Mampukah Batam Memimpin Pasar Solder Asia

arsari tambang
Hashim Djojohadikusumo, komisaris utama Arsari Tambang saat groundbreaking pabrik tin solder di Kabil, Batam, 10 Mei. Foto: gokepri/Muhammad Ravi

JAKARTA (gokepri) – Pabrik solder berbahan timah milik PT Arsari Tambang di Batam siap beroperasi pertengahan 2025. Ditargetkan produksi 2.000 ton per tahun, pabrik ini membidik omzet triliunan rupiah dari pasar elektronik domestik dan ekspor.

PT Arsari Tambang, melalui anak usahanya PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania), akan segera meresmikan pabrik pembuat solder berbahan timah di Batam pada Juli 2025. Pabrik ini diharapkan menjadi penopang industri elektronik, baik di pasar domestik maupun global.

Presiden Direktur Arsari Tambang, Aryo P. S. Djojohadikusumo, mengatakan pabrik tersebut akan memproduksi 2.000 ton tin solder per tahun. “2.000 ton per tahun artinya omzet yang kami targetkan minimum Rp1 triliun,” kata Aryo saat ditemui di agenda Indonesia Critical Minerals Conference, Rabu (4/6/2025). Ia menambahkan, omzet tersebut akan didapat dari penjualan ekspor dan sejumlah kontrak pembelian dari pabrik elektronik di dalam negeri.

Aryo mengaku tak menyangka permintaan tin solder oleh pabrikan elektronik di Batam cukup besar. Salah satu yang telah menandatangani kontrak adalah pabrik Schneider Electric Indonesia, dan satu perusahaan lain masih dalam proses. Selain membidik pasar dalam negeri, perusahaan yang dibangun oleh Hashim Djojohadikusumo itu juga telah menerima permintaan dari China.

“Kami sedang lagi mem- finalize beberapa kontrak pembelian, off-take kontrak dengan perusahaan elektronik seperti Schneider, dan juga yang lain-lain. Sehingga ternyata pasar dalam negeri saja makin besar,” tuturnya.

Lebih lanjut, Aryo juga menerangkan bahwa di lokasi pabrik tin solder milik Stania juga terdapat beberapa potensi pasar, seperti pabrik baru vendor Apple yang membangun AirTag di lokasi yang berdekatan. Kendati demikian, dia belum bisa memberikan informasi lanjutan terkait potensi kerja sama Arsari dengan pabrik vendor Apple tersebut.

“Di tempat pabrik kami bangun, pabrik tin solder, sudah ada banyak pabrik yang baru. Dan di sebelah pabrik kami, Apple akan menyelesaikan salah satu fasilitas pertama mereka di Indonesia sesuai dengan komitmen mereka kepada pemerintah,” jelasnya.

Di sisi lain, Aryo mengaku bangga lantaran pabrik Arsari dapat dibangun dalam waktu 6-7 bulan. Menurut dia, Indonesia berhasil menunjukkan bahwa membangun pabrik di Tanah Air bisa cepat, seperti di Vietnam maupun China.

“Indonesia harus bangga. Kita ada free trade zone, free tax zone, special economic zone, KEK, yang tidak kalah dengan negara manapun di dunia. Itulah kenapa pembangunan pabrik solder ini yang pertama. Insya Allah kita akan ekspansi besar-besaran dengan mitra-mitra kita dari luar negeri,” jelasnya.

Sebagai informasi, Hashim Djojohadikusumo membangun PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania) dengan investasi awal sebesar Rp400 miliar. Perusahaan ini menargetkan produksi solder 2.000 ton per tahun. Stania merupakan anak perusahaan dari Arsari Tambang (Arsari Group).

“Target fase pertama dari produksi 2.000 ton solder, yakni meraup omset sebesar Rp1,2 triliun,” kata Hashim usai peresmian Stania di Kawasan Industri PT Tunas Prima di Kabil, Batam, Jumat (10/5/2024). Solder buatan Stania berbahan dasar timah, mulai dari solder wire hingga solder paste, dengan timah yang berasal dari Pulau Bangka dan dikelola oleh Arsari Tambang. BISNIS.COM

Baca Juga: Mengapa Arsari Tambang Pilih Bangun Pabrik Tin Solder di Batam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait