Dampak Perang Sampai ke Tiket Kapal Feri Singapura-Batam

Fuel surcharge feri batam singapura
Foto: ferryonlineticket.com

Operator feri Batam–Singapura memberlakukan biaya bahan bakar tambahan. Penumpang mengeluh, pelaku pariwisata khawatir efek konflik Timur Tengah merambat ke sektor wisata perbatasan.

BATAM (gokepri) – Sejak Kamis, 12 Maret 2026, operator feri rute Batam–Singapura mulai menerapkan pungutan baru yakni fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar. Kebijakan itu diumumkan setelah harga minyak dunia melonjak, dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dampaknya terasa hingga jalur laut tersibuk di perbatasan Indonesia–Singapura.

Majestic Fast Ferry, salah satu operator utama di lintasan ini, mengumumkan bahwa seluruh penumpang akan dikenakan biaya tambahan. Kebijakan berlaku untuk semua tiket, termasuk yang sudah dibeli sebelum pengumuman dikeluarkan.

HBRL

Baca Juga: 

“Karena kenaikan harga bahan bakar, kami memberlakukan biaya tambahan mulai 12 Maret 2026,” demikian pernyataan resmi manajemen Majestic dalam pengumumannya. Mereka juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul.

Besaran biaya tambahan berbeda tergantung pelabuhan keberangkatan. Penumpang yang berangkat dari Singapura—melalui HarbourFront Centre atau Terminal Feri Tanah Merah—dikenakan tambahan 6 dolar Singapura. Sedangkan penumpang yang berangkat dari pelabuhan di Batam seperti Batam Centre, Sekupang, dan Tanjungpinang dikenai tambahan Rp65.000 per tiket. Biaya ini dipungut langsung di loket operator. Biaya tersebut berlaku untuk semua operator utama, semua kelas layanan, serta semua kategori penumpang, baik tiket sekali jalan maupun pulang-pergi.

Kebijakan ini secara langsung mempengaruhi harga tiket yang selama ini menjadi salah satu faktor penting mobilitas warga di kawasan perbatasan. Berdasarkan harga dasar resmi operator sebelum surcharge baru diberlakukan, tarif perjalanan satu arah dari Batam menuju Singapura rata-rata berada di kisaran 40 dolar Singapura atau sekitar Rp530.000 dengan kurs sekitar Rp13.250 per dolar Singapura pada Maret 2026.

Sementara untuk perjalanan sebaliknya, Singapura menuju Batam, harga tiket dasar sekitar 43 dolar Singapura atau sekitar Rp570.000. Untuk perjalanan pulang-pergi, operator umumnya mematok tarif sekitar 76 dolar Singapura atau sekitar Rp1 juta.

Tarif tersebut umumnya sudah mencakup berbagai komponen biaya seperti tiket kapal, biaya terminal Batam sekitar Rp100.000, serta Singapore departure fee sekitar 10 dolar Singapura.

Dengan adanya fuel surcharge baru, harga perjalanan dari Batam ke Singapura kini diperkirakan berada pada kisaran Rp530.000 hingga Rp650.000 untuk tiket sekali jalan, tergantung operator dan waktu keberangkatan. Sementara perjalanan dari Singapura ke Batam berkisar Rp570.000 hingga Rp680.000.

Untuk tiket pulang-pergi, total biaya perjalanan kini dapat mencapai Rp800.000 hingga Rp1,1 juta, meningkat dari kisaran sebelumnya sekitar Rp730.000 hingga Rp800.000.

Sejumlah agen perjalanan daring seperti Traveloka, Tiket.com, atau BusOnlineTicket kadang menawarkan harga tiket lebih murah melalui promosi, bahkan mulai sekitar Rp350.000 hingga Rp550.000 untuk perjalanan satu arah sebelum surcharge. Namun tambahan biaya bahan bakar tetap harus dibayar langsung di loket pelabuhan.

Durasi perjalanan feri Batam–Singapura sendiri relatif singkat, sekitar 45 hingga 60 menit, menjadikan jalur ini salah satu lintasan laut tersibuk di Asia Tenggara. Pelabuhan utama yang melayani rute tersebut adalah Batam Centre dan Sekupang di Batam serta HarbourFront Centre dan Tanah Merah di Singapura.

Bagi sebagian penumpang, kenaikan ini terasa mengejutkan. Andi, 34 tahun, mengaku baru mengetahui adanya tambahan biaya saat membeli tiket. “Awalnya saya pikir harga tiketnya tetap seperti biasa. Ternyata ada tambahan biaya lagi. Memang tidak terlalu besar, tapi terasa kalau sering bolak-balik Batam–Singapura,” kata Andi di Batam, Kamis (12/3).

Keluhan serupa disampaikan Siti Rahma, 29 tahun. Ia menilai tambahan biaya transportasi itu akan berdampak pada pengeluaran perjalanan, terutama bagi penumpang yang rutin menyeberang.

“Kalau sekali jalan mungkin tidak terlalu terasa. Tapi kalau pergi-pulang atau sering bepergian tentu jadi bertambah juga biayanya,” ujar Siti.

Kenaikan biaya tersebut, menurut sejumlah pengamat, merupakan sinyal awal dampak konflik global terhadap ekonomi kawasan. Praktisi pariwisata Kepulauan Riau, Surya Wijaya, menilai gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan efek berantai pada sektor transportasi dan pariwisata.

“Perang Iran yang sudah berlangsung perlahan mulai memberikan efek kepada negara kita. Yang paling terasa adalah ekonomi yang mulai terdampak,” kata Surya.

Wilayah perbatasan seperti Batam, menurut dia, sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi global. Kota ini bergantung pada arus wisatawan dari Singapura dan Malaysia, yang selama ini menjadi tulang punggung sektor pariwisata.

Surya menyebutkan tanda-tanda gangguan operasional transportasi mulai terlihat. “Hari ini saja sudah ada empat kapal yang batal berangkat. Pengelola tidak berani berlayar karena Malaysia sudah menaikkan harga BBM,” ujarnya.

Selain itu, ia juga melihat perubahan perilaku konsumsi di negara tetangga. Saat berkunjung ke Johor, Malaysia, Surya mengamati aktivitas di sejumlah bazar Ramadan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

“Bazar Ramadan di Malaysia biasanya sangat ramai. Namun kali ini aktivitas belanja masyarakat terlihat lebih berhati-hati,” katanya.

Menurut dia, pemerintah Malaysia bahkan telah mengimbau masyarakat untuk menghemat pengeluaran karena potensi kenaikan harga bahan bakar. Jika tren tersebut berlanjut, dampaknya bisa merembet pada jumlah wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Batam.

Padahal, sektor pariwisata Kepulauan Riau baru saja menunjukkan tren pemulihan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke wilayah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah Kota Batam menargetkan 1,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026, sementara target Provinsi Kepulauan Riau mencapai 2,7 juta kunjungan. Target itu sebagian besar bertumpu pada wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang selama ini mendominasi kunjungan.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan kenaikan biaya tambahan pada tiket feri bukan kebijakan permanen. Pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk menelusuri penyebabnya.

“Dari hasil koordinasi kami, kenaikan ini semata-mata karena harga minyak yang meningkat. Mungkin dipengaruhi situasi konflik di Timur Tengah. Namun kondisi ini tidak permanen dan bisa berubah sewaktu-waktu,” kata Ardiwinata.

Ia menjelaskan bahwa harga tiket kapal tidak hanya ditentukan oleh biaya bahan bakar. Komponen lain seperti gaji pekerja, biaya operasional, dan biaya sandar kapal di pelabuhan juga ikut mempengaruhi.

“Komponen tiket itu banyak, bukan hanya minyak. Ada juga biaya operasional lain seperti gaji pekerja, biaya tambat kapal, dan sebagainya,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap berharap sektor pariwisata Batam mampu bertahan menghadapi gejolak global. Menurut Ardiwinata, Batam terus berupaya memperkuat tiga unsur utama pariwisata: aksesibilitas, amenitas, dan atraksi.

“Kami terus memperkuat semuanya agar Batam tetap menarik bagi wisatawan,” katanya.

Di sisi lain, pelaku industri menilai yang paling penting saat ini adalah menjaga stabilitas ekosistem pariwisata. Surya Wijaya menyebut ekosistem itu mencakup integrasi antara atraksi wisata, akomodasi, transportasi, layanan pendukung, serta keterlibatan masyarakat lokal.

“Ekosistem pariwisata adalah integrasi antara atraksi, akomodasi, transportasi, layanan pendukung dan masyarakat lokal yang didukung pemerintah dan swasta,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan bahwa beberapa unsur dalam ekosistem tersebut belum berjalan optimal. Jika tekanan ekonomi global terus berlanjut, sektor pariwisata perbatasan bisa menjadi salah satu yang paling cepat merasakan dampaknya.

Baca Juga: Harga Tiket Feri Batam-Singapura Turun, Berlaku Mulai Hari Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait