Indonesia membuka peluang membeli minyak mentah dari Rusia. Pertamina mengaku siap mengikuti arahan pemerintah, meski spesifikasi crude belum dipastikan cocok dengan kapasitas kilang yang ada.
JAKARTA (gokepri) — Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin bukan sekadar diplomasi seremonial. Di balik jabat tangan itu, kedua pemimpin membicarakan transaksi minyak.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa pembicaraan mencakup pengembangan kilang minyak, penguatan perdagangan minyak, hingga pemanfaatan teknologi energi. Dalam jangka panjang, Indonesia juga membuka ruang kolaborasi di sektor energi bersih sebagai bagian dari strategi diversifikasi. “Dalam jangka panjang, Indonesia turut membuka peluang kolaborasi di sektor energi bersih,” kata Bahlil, Selasa, 14 April 2025.
Baca Juga: Prabowo Temui Putin di Rusia, Bahas Kerja Sama Minyak
Pertamina, sebagai perusahaan energi negara yang akan menjadi ujung tombak kerja sama ini, belum bisa bicara banyak. Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyebut penjajakan masih berlangsung di level pemerintah.
“Pertamina akan menindaklanjuti sesuai arahan dan regulasi yang ditetapkan,” ujar Baron kepada ANTARA, Selasa (14/4).
Pernyataan Baron menyisakan pertanyaan teknis. Apakah kilang-kilang Pertamina mampu mengolah crude asal Rusia?. Minyak mentah Rusia umumnya berjenis medium sour — mengandung kadar sulfur lebih tinggi dibanding crude Timur Tengah ringan yang selama ini menjadi andalan kilang domestik. Kilang di Indonesia memerlukan penyesuaian untuk mengolah jenis crude berbeda.
Pertamina masih perlu mempelajari jenis crude yang akan ditawarkan Rusia. Baron menyebut program modernisasi kilang sebagai harapan agar Pertamina kelak punya fleksibilitas mengolah berbagai jenis minyak mentah.
Tekanan pasar energi global imbas perang AS-Israel dan Iran menjadi konteks di balik penjajakan dengan Rusia. Harga minyak yang berfluktuasi, ditambah ketidakpastian pasokan akibat konflik di berbagai kawasan, mendorong banyak negara berkembang mencari sumber energi alternatif.
Meski terbuka, Pertamina menegaskan tidak akan terburu-buru. Baron menyebut tiga prinsip yang akan diutamakan: kehati-hatian, kepatuhan terhadap regulasi, serta kalkulasi komersial dan operasional. ANTARA
Baca Juga: Negosiasi Gagal, Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








