anak usahanya, GDS Holdings mengakuisisi lahan di Batam pada November 2021. Setahun kemudian, pada Oktober 2022, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto meresmikan peletakan tiang pancang. Pusat data itu dibangun di atas lahan 10 hektare dengan investasi USD 200 juta atau sekitar Rp 3 triliun dan kapasitas daya 28 MW.

GDS kemudian memisahkan operasi internasionalnya ke entitas baru bernama DayOne — operator data centre berkantor pusat di Singapura — dengan GDS mempertahankan saham 35,6 persen. DayOne selanjutnya mengamankan pinjaman senilai USD 412 juta untuk mengembangkan kampus tiga gedung di NDP dengan kapasitas gabungan 72 MW. Fase pertama ditargetkan beroperasi pada akhir 2025.

Ekspansi DayOne tidak berhenti di Nongsa. Pada 17 April 2026, perusahaan itu menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dengan PLN Batam untuk proyek kedua di Kabil Industrial Tech Park — dengan kapasitas 511 MVA atau setara 450 MW. Kontrak listrik itu menjadi yang terbesar untuk sektor data centre di Indonesia hingga saat ini.

Satu entitas lain yang berpayung dari GDS, PT GDS IDC Service asal Hong Kong, juga membangun fasilitas terpisah di NDP. Investasinya mencapai Rp4 triliun untuk lahan seluas 28.730 meter persegi, dengan kapasitas data centre Tier 3 sebesar 40 MW yang dikembangkan dalam dua tahap.

Princeton Digital Group (PDG) dari Singapura menyusul pada Februari 2023 dengan mengumumkan kampus data centre berkapasitas 96 MW di NDP. Investasi awal mendekati USD 1 miliar. Kampus seluas enam hektare itu terdiri dari empat gedung, masing-masing berkapasitas 24 MW. Per Januari 2026, PDG dilaporkan memiliki kapasitas 120 MW di Batam yang sudah AI-ready.

BW Digital, anak usaha BW Group dari Selandia Baru yang berkantor di Singapura, mengakuisisi lebih dari 55.000 meter persegi lahan di NDP pada 2024. Kampus BW Digital NDP1 mulai beroperasi pada kuartal I 2026 dengan kapasitas 120 MW, dirancang untuk beban kerja enterprise, cloud, dan AI.

Pada Februari 2025, giliran Gaw Capital Partners dari Hong Kong bersama pengembang lokal Sinar Primera meresmikan Golden Digital Gateway — pusat data kolokasi carrier-neutral pertama mereka di NDP. Kapasitas tahap pertama 5,2 MW dengan rencana ekspansi hingga 20 MW. Keunggulan utama fasilitas ini adalah konektivitas ke Singapura dengan latensi kurang dari dua milidetik.

Data Center First, joint venture baru antara Gaw Capital dan veteran industri Wong Ka Vin, juga bergerak masuk ke NDP dengan rencana pembangunan fasilitas 30 MW pada fase pertama.

Investor terbaru dan terbesar yang masuk adalah PT Equator Gate System Batam (EGSB), anak usaha Range Intelligent Computing Technology — perusahaan data centre terdaftar di Bursa Efek Shenzhen. Nilai investasinya USD 5 miliar atau Rp 88 triliun, dengan lahan 30 hektare di kawasan Teluk Mata Ikan, Nongsa. PJBTL dengan PLN Batam baru ditandatangani pada 25 Mei 2026.

Di balik deretan angka komitmen yang mengesankan, realisasi investasi masih jauh lebih kecil. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi sektor data centre dan telekomunikasi di Batam sepanjang 2023–2024 hanya tercatat Rp446,78 miliar, relatif kecil dibandingkan total komitmen yang mencapai puluhan triliun rupiah.

Sembilan data centre di NDP saja diproyeksikan membutuhkan daya listrik total 550 MVA. DayOne di Kabil menambah 511 MVA lagi. Sementara EGSB belum mengumumkan kebutuhan dayanya. Seluruh beban itu harus dipikul PLN Batam — perusahaan listrik daerah yang belum mengungkap berapa kapasitas cadangan yang tersedia untuk merespons lonjakan permintaan ini.

Soal lahan, situasinya tidak kalah ketat. Untuk menampung 16 data centre, Nongsa Digital Park masih butuh tambahan lahan 20–30 hektare. Per pertengahan 2024, lahan yang siap pakai di kawasan itu hanya tersisa lima hektare.

Proyek Pemerintah Justru Mangkrak

Di tengah euforia investasi swasta yang mengalir deras, proyek data centre milik pemerintah sendiri justru terbengkalai.

Sejak 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika (kini Komdigi) menetapkan KEK Nongsa sebagai lokasi Pusat Data Nasional (PDN) kedua Indonesia. Lahan seluas lima hektare sudah disiapkan PT Tamarin sebagai hibah. Nilai komitmen investasi proyek itu mencapai Rp2,32 triliun, dengan pendanaan dari pinjaman Korea Selatan.

Namun, proyek itu tidak pernah tuntas. September 2024, setelah PDN mengalami peretasan besar-besaran oleh kelompok peretas Brain Cipher, Kominfo mengumumkan penundaan pembangunan PDN karena kendala anggaran. Kebutuhan operasional mencapai Rp542 miliar, tetapi hanya tersedia Rp257 miliar.

Pada Februari 2025, Direktorat Jenderal Teknologi Pemerintahan Digital Komdigi menyatakan pihaknya mengusulkan untuk tidak memperpanjang perjanjian pinjaman. Tidak ada dana yang sudah dicairkan. Proyek dinyatakan tidak dilanjutkan.

Satu-satunya pemain domestik berskala besar yang hadir di antara deretan investor asing itu adalah Telkom Indonesia. Melalui anak usahanya, PT Telkom Data Ekosistem dengan merek NeutraDC, Telkom membangun hyperscale data centre di Kawasan Industri Terpadu Kabil. Bukan di Nongsa Digital Park, melainkan di klaster Kabil yang kini berkembang menjadi episentrum kedua data centre Batam.

Proyek ini dikembangkan melalui joint venture antara Telkom Indonesia, Singtel melalui Nxera, dan Medco Power Indonesia, dengan total investasi Rp1,4 triliun atau sekitar USD 84 juta. Fasilitas ini dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal III 2025, dibangun di atas lahan delapan hektare dalam tiga fase, dengan kapasitas penuh yang diproyeksikan melebihi 60 MW.

Konstruksi dimulai pada Juni 2024. Fasilitas ini memiliki kapasitas awal 18 MW saat diluncurkan dan akan diperluas bertahap hingga 54 MW. NeutraDC Nxera Batam telah meraih sertifikasi Tier III dari Uptime Institute.

Data centre itu mayoritas dimiliki Telkom Indonesia di bawah nama NeutraDC, sementara Singtel dan Medco Power menjadi pemegang saham minoritas. Medco Power juga menyediakan pasokan listrik berbasis energi terbarukan untuk fasilitas tersebut.

Untuk mendukung operasionalnya, NeutraDC menandatangani perjanjian jual beli listrik dengan PLN Batam sebesar 90 MVA untuk data centre berkapsitas 60 MW, dengan pengiriman daya dimulai antara 2025 hingga 2028.

Kehadiran Telkom di Batam bukan tanpa kalkulasi strategis. Batam didukung oleh 14 infrastruktur kabel laut yang menghubungkan kawasan Asia Tenggara. Lokasi strategis itu menjadikan Batam titik ideal bagi Telkom untuk membangun digital bridge antara Indonesia dan kawasan regional Asia Tenggara.

NeutraDC menargetkan kapasitas total 54 MW di Batam sebagai bagian dari ekspansi besar-besaran yang juga mencakup fasilitas hingga 121,5 MW di Cikarang.

Meski hambatan infrastruktur belum terselesaikan, antrean investor tidak berkurang. Pada Juli 2024, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengungkapkan ada enam investor baru yang mengantre masuk ke KEK Nongsa Digital Park. Mereka berasal dari Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat, meski nilai investasi dari masing-masing calon investor itu belum diumumkan.

CEO DayOne, Jamie Khoo, menempatkan Batam sebagai bagian dari model integrasi Singapura–Johor–Batam (SIJORI) — platform data centre lintas batas pertama yang benar-benar terintegrasi di Asia Tenggara.

“Ekspansi ini merupakan tonggak penting dalam strategi kami untuk membangun salah satu platform infrastruktur digital terkemuka di Asia,” ujar Jamie usai penandatanganan PJBTL di Balairung Sari BP Batam, Jumat (17/4/2026).

Persaingan semakin ketat. Dalam tiga tahun terakhir, Johor Bahru di Malaysia berhasil menarik lebih dari 50 proyek data centre, termasuk milik Google, Amazon, Nvidia, dan Alibaba, nama-nama hyperscale global yang belum satu pun masuk ke Batam.

Baca Juga: 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait