Batam (gokepri) – Perusahaan tambang milik Hashim Djojohadikusumo membangun pabrik tin solder di Batam dengan investasi awal Rp400 miliar. Mengincar ekspor pasar global demi memasok kebutuhan industri elektronik sekaligus menangkap permintaan ekspansi pabrik China di Asia Tenggara.
Pabrik tin solder milik PT Arsari Tambang dibangun di Kawasan Industri Tunas Prima di Kabil, Batam. Groundbreaking atau peletakan batu pertama dihadiri Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, Walikota Batam-Kepala BP Batam Muhammad Rudi hingga Kapolda Kepri Irjen Pol Fitri Halimanysah.
Baca Juga:
- Hashim Djojohadikusumo Bangun Pabrik Timah Solder di Batam
- PT Timah Bantu Bangun Puluhan Masjid dan Musala di Kepri Selama 2023
Arsari Tambang adalah bendera perusahaan Hashim Djojohadikusumo, pengusaha kelas kakap sekaligus adik dari Presiden terpilih Prabowo Subianto. Pabrik ini dioperasikan PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania), anak usaha Arsari.
Dalam tahap pertama pembangunan pabrik tin solder ini, Stania akan mengucurkan total modal awal senilai Rp400 miliar dengan rincian Rp100 miliar untuk pembangunan pabrik dan Rp300 miliar untuk modal kerja. Selain itu, perusahaan juga akan membutuhkan tenaga kerja sebanyak 80 karyawan tetap dan 240 karyawan kontrak.
Adapun, target produksi solder yang ditetapkan PT Stania sebesar 2.000 ton per tahun. Hashim, yang merupakan komisaris utama Arsari Group, mengatakan target fase pertama dari produksi 2.000 ton solder, yakni meraup omset sebesar Rp1,2 triliun.
Solder buatan Stania berbahan dasar timah, mulai dari solder wire hingga solder paste. Timahnya berasal dari Pulau Bangka, yang dikelola oleh Arsari Tambang. Pabrik Stania akan menggunakan proses produksi, sistem, dan bahan baku yang rendah emisi karbon, dan menerapkan standar internasional ISO 9001, 14001, 50001, dan 45001.
Selain itu, Stania mendapat target untuk merebut pasar ekspor solder di Taiwan, India, Amerika dan China.
“Kami berharap sesuai pengembangan pasar bahwa soldier ini diperlukan untuk produksi alat-alat elektronik, seperti mobil listrik, smartphone, televisi, radio dan alat elektronik lainnya,” kata Hashim usai peresmian Stania di Kawasan Industri PT Tunas Prima di Kabil, Batam, Jumat (10/5/2024).
Hashim menjelaskan alasan pemilihan Batam sebagai lokasi pembangunan Stania, karena pertimbangan dinamika ekonomi di Asia Tenggara.
“Banyak pabrik dari China pindah ke Vietnam, Malaysia dan Thailand. Jadi ini pertimbangan positif untuk Indonesia, karena pabrik-pabrik tersebut manufaktur elektronik. Jadi butuh solder untuk pengikat lem, komponen dan sebagainya,” ungkapnya.
Dia juga menjelaskan untuk saat ini jumlah tenaga kerja di Stania berjumlah 320 orang, yang terdiri dari 80 karyawan tetap dan 240 karyawan kontrak.
Di tempat yang sama Komisaris Utama Stania, Aryo Djojohadikusumo mengatakan Batam menjadi pilihan utama karena memiliki banyak industri manufaktur elektronik, seperti Infineon, Pegatron, dan lainnya.
“Banyak yang tak tahu kalau Iphone juga diproduksi di Batam. Ditambah lagi pemerintah pusat dan daerah serta BP Batam sediakan fasilitas fiskal, bebas bea, jadi penambahan kapasitas sangat mudah. Karena faktor-faktor tersebut, pasti bisa bersaing dengan para kompetitor,” jelasnya.
Menurut Aryo, saingan terbesar yakni India dan Malaysia yang sekarang merupakan eksportir solder terbesar di dunia. Stania ingin rebut pasar itu karena timah di Indonesia harganya lebih kompetitif.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad melihat kehadiran Stania merupakan tanda bahwa iklim investasi di Batam semakin kondusif.
“Kepulauan Riau (Kepri) menjadi poin penting dalam peta investasi regional. Dukungan hilirisasi mineral timah menjadi langkah awal untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan ciptakan lapangan kerja baru,” ungkapnya.
Ansar mengatakan, dengan memiliki berbagai kebijakan kawasan bebas dan perdagangan, seperti Free Trade Zone (FTZ) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kepri semakin menarik minat investor sehingga bisa mengangkat potensi ekonomi lokal.
Selain itu, Kepri memiliki letak yang startegis di Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Hal ini juga menjadi alasan dan poin penting bagi investor menanamkan modalnya.
Penulis: Muhammad Ravi
Cek Berita dan Artikel yang lain diĀ Google News









