JAKARTA (gokepri) — Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan mengunjungi Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin pada Minggu (12/4/2026), dengan agenda utama membahas kerja sama energi dan dinamika geopolitik global.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyebutkan, kunjungan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian global yang memengaruhi stabilitas energi. Pemerintah menilai pertemuan ini penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Salah satu isu utama yang akan dibahas ialah peluang kerja sama pasokan energi, termasuk alternatif sumber minyak. “Salah satu yang akan dia bicarakan juga itu. Karena ini merupakan sesuatu yang sangat strategis bagi bangsa Indonesia,” ujar Sugiono di Jakarta Convention Center, Sabtu (11/4/2026).
Baca Juga: Terkait Minyak Rusia, Uni Eropa Beri Sanksi PT Oil Terminal Karimun
Selain sektor energi, pertemuan Prabowo dan Putin akan mencakup pembahasan kondisi geopolitik global yang berpengaruh terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi dunia. “Beliau akan bertemu dengan Presiden Putin, juga akan membahas geopolitik dunia dan situasi energi,” kata Sugiono.
Dari pihak Rusia, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan komunikasi antara kedua negara masih berlangsung dan rencana pertemuan tengah dipersiapkan. “Presiden Indonesia Prabowo Subianto mungkin akan mengunjungi Rusia dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Vladimir Putin,” ujar Peskov, dikutip dari Marketscreener, Kamis (9/4/2026).
Kunjungan ini menjadi yang ketiga bagi Prabowo sejak menjabat presiden. Pada 2025, ia dua kali mengunjungi Rusia, yakni saat menghadiri Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF) pada 18–20 Juni 2025 dan dalam pertemuan bilateral di Kremlin pada 10 Desember 2025.
Dalam forum SPIEF, Prabowo hadir sebagai pembicara utama sekaligus bertemu Putin untuk membahas penguatan kemitraan strategis di bidang pertahanan, energi nuklir, perdagangan, teknologi, dan pendidikan. Kedua negara juga menandatangani sejumlah kesepakatan investasi dan kerja sama.
Pada pertemuan Desember 2025, pembahasan difokuskan pada penguatan kerja sama politik, ekonomi, energi, dan perdagangan. Saat itu, Putin menegaskan kesiapan Rusia memperluas kemitraan strategis dengan Indonesia.
Menurut Putin, hubungan kedua negara menunjukkan tren peningkatan, termasuk dalam perdagangan bilateral. Dalam sembilan bulan pertama 2025, nilai perdagangan Indonesia–Rusia meningkat 17 persen.
Ia juga menyoroti peluang kerja sama di sektor energi, termasuk energi nuklir. Rusia, kata Putin, siap terlibat apabila Indonesia memutuskan mengembangkan sektor tersebut.
Selain itu, kerja sama di bidang industri, pertanian, dan militer turut menjadi perhatian. Putin menyebut Indonesia sebagai mitra tradisional Rusia dalam kerja sama militer-teknis, termasuk pendidikan personel militer Indonesia di lembaga pendidikan tinggi Rusia.
Interaksi antar-masyarakat juga meningkat, antara lain melalui pertumbuhan jumlah wisatawan dan dukungan konektivitas penerbangan langsung serta kebijakan bebas visa antara kedua negara. BISNIS.COM
Baca Juga: Indonesia dan Rusia Jajaki Kerja Sama Pengembangan PLTN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








