Batam (gokepri.com) – Penduduk di sejumlah kota/kabupaten di Kepri menderita karena banjir setelah hujan sejak awal tahun 2021. Di Batam, hujan atau kemarau sama-sama menyimpan nestapa.
Tanah longsor, rumah dan jalan-jalan kebanjiran hingga pohon tumbang terjadi di Kota Batam dua hari terakhir. Pas hari pertama 2021, sebuah kapal tongkang hanyut dari labuh jangkar hingga menabrak rumah di pesisir Tanjunguma.
Lalu sembilan rumah ambruk dan 15 rumah lainnya mengalami rusak berat diterjang gelombang pasang di Kelurahan Batumerah, Batuampar, Jumat (1/1/2021). Korban akan diberikan bantuan makanan.
“Pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meringankan beban warga,” kata Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad saat mengunjungi korban gelombang pasang di Batam, Sabtu.
Akses jalan juga macet karena terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa.
Jalan utama yang terendam di antaranya Jalan Jenderal SUdirman dan Jalan Yos Sudarso yang menghubungkan Pelabuhan Batuampar dan Bandara Hang Nadim. Lalu depan Gogo Bengkong, Simpang Bandara, Bida Asri 2, dan Simpang Kabil.
Petugas kepolisian yang berjaga melarang mobil kecil melintas pada Sabtu, hanya kendaraan besar saja yang boleh satu-satu secara bergantian.

Melihat kondisi itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, menyatakan akan melebarkan drainase di dua jalan utama yang banjir.
“Setelah kami cek, drainasenya tidak mampu menampung volume air,” kata Rudi saat meninjau lokasi banjir di Simpang Baloi, Lubukbaja.
Di Kampung Bunguran, Kecamatan Batuaji, Pemko Batam mencatat sedikitnya 45 keluarga atau sekitar 150 jiwa terdampak banjir. Warga dievakuasi ke Posyandu Sakinah di Kelurahan Buliang. pemerintah membangun dapur umum, mani cuci kakus dan fasilitas lain yang dibutuhkan warga.
Wakil Wali Kota ingin memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Ia meminta pengurus RT dan Camat mengkoordinasikan apa saja yang masih harus dilengkapi.
Dalam kesempatan itu, ia mengatakan pemerintah akan mengupayakan untuk mengantisipasi banjir di kemudian hari dengan mengeruk sungai yang semakin dalam dan sempit.
“Besok kita datangkan alat berat mengeruk sungai yang ada agar tidak meluap lagi,” kata dia.
Seorang korban banjir, Boru Sibarani, menyatakan senang dengan perhatian pemerintah. Ia berharap pemerintah memberikan solusi agar musibah banjir tidak terjadi lagi.
“Kami mohon supaya ada jalan keluar bagi kampung kami agar tidak lagi banjir,” katanya.
Gubernur Kepri Isdianto pun meninjau langsung warga yang menjadi korban bencana alam di dua tempat, yakni Tanjung Uma dan Batu Merah, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Sabtu, (2/1/2021). Saat itu, Isdianto turun langsung hanya ditemani ajudan, melihat satu per satu rumah yang hancur tak tersisa.
Isdianto langsung meminta Ketua RW untuk mendata apa saja yang menjadi kerugian korban. Sedangkan di Batu Merah, Isdianto meninjau sebanyak 23 rumah rusak berat tersapu gelombang kuat.
Isdianto mengajak masyarakat Kepri untuk bersabar dan banyak berdoa dengan musibah yang menimpa hampir sebagian wilayah Provinsi Kepri. “Musibah ini adalah ujian untuk kita bersama di awal tahun 2021. Bersabar dan selalu berdoa agar musibah ini segera berlalu,” kata Isdianto.
Hujan atau kemarau, bagi penduduk Batam sama-sama menyimpan derita. Pada musim kemarau, air kering.
Pengelola air sebelumnya, PT Adhya Tirta Batam biasanya menerapkan rationing atau penjatahan air bersih ke pelanggan hingga beberapa pekan sambil menunggu hujan turun. Tujuannya berhemat air karena Batam hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di waduk-waduk.
Bintan dan Tanjungpinang
Nestapa banjir juga dialami penduduk Tanjungpinang dan Bintan.
Sebanyak delapan rumah warga di Perumahan Alam Tirta Lestari Kota Tanjungpinang, terkena longsor setelah daerah setempat diguyur hujan.
Seorang tokoh pemuda setempat, Said Chandra mengatakan dua dari delapan rumah tersebut rusak parah di mana di bagian belakang roboh karena tertimbun tanah bercampur batu yang longsor.
“Sementara enam unit rumah lainnya hanya tertimbun longsor setinggi jendela rumah, namun tidak ada yang roboh,” katanya.
Berdasarkan data Basarnas Tanjungpinang, setidaknya 155 warga dievakusi dari rumah mereka ke tempat pengungsian karena terdampak banjir setinggi lutut hingga dada orang dewasa tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Riau memberikan penanganan terhadap 400 korban banjir di kawasan Kijang dan Tanjunguban, Kabupaten Bintan.
“Jumlah korban di Bintan kemungkinan lebih dari 400 orang. Kami belum mendata di Kecamatan Gunung Kijang maupun Telok Sebong,” kata Kepala BPBD Kepri Budiharto di Kabupaten Bintan, Sabtu.
Pihaknya sudah memberi dukungan berupa bantuan untuk korban banjir di Kijang dan Tanjunguban, antara lain tenda yang dibangun di depan SMPN 1 Kijang dan dapur umum.
Ia mengatakan akses jalan menuju Kijang, Bintan cukup sulit, karena sejumlah ruas jalan penghubung banjir.
Di tengah perjalanan di kawasan perkebunan sawit milik PT Tirta Madu, petugas BPBD Kepri menemukan tiga mobil terendam banjir.
“Mobil-mobil itu hanya terlihat atapnya. Kami membantu mengeluarkan mobil tersebut dari kawasan banjir,” katanya.
Di kawasan Gesek dan Kawal, rumah warga tergenang air dan bahkan sejumlah rumah makan di kawasan lama di Gesek yang terkenal banyak pedagang nasi lemak itu ketinggian air melebih 1,5 meter.
Banjir di sejumlah kawasan di Bintan mulai surut seiring dengan hujan yang mulai mereda. Jalan Raya Tanjunguban di KM 14, depan Perumahan Permata Galaxi contohnya, sudah dapat dilalui.
Di jalan lainnya, seperti Jalan Aisyah Sulaiman arah Dompak juga dapat dilalui kendaraan.
Akses jalan KM 12, dekat Hotel Aston masih ditutup hingga sore. Petugas BPBD Kepri, BPBD Tanjungpinang, pihak kepolisian, TNI dan warga masih berupaya menyingkirkan air yang menggenangi jalan.
Namun akses jalan KM 18 menuju Kijang, Bintan masih terendam air. Ratusan kendaraan terpaksa putar balik menghindari banjir.
(Can/ard/zak/eri/ant)
|Baca Juga: Kepala BP Batam Tinjau Rumah Warga yang Tertabrak Kapal Tongkang









