“Makan dan Ngopi Dahulu, Bang…!”

Fery Heriyanto. (foto: gokepri.com)

Cerpen: Fery Heriyanto

Sejak pandemi melanda negeri ini, lelaki 40 tahunan itu seperti hilang dari dunia ngopi-ngopi di kota kami. Sebelumnya, dia cukup familiar di tengah kawan-kawan. Dahulu, hampir setiap hari dia terlihat ngopi dan makan bareng sama teman-teman seprofesi maupun dengan relasi. Namun, sejak beberapa waktu terakhir, dia jarang hadir. Jangankan untuk muncul, tanda-tanda dia akan ngumpul pun tak ada. Banyak yang bertanya-tanya, “Kemana dia?”

Menghilangnya dia dari dunia ngopi-ngopi di tengah kawan-kawan, menjadi tanda tanya besar. Tapi tak ada yang tahu keberadaannya. Bahkan ada yang mengatakan, Bung Utam – sapaan akrab kami pada dia – sudah pindah ke kota lain.

“O, Bung Utam sudah pindah,” ucap salah seorang teman suatu hari.
“Info dari mana?” tanya yang lain.
“Postingan di medsosnya dua tahun lalu, dia mau menjual rumahnya,” balas teman tersebut.
“Pindah kemana beliau?”
“Entah,” timpalnya singkat.

Tapi, ada juga seorang kawan mengatakan dia sempat berpapasan dengan Bung Utam di jalan.

“Sekitar setahun lalu, aku melihat beliau dengan motor antiknya di simpang pusat kota,” ucap teman yang berkaca mata itu.
“Kalian teguran?”
“Tak…Kami berlawanan arah…”
“Berarti beliau masih disini. Tapi, kok jarang ngumpul dengan kita?” ungkap yang lain.
Sebagian mereka mengangkat bahu dan alis. Menghilangnya Bung Utam telah menjadi pembicaraan kawan-kawannya.

**

Di tengah tanda tanya menyepinya Bung Utam, tiba-tiba dia kembali hadir. Senyuman, gestur tubuh, dan sapaanya tidak berubah. Genggaman salamnya juga masih seperti dulu. Hangat dan akrab! Banyak yang kaget saat dia hadir ngopi.
“Hei, Bung, kemana saja?”
“Iya, kami sangka Bung sudah tidak disini lagi”
“Tak ingat kami lagi, ya?”
“Lama menghilang ya…?”
“Sudah kaya Bung sekarang, sampai tidak mau lagi ngopi dengan kami?”

Bung Utam hanya membalas dengan senyuman pertanyaan-pertanyaan itu.

“Awak tak kemana-mana. Biasa, lagi menepi sekejap,” balasnya sambil memesan kopi kesukaanya.
“Banyak yang kehilangan, Bung,” kata teman yang bertubuh gemuk.
“Ya, ada yang bilang Bung sudah pindah kota. Kabarnya rumah Bung sudah dijual, ya?”
“Iya, banyak juga yang kangen joke-joke ringan, Bung,” kata yang lain sambil menepuk pundaknya.

Bung Utam kembali tersenyum.

“Awak lagi restart aktifitas…Alhamdulillah, kini sudah berjalan pelan,” ucapnya sambil mengaduk kopi pesanannya.

Di tengah-tengah hangatnya pembicaraan mereka, tiba-tiba datang pengamen. Dengan cepat Bung Utam mengeluarkan uang dan memasukan ke dalam plastik kecil di ujung gitar si pengamen. Sebelum si pengamen beranjak, Bung Utam langsung menawarkan makan dan kopi pada pengamen tersebut.

“Bang, pesan makan dan kopinya,” ucapnya. Si pengamen tampak bingung dengan tawaran itu.
“Udah, pesan aja, nanti awak yang bayar,” ucapnya.

Mendapat tawaran itu, si pengamen hanya mengangguk dan memilih duduk di meja sebelah Bung Utam dan kawan-kawanya itu. Bung Utam pun langsung memanggil pelayan.

“Kak, bantu berikan pesanan makan dan kopi abang kita ini ya,” ucap Bung Utam menunjuk si pengamen itu. Sikap Bung Utam membuat sebagian temannya heran. Namun, dia tetap santai dan melanjutkan obrolan mereka. Saat mereka akan bubar, Bung Utam langsung inisiatif ke kasir membayar semua minuman dan makanan yang mereka pesan termasuk si pengamen tersebut.

**

Sejak pertemuan tersebut, Bung Utam mulai sering hadir acara ngopi-ngopi. Setiap kali akan bubar, Bung Utam selalu menjadi orang yang pertama membayar minuman dan cemilan mereka ke kasir. Sekali, dua kali, hal itu masih bisa dimaklumi oleh teman-temannya. Tapi, lama kelamaan, ada juga yang merasa tak enak hati.

Agar seimbang, ada diantara mereka yang sudah membayar dahulu minuman pesanan mereka sebelum Bung Utam ke kasir. Yang membuat kawan-kawannya agak merasakan perbedaan lelaki itu saat ini, ketika ada pengamen, atau orang yang menawarkan kerupuk, atau yang menawarkan kaca mata, dan lainnya, dia selalu menawarkan makan dan ngopi. Bahkan dalam sekali ngopi, lebih dari dua pedagang keliling yang ditawarinya makan dan ngopi.

“Bang, makan dan ngopi dahulu, Bang,” ucap Bung Utam kepada orang-orang tersebut.
“Santai saja, Bang. Pesan makan dan kopinya,” ujarnya.

Sikap yang ditunjukan Bung Utam lama kelamaan menjadi perhatian kawan-kawannya. Tapi, tak ada satu pun yang berani bertanya. Bung Utam tetap dengan gayanya, ceria, akrab, dan hangat.

Pernah didengar cerita dari seorang kawan, suatu malam, saat mereka ngopi, ada sembilan orang yang terdiri dari pengamen, orang jualan kacang, dan kerupuk, ditawari Bung Utam makan malam saat itu.

“Bung Utam tetap santai. Tak ada tampak beban saat dia tawari orang-orang itu makan. Malah wajahnya makin cerah. Bahkan ada yang diajaknya duduk di sampingnya,” terang seorang kawan.

Sikap yang ditunjukan Bung Utam makin menjadi tanya besar di kalangan mereka.

“Ada apa dengan Bung Utam? Dahulu tak pernah beliau menawari orang lain makan dan ngopi. Tapi kini…,” ujar salah seorang dari mereka.
“Mungkin Bung Utam lagi banyak rezeki.”
“Apa usahanya sekarang?”
“Apa dia punya nazar?”
“Ah, jangan pikirkanlah, toh, dia happy saja,” ucap yang lain.

Atas sikapnya itu, sudah banyak pula pengamen atau penjual keliling yang kenal dengan Bung Utam. Setiap kali jumpa, sapaan pertama yang disampaikan, “Ayok, makan dan ngopi dahulu.” Antara Bung Utam dengan mereka itu kian akrab. Bahkan, ada juga yang akan pamit, mau mencium tangan Bung Utam. Dengan cepat lelaki itu menepiskan tangannya.

**

Suatu malam akhir pekan, Bung Utam ngopi bersama sejumlah kawan-kawannya di tempat biasa. Saat itu mereka ngobrol santai sambil menyeruput minuman dan menghisap rokoknya masing-masing. Tanpa, direncana, tiba-tiba seorang temannya bertanya.

“Sepertinya lancar usaha, Bung saat ini?”
“Alhamdulillah, pelan-pelan….” jawab Bung Utam.
“Bagilah resepnya,” timpal yang lain berseloroh.
“Tak ada resep. Tak ada rahasia. Mengalir saja….”
“Kemarin itu, lama juga Bung menepi ya?” tanya yang lain.
“Kemana saja Bung pergi?” tanya yang berambut keriting.

Bung Utam terdiam sejenak. Dia tampak menghisap dalam-dalam asap rokoknya dan menatap kedepan.

“Ya, beberapa waktu pasca pandemi, kondisi finansial kami agak terganggu. Untuk operasional harian dan bulanan, kami harus ketat. Tak jarang kami kekurangan,” ucapnya dengan nada agak serius.
“Itulah sebabnya awak jarang gabung ngopi. Awak kadang malu ditraktir terus. Biasanya awak yang sesekali traktir kawan-kawan. Tapi saat itu belum bisa,” lanjutnya.
“Awak kadang tak enak hati belum bisa berbagi,” ucapnya lagi.
“Kalaupun ngopi, paling awak sendiri. Dengan para pengamen dan penjual keliling pun awak belum bisa berbagi masa itu,” lanjutnya.
“Lalu, awak bertekad, suatu hari nanti, awak harus lampiaskan dendam dengan berbagi walaupun hanya dengan sepiring nasi dan segelas kopi pada orang-orang,” ucapnya kemudian.
“Dan, alhamdulillah, kini ada sedikit rezeki, awak bisa lampiaskan dendam itu,” ucapnya lagi.
Semua terdiam mendengar penjelasan Bung Utam.
Di tengah suasana itu, tiba-tiba seorang pengamen datang. Sembari memberi uang, Bung Utam bercakap, “Bang, makan dan ngopi dahulu, Bang…” ***

Perumahan Cendana Batam, 18 November 2025

*) Fery Heriyanto, Redaktur gokepri.com, alumni Fakultas Sastra (Budaya) USU Medan

 

Pos terkait